BBM Makin Menguras Kantong, Konversi Mobil ke Bahan Bakar Gas Bisa Jadi Solusi Hemat

Tina Mamangkey • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 08:57 WIB
Proses konversi mobil BBM ke BBG. (Istimewa)
Proses konversi mobil BBM ke BBG. (Istimewa)

 

RADARPAPUA - Kenaikan dan tingginya biaya bahan bakar membuat pengeluaran kendaraan menjadi salah satu pos yang cukup menguras kantong, terutama bagi pengemudi yang menggunakan mobil setiap hari. 

Kondisi ini membuat bahan bakar gas (BBG) mulai dipertimbangkan sebagai alternatif karena biaya penggunaannya berpotensi lebih rendah dibandingkan bensin.

Perbedaan biaya tersebut dapat terlihat dari perhitungan sederhana berdasarkan kebutuhan bahan bakar kendaraan. Dengan konsumsi sekitar 8 liter setara bensin (LSP) BBG setiap hari, satu kendaraan diperkirakan membutuhkan sekitar 2.400 LSP bahan bakar dalam satu tahun.

Apabila harga BBG diasumsikan sebesar Rp4.500 per liter, biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan mencapai sekitar Rp10,8 juta per tahun.

Sementara itu, dengan kebutuhan yang sama dan menggunakan BBM seharga Rp10.000 per liter, yang dalam perhitungan ini menggunakan asumsi Pertalite bersubsidi, biaya tahunannya mencapai sekitar Rp24 juta.

Artinya, terdapat potensi penghematan sekitar Rp13,2 juta per kendaraan setiap tahun apabila kebutuhan bahan bakar tersebut menggunakan BBG dibandingkan BBM bersubsidi.

Baca Juga: Apakah Benar Bensin RON Tinggi Bikin BBM Lebih Irit? Ini Penjelasan Lengkapnya

Selisih biaya yang cukup besar tersebut membuat opsi konversi kendaraan berbahan bakar bensin ke BBG mulai menarik perhatian. Pilihan ini dinilai semakin relevan bagi pemilik kendaraan dengan jarak tempuh tinggi, termasuk pengemudi taksi online yang menggunakan mobil sebagai sarana utama untuk mencari penghasilan.

Tak Perlu Beli Mobil Baru, Kendaraan Bisa Dikonversi

Peralihan dari bensin ke BBG tidak selalu berarti pemilik kendaraan harus mengganti mobil. Mobil yang sebelumnya menggunakan bensin dapat memanfaatkan gas bumi setelah dipasangi perangkat konversi atau kit BBG.

Meski demikian, keputusan untuk melakukan konversi tidak cukup hanya mempertimbangkan perbedaan harga bahan bakar. Ada sejumlah faktor lain yang perlu diperhatikan sebelum kendaraan dialihkan ke sistem BBG.

Ketersediaan stasiun atau tempat pengisian BBG, biaya pemasangan perangkat, kapasitas penyimpanan gas, hingga kebutuhan perawatan kendaraan menjadi bagian penting yang harus dihitung.

Faktor keselamatan juga tidak boleh diabaikan karena penggunaan BBG membutuhkan perangkat yang sesuai standar serta proses pemasangan yang tepat.

Direktur Utama Gagas Energi Indonesia Santiaji Gunawan mengatakan pemanfaatan BBG perlu didukung oleh aspek teknis dan layanan yang memadai agar program konversi dapat berjalan secara berkelanjutan.

Menurutnya, program tersebut dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk merasakan manfaat BBG, baik dari sisi efisiensi biaya maupun penggunaan sumber energi yang lebih bersih.

“Namun, agar pemanfaatannya dapat berkelanjutan, kami juga perlu memastikan adanya dukungan teknis, standar keselamatan, serta layanan yang memadai bagi para pengguna,” ungkap Santiaji saat memberi bantuan konversi BBG ke 75 mobil taksi online di Jakarta, Kamis (3/9).

Pengemudi Harian Paling Potensial Dapat Manfaat

Penggunaan BBG kemungkinan memberikan dampak penghematan yang berbeda bagi setiap pemilik kendaraan. Bagi pengemudi yang hanya menggunakan mobil sesekali, selisih biaya antara BBM dan BBG mungkin belum terasa besar.

Situasinya berbeda bagi kendaraan yang beroperasi hampir sepanjang hari. Mobil yang menempuh jarak jauh dan mengonsumsi bahan bakar dalam jumlah besar dapat mengumpulkan penghematan dari selisih harga setiap liter menjadi nilai yang cukup signifikan dalam jangka panjang.

Meski menawarkan potensi penghematan, biaya awal untuk melakukan konversi masih menjadi salah satu pertimbangan bagi sebagian pengemudi.

Baca Juga: Mulai 2 September, Harga Pertamax Green 95 Naik Rp2.550, Ini Daftar Harga BBM Terbarunya

Penanggung jawab Administrasi Lapangan Komunitas Mobil Gas (Komogas), Riko, mengatakan biaya pemasangan menjadi salah satu kendala yang membuat sebagian pengemudi belum beralih ke BBG.

“Bantuan konversi kit BBG secara gratis ini sangat berarti bagi para pengemudi online. Biaya pemasangan konverter secara mandiri cukup besar, sehingga program ini membuka kesempatan untuk beralih menggunakan BBG dengan lebih mudah,” ujarnya.

Riko menilai manfaat penggunaan BBG yang paling cepat dirasakan oleh pengemudi berasal dari sisi pengeluaran untuk bahan bakar. Dengan harga yang lebih rendah, biaya operasional kendaraan berpotensi ditekan.

“Keuntungan yang paling dirasakan tentu dari sisi ekonomi karena terdapat selisih biaya yang cukup besar antara penggunaan BBM dan BBG. Selain itu, pembakaran dengan BBG lebih bersih, sehingga dapat memberikan manfaat bagi penggunaan dan perawatan mesin,” pungkas Riko.

BBG Bukan Sekadar Soal Harga

Pertimbangan untuk beralih ke BBG bukan hanya berkaitan dengan biaya operasional. Penggunaan gas bumi juga disebut memiliki potensi menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bensin.

Berdasarkan proyeksi dalam program konversi tersebut, penggunaan BBG dengan jumlah energi yang setara diperkirakan menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂) sekitar 19 persen lebih rendah dibandingkan bensin bersubsidi.

Jika setiap kendaraan menggunakan sekitar 2.400 LSP per tahun, potensi pengurangan emisinya diperkirakan mencapai sekitar 0,97 ton CO₂ ekuivalen untuk setiap kendaraan.

Dengan kombinasi potensi penghematan biaya dan emisi yang lebih rendah, BBG dapat menjadi salah satu alternatif bagi pemilik kendaraan yang ingin mengurangi biaya operasional tanpa harus langsung membeli mobil baru atau beralih ke kendaraan listrik.

Program Konversi BBG Mulai Diperluas

Penggunaan BBG untuk sektor transportasi juga terus didorong melalui program konversi kendaraan. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menjalankan Program Bantuan Konversi BBG Kendaraan Tahun 2026 sebagai salah satu upaya memperluas pemanfaatan gas bumi.

Dalam program tersebut, sebanyak 75 kendaraan ditargetkan mengikuti proses konversi selama periode Agustus hingga September 2026.

Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan gas bumi terus dikembangkan sebagai salah satu pilihan energi alternatif untuk sektor transportasi.

Program konversi tersebut diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal sekaligus menggunakan BBG.

“PGN terus mendorong pemanfaatan gas bumi di berbagai sektor, termasuk transportasi. Melalui program konversi BBG ini, kami ingin membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal dan memanfaatkan gas bumi sebagai alternatif energi yang efisien dan lebih ramah lingkungan,” ujar Fajriyah dalam kesempatan yang sama.

Baca Juga: 7 Tips Hemat BBM agar Kendaraan Tetap Efisien dan Prima

Dengan potensi penghematan sekitar Rp13,2 juta per kendaraan per tahun berdasarkan asumsi harga dan konsumsi tersebut, konversi ke BBG menjadi pilihan yang menarik terutama bagi kendaraan dengan intensitas penggunaan tinggi.

Namun, sebelum melakukan konversi, pemilik kendaraan tetap perlu memperhitungkan biaya pemasangan, ketersediaan fasilitas pengisian, kapasitas penyimpanan, perawatan, serta standar keselamatan agar manfaat BBG dapat diperoleh secara optimal. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
kendaraan berbahan bakar gas Konversi BBM ke BBG bahan bakar gas mobil BBG BBM