KJ. 27 Meski Tak Layak Diriku
1. Meski tak layak diriku, tetapi kar'na darahMu
dan kar'na kau memanggilku, 'ku datang, Yesus, padaMu.
2. Sebagaimana adanya jiwaku sungguh bercela,
darahMulah pembasuhnya; 'ku datang, Tuhan, padaMu.
3. Terombang-ambing, berkeluh, gentar di kancah kemelut,
ya Anakdomba Allahku, ku datang kini padaMu.
4. Sebagaimana adaku celaka, buta dan kelu;
segala apa yang perlu 'ku dapat dalam diriMu.
5. Sebagaimana janjiMu menyambut dan membasuhku,
ya Anakdomba yang kudus, 'ku datang kini padaMu.
Wanita muda itu tidak dapat tidur. Sebagai penyandang disabilitas fisik selama bertahun-tahun, ia diminta untuk tampil keesokan harinya dalam acara pasar amal di gereja untuk mengumpulkan dana bagi pendidikan tinggi. Sebenarnya aku tidak layak, pikir Charlotte Elliott. Ia merasa gelisah sepanjang malam, terus meragukan kelayakan dirinya, bahkan mempertanyakan setiap aspek kehidupan rohaninya. Dengan hati yang masih resah keesokan harinya, ia pun mengambil pena dan kertas, lalu menulis lirik lagu yang sekarang menjadi himne klasik, “Just As I Am” (Meski Tak Layak Diriku, Kidung Jemaat no. 27).
Kata-kata tersebut, yang ditulis Elliott pada tahun 1835, menunjukkan bagaimana Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk datang dan melayani-Nya. Mereka dipanggil bukan karena sudah siap, tetapi karena Dia memberi mereka kuasa, sebagaimana adanya mereka. Kedua belas murid Yesus adalah sekelompok orang yang biasa dipandang sebelah mata, yang mencakup antara lain seorang pemungut cukai, seorang Zelot, dua bersaudara yang sangat ambisius (lihat Mrk. 10:35-37), dan “Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia” (Mat. 10:4). Namun, Yesus tetap memberi mereka kuasa dengan perintah: “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan” (ay. 8). Mereka melakukan itu semua tanpa membawa uang, perbekalan, baju atau kasut tambahan, bahkan tongkat (ay. 9-10).
“Aku mengutus kamu,” firman-Nya (ay. 16), dan Yesus saja sudah cukup. Bagi setiap dari kita yang menjawab panggilan-Nya, Yesus saja sudah cukup.
Editor : Aprilia Sahari