RADARPAPUA - Dalam perjalanan iman, tidak ada yang lebih menguatkan selain nyanyian yang lahir dari hati yang penuh kerinduan akan Sang Juruselamat.
Salah satu lagu rohani yang menyentuh ini secara utuh memancarkan sukacita dan pengharapan seorang percaya dalam memuliakan Yesus Kristus dan rindu yang mendalam akan hidup kekal bersama-Nya.
Lirik Lagu "LS No 14 JIKA KIRANYA LIDAHKU"
Kerinduan yang Melampaui Kata
Bait pertama membuka dengan sebuah keinginan yang kuat: "Jika kiranya lidahku boleh memashurkan sep'nuh Kemuliaan Yesus..."
Sebuah pengakuan bahwa kemuliaan Kristus begitu agung hingga manusia rasanya tak mampu mengungkapkannya sepenuhnya.
Gambaran tentang kecapi surga dan seisi surga menyanyi menjadi simbol pujian surgawi yang kudus, penuh harmoni, dan sempurna.
Pujian manusia pun ingin ditarik seirama dengan pujian surgawi menjadi nada indah yang memuliakan Sang Raja di atas segala raja.
Darah yang Menyelamatkan
Masuk ke bait kedua, kita melihat inti dari keselamatan Kristen: darah Yesus yang membasuh dosa.
Lagu ini dengan lembut namun tegas menyatakan syukur atas penebusan yang diberikan Yesus melalui salib.
"Ku puji kebenaran-Nya dan kesempurnaan surga yang t'rangi jiwaku" baris ini menegaskan bahwa terang surgawi bukan hanya janji masa depan, tetapi juga penerang dalam kehidupan di dunia yang gelap dan penuh tantangan.
Kasih yang Tak Terduga
Bait ketiga berbicara tentang kodrat ilahi Yesus dan kasih-Nya yang tak terduga sebuah frasa yang menggambarkan betapa dalam dan luasnya cinta Tuhan.
Dari takhta surga, kasih itu mengalir ke bumi, membawa pengharapan dan kehidupan baru.
Nyanyian pun tak sekadar menjadi ekspresi sesaat, melainkan komitmen seumur hidup untuk terus memuliakan-Nya: "Aku mau mashurkan s'lalu Kemuliaan-Nya."
Pengharapan Kekal
Puncaknya ada di bait keempat. Sebuah penegasan akan hari yang paling dinanti: hari ketika Yesus datang kembali.
Di sana, di surga yang terang, penyanyi membayangkan perjumpaan langsung dengan Sang Juruselamat. "Melihat wajah-Nya... hidup senang dan bersatu selama-lamanya."
Inilah esensi dari iman Kristen—pengharapan akan hidup kekal, kebersamaan abadi dengan Tuhan, dan sukacita yang tak pernah berakhir.
Lagu ini bukan sekadar puisi rohani; ia adalah seruan jiwa yang haus akan hadirat Tuhan. Setiap baitnya mengajak kita untuk kembali merenungkan: sudahkah pujian kita selaras dengan surga? Sudahkah hidup kita memuliakan Dia yang telah menyelamatkan kita?
Lewat lirik yang dalam dan makna yang menyentuh, lagu ini menjadi pengingat bahwa pujian sejati bukan hanya tentang suara tetapi tentang hati yang dipenuhi kasih, syukur, dan pengharapan akan hari mulia ketika kita bersatu dengan-Nya selama-lamanya.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan