alexametrics
26.7 C
Jayapura
Friday, 20 May 2022

Dampak Perang Rusia Ukraina, Ekonom: Harga BBM Berpotensi Naik

RADARPAPUA.ID— Lebih dari tiga pekan, Rusia melancarkan invasinya terhadap Ukraina. Perang yang belum berkesudahan ini memberikan dampak terhadap kenaikan harga komoditas global. Salah satunya minyak mentah di dunia.

Lantas apa dampaknya untuk Indonesia? Sebagai negeri yang belum bisa mandiri untuk penuhi kebutuhan energinya, Indonesia masih menjadi negara pengimpor minyak. Sementara Rusia adalah negara produsen minyak bumi terbesar kedua di dunia. Artinya, ketegangan antara Rusia dan Ukraina berpeluang besar terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia.

Ekonom Sulut Dr Robert Winerungan memperkirakan, jika ketegangan anatara dua negara itu belum teratasi, dampaknya pun semakin meluas. Termasuk pada kenaikan harga BBM.

“Embargo ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Rusia mengakibatkan berkurangnya cadangan minyak mentah. Pasokan BBM di pasar dunia berkurang, sementara kebutuhan meningkat. Dalam hukum ekonomi jika supply berkurang dan demand mengalami peningkatan, maka pasti harga mengalami kenaikan,” jelasnya.

Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Sulut itu mengakui adalah hal yang wajar jika nantinya terjadi kenaikan harga BBM. Karena pada dasarnya harga BBM indonesia mengikuti tren harga minyak mentah dunia.

“Indonesia masih menjadi negara pengimpor minyak. Dengan adanya invasi Rusia, dan ketidakpastian harga minyak mentah dunia, tentunya berpotensi mendorong Pertamina menaikan harga BBM di Indonesia. Jika ini terjadi dalam waktu yang panjang, dampaknya pasti sampai pada pembatasan kuota BBM subsidi,” paparnya.

Alumnus Unhas ini pun menuturkan, dengan kondisi yang dihadapi saat ini,  sudah sepantasnya masyarakat yang masuk dalam kategori mampu didorong untuk membeli BBM non subsidi. Agar kenaikan harga BBM tidak semakin menyulitkan warga berekonomi lemah jika nantinya pemerintah membatasi kuota untuk BBM subsidi.

Terpisah, Profesor Dr Paulus Kindangen, Ekonom lain juga memberikan penuturan yang sama. Kindangen membeberkan, sejak dimulai pada 22 Februari lalu, Invasi Rusia ini memang memberi dampak besar untuk indonesia. Mulai dari jalur perdagangan, kenaikan harga hingga nilai tukar rupiah. Namun diantara semua itu, yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya kenaikan harga minyak mentah di dunia. “Minyak mentah dari Rusia telah menjadi konsumsi dari negara-negara besar dunia. Termasuk indonesia. Jika ada gangguan di wilayah produksi utama dunia, pasti pengaruhnya besar. Meskipun naik turunnya harga tidak dapat diprediksikan secara tepat. Intinya, jika pasokan terganggu maka pasti ketersediaan pun ikut terganggu. Jika itu dibiarkan ke pasar pasti akan memicu kenaikan harga,” tegasnya.

Dia berharap, untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah mengambil langkah tegas, termasuk untuk intervensi. “Dari sisi harga pasti akan sulit karena memang sampai sekarang harga minyak dunia masih fluktuatif. Tapi paling tidak pemerintah harus bisa bersinergi dengan Pertamina untuk memastikan distribusi BBM bisa terjaga,” tukasnya.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Ekonomi Triwulan III Tetap Tumbuh Positif

Menanggapi hal ini,  Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Laode Syarifuddin Mursali mengatakan, sampai saat ini memang belum ada kenaikan harga BBM akibat invasi Rusia terhadap Ukraina. Namun, adanya ketidakpastian harga minyak mentah dunia, membuat Pertamina kedepan harus adaftif untuk menyesuaikan harga.

“Untuk saat ini, harga BBM dan LPG yang non subsidi itu fluktuatif. Jika minyak dunia terus naik, maka pasti harga BBM di Indonesia pun berpotensi naik, namun kita lihat bagaimana perkembangan tren minyak mentah akibat invasi perang Rusia terhadap Ukraina ini,” tekannya.

Saat ini, lanjutnya yang paling penting adalah menjaga pendistribusian. Baik itu LPG maupun BBM. “Pasokan sampai saat ini ada. Proses diatribusi pun lancar. Tidak ada kelangkaan. Kelangkaan bisa terjadi jika ada gangguan distribusi yang diakibatkan oleh bencana alam, kerusuhan atau hal lain diluar kendali kita. Tapi sejauh ini, khusus untuk wilayah Sulawesi kami memastikan proses pendistribusian BBM dan LPG aman dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Baik yang subsidi dan non subsidi.

Dia tak memungkiri, desas-desus kenaikan harga BBM pasti akan menimbulkan aksi penimbunan. Untuk mengantisipasi hal ini, pihaknya sudah menggandeng pihak pemerintah, kepolisian serta semua SPBU dan lembaga penyalur resmi lainnya agar mengawasi pendistribusian BBM. “Tanggung jawab Pertamina sebenarnya hanya pada lembaga penyalur di bawah kami. Ada SPBU dan Pertashop. Diluar dari itu, butuh kerjasama dari pemerintah dan peran aktif kepolisian ntuk melakukan pengawasan. Agar bagaimana pendistribusian BBM dan LPG bisa tepat sasaran,” ungkapnya.

Sementara untuk menghadapi, Ramadan dan Idul Fitri nanti, Laode memastikan, sudah membentuk Satgas untuk memastikan penyaluran BBM dan LPG untuk masyarakat terpenuhi di momen Ramadan Idul Fitri. “Kami terbuka untuk semua informasi yang diberikan masyarakat. Jika ada kejadian yang tidak mengenakan dan tidak sesuai prosedur dilapangan, masyarakat bisa dilaporkan melalui call center Pertamina di 135,” ajaknya.

Dia pun berharap, masyarakat bisa bijak dalam melakukan konsumsi BBM, khususnya dapat disesuaikan dengan spesifikasi kendaraan yang dimiliki. Jika klasifikasi kendaraannya memiliki spesifikasi untuk klasifikasi mobil dengan rujukan pabrikan minimal menggunakan RON tinggi, jangan menggunakan BBM RON rendah apalagi yang disubsidi pemerintah. Gunakanlah BBM yang non subsidi. ” Pun dengan penggunaan LPG. Jika masuk dalam kategori mampu belilah Bright Gas, jangan beli LPG 3 Kg. Berikan LPG subsidi tersebut kepada warga yang tidak mampu, agar pendistibusiannya tepat sasaran. Untuk mewujudkan hal ini, kami sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah dan kesadaran masyarakat tentunya” kuncinya. (***)

RADARPAPUA.ID— Lebih dari tiga pekan, Rusia melancarkan invasinya terhadap Ukraina. Perang yang belum berkesudahan ini memberikan dampak terhadap kenaikan harga komoditas global. Salah satunya minyak mentah di dunia.

Lantas apa dampaknya untuk Indonesia? Sebagai negeri yang belum bisa mandiri untuk penuhi kebutuhan energinya, Indonesia masih menjadi negara pengimpor minyak. Sementara Rusia adalah negara produsen minyak bumi terbesar kedua di dunia. Artinya, ketegangan antara Rusia dan Ukraina berpeluang besar terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia.

Ekonom Sulut Dr Robert Winerungan memperkirakan, jika ketegangan anatara dua negara itu belum teratasi, dampaknya pun semakin meluas. Termasuk pada kenaikan harga BBM.

“Embargo ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Rusia mengakibatkan berkurangnya cadangan minyak mentah. Pasokan BBM di pasar dunia berkurang, sementara kebutuhan meningkat. Dalam hukum ekonomi jika supply berkurang dan demand mengalami peningkatan, maka pasti harga mengalami kenaikan,” jelasnya.

Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Sulut itu mengakui adalah hal yang wajar jika nantinya terjadi kenaikan harga BBM. Karena pada dasarnya harga BBM indonesia mengikuti tren harga minyak mentah dunia.

“Indonesia masih menjadi negara pengimpor minyak. Dengan adanya invasi Rusia, dan ketidakpastian harga minyak mentah dunia, tentunya berpotensi mendorong Pertamina menaikan harga BBM di Indonesia. Jika ini terjadi dalam waktu yang panjang, dampaknya pasti sampai pada pembatasan kuota BBM subsidi,” paparnya.

Alumnus Unhas ini pun menuturkan, dengan kondisi yang dihadapi saat ini,  sudah sepantasnya masyarakat yang masuk dalam kategori mampu didorong untuk membeli BBM non subsidi. Agar kenaikan harga BBM tidak semakin menyulitkan warga berekonomi lemah jika nantinya pemerintah membatasi kuota untuk BBM subsidi.

Terpisah, Profesor Dr Paulus Kindangen, Ekonom lain juga memberikan penuturan yang sama. Kindangen membeberkan, sejak dimulai pada 22 Februari lalu, Invasi Rusia ini memang memberi dampak besar untuk indonesia. Mulai dari jalur perdagangan, kenaikan harga hingga nilai tukar rupiah. Namun diantara semua itu, yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya kenaikan harga minyak mentah di dunia. “Minyak mentah dari Rusia telah menjadi konsumsi dari negara-negara besar dunia. Termasuk indonesia. Jika ada gangguan di wilayah produksi utama dunia, pasti pengaruhnya besar. Meskipun naik turunnya harga tidak dapat diprediksikan secara tepat. Intinya, jika pasokan terganggu maka pasti ketersediaan pun ikut terganggu. Jika itu dibiarkan ke pasar pasti akan memicu kenaikan harga,” tegasnya.

Dia berharap, untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah mengambil langkah tegas, termasuk untuk intervensi. “Dari sisi harga pasti akan sulit karena memang sampai sekarang harga minyak dunia masih fluktuatif. Tapi paling tidak pemerintah harus bisa bersinergi dengan Pertamina untuk memastikan distribusi BBM bisa terjaga,” tukasnya.

Baca Juga :  Konflik Rusia-Ukraina: 925 Warga Sipil Meninggal, 75 Diantaranya Anak-anak

Menanggapi hal ini,  Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Laode Syarifuddin Mursali mengatakan, sampai saat ini memang belum ada kenaikan harga BBM akibat invasi Rusia terhadap Ukraina. Namun, adanya ketidakpastian harga minyak mentah dunia, membuat Pertamina kedepan harus adaftif untuk menyesuaikan harga.

“Untuk saat ini, harga BBM dan LPG yang non subsidi itu fluktuatif. Jika minyak dunia terus naik, maka pasti harga BBM di Indonesia pun berpotensi naik, namun kita lihat bagaimana perkembangan tren minyak mentah akibat invasi perang Rusia terhadap Ukraina ini,” tekannya.

Saat ini, lanjutnya yang paling penting adalah menjaga pendistribusian. Baik itu LPG maupun BBM. “Pasokan sampai saat ini ada. Proses diatribusi pun lancar. Tidak ada kelangkaan. Kelangkaan bisa terjadi jika ada gangguan distribusi yang diakibatkan oleh bencana alam, kerusuhan atau hal lain diluar kendali kita. Tapi sejauh ini, khusus untuk wilayah Sulawesi kami memastikan proses pendistribusian BBM dan LPG aman dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Baik yang subsidi dan non subsidi.

Dia tak memungkiri, desas-desus kenaikan harga BBM pasti akan menimbulkan aksi penimbunan. Untuk mengantisipasi hal ini, pihaknya sudah menggandeng pihak pemerintah, kepolisian serta semua SPBU dan lembaga penyalur resmi lainnya agar mengawasi pendistribusian BBM. “Tanggung jawab Pertamina sebenarnya hanya pada lembaga penyalur di bawah kami. Ada SPBU dan Pertashop. Diluar dari itu, butuh kerjasama dari pemerintah dan peran aktif kepolisian ntuk melakukan pengawasan. Agar bagaimana pendistribusian BBM dan LPG bisa tepat sasaran,” ungkapnya.

Sementara untuk menghadapi, Ramadan dan Idul Fitri nanti, Laode memastikan, sudah membentuk Satgas untuk memastikan penyaluran BBM dan LPG untuk masyarakat terpenuhi di momen Ramadan Idul Fitri. “Kami terbuka untuk semua informasi yang diberikan masyarakat. Jika ada kejadian yang tidak mengenakan dan tidak sesuai prosedur dilapangan, masyarakat bisa dilaporkan melalui call center Pertamina di 135,” ajaknya.

Dia pun berharap, masyarakat bisa bijak dalam melakukan konsumsi BBM, khususnya dapat disesuaikan dengan spesifikasi kendaraan yang dimiliki. Jika klasifikasi kendaraannya memiliki spesifikasi untuk klasifikasi mobil dengan rujukan pabrikan minimal menggunakan RON tinggi, jangan menggunakan BBM RON rendah apalagi yang disubsidi pemerintah. Gunakanlah BBM yang non subsidi. ” Pun dengan penggunaan LPG. Jika masuk dalam kategori mampu belilah Bright Gas, jangan beli LPG 3 Kg. Berikan LPG subsidi tersebut kepada warga yang tidak mampu, agar pendistibusiannya tepat sasaran. Untuk mewujudkan hal ini, kami sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah dan kesadaran masyarakat tentunya” kuncinya. (***)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/