RADARPAPUA - Sosok Connie Rahakundini Bakrie sedang menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat. Dia baru-baru ini mengungkap bahwa menurut informasi yang diterimanya, Prabowo Subianto hanya akan menjabat sebagai Presiden Indonesia selama dua tahun.
Sementara itu, tiga tahun sisanya akan dilanjutkan oleh Gibran Rakabuming Raka.
Connie, yang lahir di Bandung pada 3 November 1964, bukanlah nama yang asing dalam panggung publik.
Dia sering muncul sebagai narasumber di berbagai media massa, terutama dalam isu-isu pertahanan dan militer.
Lalu, siapakah sebenarnya Connie?
Connie adalah mantan istri Djaja Suparman, seorang mantan perwira tinggi TNI AD dengan pangkat Letnan Jenderal (Letjen).
Mantan suaminya pernah menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) dari 1999 hingga 2000, serta Pangdam Jaya pada masa reformasi (1998-1999), dan menduduki banyak jabatan strategis lainnya.
Ayah Connie, Bakrie Arbie, adalah seorang ahli nuklir asal Desa Yosonegoro, Limboto Barat, Gorontalo.
Sementara ibunya, Ani Sekarningsih, adalah seorang penulis dari Tasikmalaya, Jawa Barat.
Connie menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Indonesia dan memiliki pengalaman pendidikan di APCSS Asia Pasific Centre for Security Studies, Hawaii - Fu Xi Kang war Academy, ROC - serta Chevening Executive Programme for Democracy and Security di Birmingham University, Britania Raya (UK).
Selain itu, Connie juga pernah menjadi Senior Research Fellow di The INSS Institute of National Security Studies di Tel Aviv, Israel, dan menjadi Dosen Tamu di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara dan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut.
Connie telah menjadi pengajar di Sekolah Diplomat Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Sesparlu dan Disparlu) dan beberapa universitas di dalam dan luar negeri.
Dia dikenal sebagai seorang analis pertahanan, militer, dan intelijen, serta penulis dua buku penting tentang Militer Indonesia dan Pertahanan Negara.
Connie juga telah menerbitkan autobiografi berjudul "Aku adalah Peluru" yang ditulis oleh Sastrawan Bara Pattyradja (2019).
Connie sering memberikan presentasi pemikirannya di berbagai forum internasional seperti National Defense University (NDU) di Washington D.C., Global Security Meeting di Bratislava, Slovakia, ASEM-EU Regional Security Architecture Meetings, Centre for Security Policy (CCSP) di Swiss, dan berbagai forum lainnya.
Dia juga termasuk dalam 22 orang pemimpin masa depan yang dipilih oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT), Boston, Amerika Serikat, dalam Ideas Batch III.
Bersama dengan Ambassador Hasyim Djalal dan Laksamana Kent Sondakh, Connie menjabat sebagai Dewan Pengawas dan Presiden di Indonesia Institute For Maritime Studies (IIMS).
Dia juga menjadi Dewan Pembina di National Air Space and Power Centre of Indonesia (NAPSCI) serta mewakili Indonesia di Sea Lanes of Communication (SLOC) International Group bersama dengan Laksda (Purn) Rosihan Arsyad.
Connie juga menjabat sebagai Dewan Pengawas Industri Pertahanan Swasta Nasional. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey