RADARPAPUA - Pemilihan bahan bakar minyak (BBM) ternyata tidak cukup hanya berdasarkan anggapan bahwa semakin tinggi angka oktannya, semakin hemat pula konsumsi bahan bakar kendaraan. Efisiensi justru sangat berkaitan dengan kesesuaian bahan bakar terhadap karakteristik dan spesifikasi mesin.
Banyak pemilik kendaraan mengira penggunaan bensin dengan angka oktan atau Research Octane Number (RON) tinggi otomatis dapat mengurangi konsumsi BBM.
Anggapan tersebut memang bisa terjadi pada kondisi tertentu, tetapi tidak berlaku secara umum untuk seluruh kendaraan.
Kunci utamanya adalah menggunakan bahan bakar yang sesuai dengan rasio kompresi mesin. Ketika RON bahan bakar sesuai dengan kebutuhan mesin, proses pembakaran dapat berlangsung lebih optimal dan stabil. Kondisi tersebut berpotensi membuat penggunaan BBM menjadi lebih efisien.
Lantas, apakah bensin dengan RON tinggi benar-benar selalu lebih irit?
Mengenal RON dan Pengaruhnya pada Pembakaran Mesin
RON atau Research Octane Number merupakan angka yang menunjukkan kemampuan bahan bakar dalam menahan tekanan dan temperatur tinggi di dalam ruang bakar sebelum mengalami pembakaran akibat percikan api dari busi.
Semakin tinggi angka RON, semakin tinggi pula kemampuan bahan bakar dalam menghadapi tekanan kompresi.
Karakteristik ini penting terutama bagi mesin dengan rasio kompresi tinggi karena dapat membantu menjaga pembakaran tetap stabil sekaligus mengurangi risiko detonasi atau knocking yang biasa dikenal sebagai gejala mesin ngelitik.
Di Indonesia, tersedia berbagai jenis bensin dengan angka RON yang berbeda. Pilihannya mulai dari RON 89, RON 90 seperti Pertalite, RON 92 seperti Pertamax, hingga RON 95, RON 98, dan RON 100.
Baca Juga: Benarkah Bensin Dicampur Minyak Kayu Putih Bisa Lebih Irit? Simak Faktanya
Setiap jenis bahan bakar tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dan penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan mesin kendaraan.
Benarkah RON Tinggi Bisa Membuat BBM Lebih Irit?
Menggunakan bensin dengan angka oktan lebih tinggi memang dapat membantu meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar, tetapi manfaat tersebut tidak otomatis dirasakan oleh semua kendaraan.
Melansir dari Wahanahonda, bensin dengan angka oktan lebih tinggi memang dapat membuat konsumsi bahan bakar lebih hemat. Namun, hal tersebut hanya berlaku apabila jenis bahan bakar yang digunakan sesuai dengan rasio kompresi mesin kendaraan.
Pada kendaraan yang sejak awal dirancang untuk menggunakan BBM dengan RON tinggi, misalnya RON 92 atau RON 95, penggunaan bahan bakar yang sesuai dapat membuat proses pembakaran berlangsung lebih sempurna dan stabil.
Pembakaran yang lebih optimal memungkinkan mesin menghasilkan tenaga secara lebih efektif. Dengan demikian, mesin tidak harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan performa yang sama.
Efisiensi pembakaran tersebut kemudian dapat membantu mengurangi konsumsi BBM. Kendaraan pun berpotensi terasa lebih irit dibandingkan ketika menggunakan bahan bakar dengan angka oktan yang berada di bawah rekomendasi pabrikan.
Namun, hal ini bukan berarti penggunaan RON paling tinggi akan selalu menghasilkan penghematan bahan bakar.
Jika mesin sebenarnya tidak membutuhkan RON tersebut, kenaikan angka oktan tidak serta-merta membuat konsumsi BBM menjadi lebih hemat.
Mengapa RON Harus Disesuaikan dengan Rasio Kompresi?
Setiap kendaraan memiliki rancangan mesin dengan rasio kompresi yang berbeda. Rasio kompresi sendiri merupakan perbandingan volume ruang bakar ketika piston berada pada posisi tertentu sebelum dan sesudah melakukan langkah kompresi.
Semakin tinggi rasio kompresi, semakin besar pula tekanan yang diterima campuran bahan bakar di dalam ruang bakar.
Karena itu, mesin dengan tingkat kompresi tinggi membutuhkan bahan bakar yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap tekanan dan temperatur agar pembakaran tidak terjadi sebelum waktunya.
Penggunaan bahan bakar dengan RON yang terlalu rendah pada mesin berkompresi tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya knocking atau detonasi. Selain mengganggu kenyamanan berkendara, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kinerja mesin.
Sebaliknya, kendaraan dengan rasio kompresi rendah pada dasarnya tidak selalu membutuhkan bensin dengan angka RON tinggi. Karena itu, memilih BBM sebaiknya tidak berpatokan pada angka oktan tertinggi, melainkan pada spesifikasi yang telah ditentukan untuk mesin kendaraan.
Rekomendasi mengenai jenis dan angka RON bahan bakar biasanya dapat ditemukan dalam buku manual kendaraan atau petunjuk resmi yang dikeluarkan oleh produsen.
Panduan Umum Memilih RON Berdasarkan Rasio Kompresi
Sebagai gambaran awal, kebutuhan RON dapat dikaitkan dengan rasio kompresi mesin. Berikut panduan umumnya:
- Rasio kompresi 9:1 hingga 10:1 umumnya cocok menggunakan RON 90
- Rasio kompresi 10:1 hingga 11:1 umumnya direkomendasikan menggunakan RON 92
- Rasio kompresi di atas 11:1 lebih sesuai menggunakan RON 95 atau lebih tinggi
Meski demikian, angka tersebut bukan aturan mutlak untuk semua kendaraan. Setiap produsen dapat merancang mesin dengan karakteristik, teknologi, dan kebutuhan bahan bakar yang berbeda.
Karena itu, rekomendasi yang tercantum dalam buku manual kendaraan atau informasi resmi dari pabrikan tetap harus menjadi acuan utama. Mengikuti rekomendasi tersebut juga membantu memastikan mesin bekerja sesuai dengan rancangan dan karakteristiknya.
Faktor Lain yang Menentukan Konsumsi BBM
Penggunaan RON yang sesuai memang penting, tetapi tingkat keiritan kendaraan tidak hanya ditentukan oleh jenis bahan bakar. Ada sejumlah faktor lain yang juga dapat memengaruhi konsumsi BBM dalam penggunaan sehari-hari, di antaranya:
- Kondisi dan perawatan mesin
Mesin yang terawat dapat bekerja lebih optimal. Sebaliknya, kondisi komponen yang bermasalah atau kurang perawatan dapat membuat konsumsi BBM meningkat. - Tekanan angin ban
Tekanan ban yang tidak sesuai dapat meningkatkan hambatan kendaraan saat melaju sehingga mesin membutuhkan tenaga lebih besar. - Beban kendaraan
Semakin berat beban yang dibawa, semakin besar pula tenaga yang dibutuhkan kendaraan untuk bergerak. Kondisi ini dapat berdampak pada konsumsi bahan bakar. - Gaya berkendara
Kebiasaan seperti sering melakukan akselerasi dan pengereman secara mendadak dapat membuat konsumsi BBM lebih boros. - Kondisi lalu lintas
Kemacetan dan kondisi kendaraan yang lebih sering berhenti serta kembali berjalan dapat meningkatkan penggunaan bahan bakar. - Penggunaan pendingin udara (AC)
Pengoperasian AC juga membutuhkan energi dari mesin sehingga dapat memengaruhi konsumsi BBM, terutama dalam kondisi tertentu. - Kualitas bahan bakar
Selain angka RON, kualitas bahan bakar juga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses pembakaran dan kinerja mesin.
Dengan demikian, anggapan bahwa bensin beroktan tinggi pasti membuat kendaraan lebih irit tidak sepenuhnya benar. RON tinggi akan memberikan manfaat optimal ketika memang sesuai dengan kebutuhan dan rasio kompresi mesin.
Jadi, daripada sekadar memilih BBM dengan angka RON paling tinggi, pemilik kendaraan sebaiknya mengikuti rekomendasi pabrikan.
Perawatan kendaraan, kondisi ban, beban, gaya berkendara, lalu lintas, penggunaan AC, serta kualitas bahan bakar juga perlu diperhatikan untuk mendapatkan konsumsi BBM yang lebih efisien. (*)
Editor : Tina Mamangkey