Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Tujuh Komoditas Unggulan Diolah Jadi Produk Bernilai Tinggi Langkah Baru Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Prisilia Rumengan • Rabu, 18 Maret 2026 | 10:10 WIB

(credit: pertanian.go.id)
(credit: pertanian.go.id)

RADARPAPUA - Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat program hilirisasi subsektor perkebunan nasional sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus mendorong kesejahteraan pekebun di berbagai daerah.

Upaya ini dilakukan secara terencana melalui penyiapan lahan, identifikasi Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL), hingga koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa hilirisasi menjadi kunci penting dalam mengubah wajah sektor perkebunan Indonesia.

Selama ini, banyak komoditas perkebunan dijual dalam bentuk mentah, sehingga nilai ekonominya belum maksimal.

“Kita ingin komoditas perkebunan memiliki nilai tambah yang lebih besar. Karena itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi agar hasil perkebunan dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang memberikan keuntungan lebih bagi pekebun dan perekonomian nasional,” ujar Amran dalam keterangannya.

Program hilirisasi ini difokuskan pada tujuh komoditas strategis, yaitu tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete.

Komoditas tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan yang bernilai jual tinggi, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp9,5 triliun untuk mendukung program ini, dengan target pengembangan mencapai 870.000 hektare kebun rakyat dalam periode 2025 hingga 2027.

Melalui program ini, pemerintah berharap tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal, khususnya di desa-desa yang menjadi sentra perkebunan.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Abdul Roni Angkat, menjelaskan bahwa proses penyiapan hilirisasi dilakukan secara detail dan bertahap.

Tim Kementan turun langsung ke lapangan untuk memastikan kesiapan CPCL serta memetakan potensi lahan yang dapat dikembangkan.

“Kami melakukan verifikasi langsung di daerah, memastikan kesiapan petani dan lahan, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan stakeholder terkait. Ini memang proses yang cukup kompleks, tetapi sangat penting agar program hilirisasi berjalan optimal,” ungkap Roni.

Selain fokus pada peningkatan produksi, Kementan juga mendorong pengembangan produk turunan dari masing-masing komoditas.

Misalnya, tebu diolah menjadi gula, kakao menjadi cokelat, kelapa menjadi berbagai produk olahan, serta pala dan lada menjadi produk rempah siap ekspor.

Dengan pendekatan ini, subsektor perkebunan tidak lagi hanya berperan sebagai penyedia bahan baku, tetapi berkembang menjadi sektor industri yang memiliki nilai tambah tinggi.

Dampaknya, peluang usaha baru di daerah akan semakin terbuka, sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan jutaan pekebun di seluruh Indonesia.

Program hilirisasi perkebunan ini menjadi salah satu strategi besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional berbasis sumber daya lokal.

Jika berjalan optimal, langkah ini diyakini mampu mendorong transformasi ekonomi desa sekaligus meningkatkan daya saing komoditas perkebunan Indonesia di pasar global.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#kementerian pertanian #produk pertanian #Pertanian #bibit unggul #komoditas unggulan