Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

5 Keputusan Wasit Paling Disorot di Piala Dunia 2026, Lionel Messi Lolos Kartu Merah

Tina Mamangkey • Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37 WIB
5 Keputusan VAR Paling Kontroversial di Piala Dunia 2026, Messi hingga Argentina Jadi Sorotan. (Instagram @afaseleccion)
5 Keputusan VAR Paling Kontroversial di Piala Dunia 2026, Messi hingga Argentina Jadi Sorotan. (Instagram @afaseleccion)

 

RADARPAPUA - Teknologi Video Assistant Referee (VAR) kembali menjadi pusat perhatian pada gelaran Piala Dunia 2026. Meski FIFA terus memperluas penggunaan teknologi tersebut untuk membantu wasit mengambil keputusan lebih akurat, sejumlah keputusan kontroversial tetap mewarnai perjalanan turnamen.

Piala Dunia 2026 menjadi edisi ketiga yang menggunakan VAR setelah teknologi tersebut pertama kali diterapkan pada Piala Dunia 2018. Tidak hanya digunakan untuk mengecek gol, penalti, dan kartu merah, FIFA juga memperluas fungsi VAR untuk membantu memperbaiki kesalahan identitas pemain saat pemberian kartu kuning.

Namun, kehadiran teknologi canggih tersebut belum sepenuhnya menghapus perdebatan. Beberapa keputusan memang dianggap sesuai dengan aturan Laws of the Game, tetapi sejumlah insiden tetap menuai kritik karena dinilai merugikan salah satu tim.

Berikut lima keputusan VAR paling kontroversial yang menjadi sorotan sepanjang Piala Dunia 2026.

Gol Mesir Dianulir, Argentina Tetap Raih Kemenangan

Salah satu kontroversi besar terjadi saat Argentina menghadapi Mesir pada fase grup. Dalam pertandingan tersebut, Mesir sempat mencetak gol kedua melalui Mostafa Zico yang membuat mereka berada dalam posisi menguntungkan.

Namun, gol tersebut akhirnya dianulir setelah VAR melakukan pemeriksaan terhadap proses serangan. Wasit menilai terjadi pelanggaran terhadap pemain Argentina, Lisandro Martinez, sebelum gol tercipta.

Keputusan tersebut memicu kekecewaan dari kubu Mesir karena pelanggaran dianggap terjadi cukup jauh dari momen terciptanya gol. Mereka menilai VAR terlalu jauh meninjau rangkaian permainan sebelum gol, sementara beberapa insiden lain yang berpotensi menghasilkan penalti justru tidak diperiksa dengan cara yang sama.

Federasi Sepak Bola Mesir kemudian melayangkan protes resmi kepada FIFA. Pelatih Hossam Hassan juga mempertanyakan kepemimpinan wasit yang dianggap lebih banyak memberikan keuntungan bagi Argentina dalam pertandingan tersebut.

Gol Sundulan Jonathan Tah Tidak Diakui

Kontroversi VAR berikutnya muncul dalam pertandingan Jerman melawan Paraguay. Jonathan Tah sempat mencetak gol melalui sundulan yang membuat Jerman merasa telah unggul 2-1.

Akan tetapi, VAR meminta wasit melakukan pemeriksaan ulang terhadap proses terjadinya gol tersebut. Setelah melihat tayangan ulang, wasit memutuskan membatalkan gol karena Waldemar Anton dianggap melakukan pelanggaran terhadap kiper Paraguay, Orlando Gill, saat situasi sepak pojok.

Keputusan itu langsung menuai perdebatan. Sejumlah pengamat menilai kontak yang terjadi terlalu minim untuk dianggap sebagai pelanggaran terhadap penjaga gawang.

Selain itu, Orlando Gill juga dinilai sudah kembali berada dalam posisi siap ketika Jonathan Tah melakukan sundulan. Karena itu, banyak pihak beranggapan gol Jerman seharusnya tetap disahkan.

Offside Kroasia yang Sulit Diterima

Laga Portugal kontra Kroasia pada fase gugur juga menghadirkan keputusan VAR yang menjadi bahan pembicaraan. Kroasia sempat mencetak gol penyama kedudukan pada akhir babak tambahan, tetapi gol tersebut akhirnya dibatalkan.

Teknologi offside semi-otomatis mendeteksi Igor Matanovic sempat menyentuh bola sebelum diteruskan kepada Mario Pasalic. Masalah muncul karena Pasalic berada dalam posisi offside sebelum memberikan umpan yang berujung pada gol Josko Gvardiol.

Perdebatan terjadi karena bola sebelumnya sempat mengenai pemain bertahan Portugal. Sebagian pihak menilai sentuhan tersebut seharusnya mengubah fase permainan sehingga posisi offside tidak lagi berlaku.

Meski demikian, wasit tetap berpegang pada aturan IFAB yang menyebutkan bahwa sentuhan pemain bertahan harus dilakukan secara sengaja agar dapat menghilangkan status offside. Karena sentuhan tersebut dianggap tidak disengaja, gol Kroasia tetap tidak disahkan.

Penalti Kylian Mbappe yang Tidak Diberikan

Prancis juga menjadi salah satu tim yang mempertanyakan keputusan VAR ketika menghadapi Senegal. Insiden terjadi saat Kylian Mbappe terjatuh di dalam kotak penalti setelah mendapat tekel dari Sadio Mane.

Wasit awalnya tidak memberikan penalti dan hanya memberikan keputusan tendangan sudut. Namun, VAR kemudian meminta wasit melihat ulang kejadian tersebut melalui monitor di pinggir lapangan.

Dari tayangan ulang terlihat Mane tidak mengenai bola saat melakukan tekel. Meski demikian, setelah melakukan pemeriksaan, wasit tetap mempertahankan keputusan awal dengan alasan Mbappe dianggap lebih dahulu memulai kontak.

Keputusan tersebut semakin menjadi sorotan karena sepak pojok yang sebelumnya diberikan juga akhirnya dibatalkan. Prancis pun tidak mendapatkan penalti maupun tendangan sudut, sementara Senegal justru memperoleh tendangan gawang.

Situasi itu membuat banyak pihak mempertanyakan konsistensi VAR dalam menentukan sebuah pelanggaran, khususnya pada kejadian yang terjadi di area penalti.

Lionel Messi Lolos dari Kartu Merah

Insiden paling ramai diperbincangkan terjadi ketika Argentina menghadapi Aljazair. Lionel Messi tampil gemilang dengan mencetak hat-trick, tetapi pertandingan tersebut juga menyisakan kontroversi terkait keputusan wasit.

Dalam sebuah duel, kaki Messi terlihat mengenai bagian betis Aissa Mandi. Tayangan ulang menunjukkan adanya kontak keras yang membuat sejumlah pengamat menilai tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai serious foul play dan layak mendapatkan kartu merah langsung.

Namun, VAR tidak meminta wasit melakukan pemeriksaan ulang melalui monitor. Wasit hanya memberikan tendangan bebas tanpa memberikan hukuman disiplin tambahan kepada Messi.

Keputusan tersebut langsung menjadi perdebatan besar. Sebagian pengamat menilai Messi seharusnya mendapatkan kartu merah, sedangkan pihak lain menganggap keputusan wasit masih berada dalam batas interpretasi sesuai Laws of the Game.

Perdebatan mengenai insiden tersebut terus berlanjut setelah pertandingan berakhir. Kasus Messi menjadi salah satu contoh bahwa meskipun teknologi VAR semakin berkembang, perbedaan penafsiran dalam sepak bola tetap sulit dihilangkan.

Piala Dunia 2026 kembali menunjukkan bahwa VAR memang mampu membantu mengurangi kesalahan wasit, tetapi teknologi tersebut belum sepenuhnya terbebas dari kontroversi. Keputusan akhir tetap berada pada interpretasi manusia, sehingga perdebatan mengenai momen-momen krusial masih menjadi bagian dari dinamika sepak bola modern.

Editor : Tina Mamangkey
Keputusan Wasit var Kartu Merah piala dunia 2026 Lionel Messi