alexametrics
26.7 C
Jayapura
Saturday, 21 May 2022

LP3KD Papua Barat Pacu Kualitas Petugas Liturgi

MANOKWARI — Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik Daerah (LP3KD) Provinsi Papua Barat terus memacu kualitas para petugas liturgi dengan meneggelar ‘Pelatihan Pelatih Paduan Suara, Dirigen, Pemazmur, Solis dan Organis se-TP Manokwari’ di Oriestom Bay, Jumat (14/5/21).

“Pelatihan ini merupakan langkah awal untuk mewujudkan seni musik dalam Gereja Katolik dan sangat diharapkan agar peserta semakin memahami dan menghayati musik liturgy. Dengan demikian kualitas hidup sebagi seorang katolik menjadi nyata,” kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua Barat Yan Kristinanus Kadang.

Menurut Kadang, Gereja Katolik merupakan lembaga agama yang diakui secara resmi oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kehidupan umat Katolik menjadi bagian dari interaksi sosial kehidupan beragam di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia demi memupuk kebersamaan dan kerukunan hidup dalam kemajemukan.

“Aktivitas ini meliputi musik dan nyanyian liturgi yang telah berkembang berabad-abad lamanya dan berakar dari budaya bangsa yang dirumuskan dalam bentuk sajak, mazmur, nyanyian dan kidung pujian,” kata Kadang.

LP3KD Papua Barat, kata Kadang merupakan lembaga yang berasal dari masyarakat Katolik dalam kerja sama dengan pemerintah.

“Kehadiran lembaga ini dipandang perlu untuk membantu terwujudnya aktivitas menggereja, seni budaya gerejani adal dalam kehidupan menggereja, bermasyarakat dan bernegara,” imbuh Kadang.

Baca Juga :  Pattimura Muda Baksos di Masjid Al-Qautsar dan TMP Manokwari

Ketua LP3KD Papua Barat Roberth KR Hammar mengatakan, kehadiran LP3KD itu bagian dari sebuah kebijakan yang digelontorkan Kementerian Agama melalui Bimas Katolik dalam rangka mengahdirkan negara dalam pembinaan umat, khusunya Katolik.

“Dalam perannya kita tidak masuk dalam aktivitas berkaitan hirarki gereja, tapi kita dalam pembinan iman itu kita melakukan kegiatan untuk mendukung kehidupan menggereja,” kata Hammar.

Dalam kehidupan menggereja itu, tegas Hammar, mengarah kepada bagaimana menggairahkan orang setiap kali ibada/misa melalui bernyanyi dengan baik, memimpin paduan suaran dengan baik atau bermain organ dengan baik dan berkualitas.

“Ketika orang bernyanyi dengan baik itu sama dengan berdoa dua kali. Kita pun harus menopang liturgi itu dengan baik. Ketika kita bernyanyi dengan baik dan harmoni, akan menciptakan orang berdoa dengan baik pula,” ujar Hammar.

Sementara itu, Moses Naraha, Ketua Panitia Pelatihan Pelatih Paduan Suara, Dirigen, Pemazmur, Solis dan Organis se-TP Manokwari menjelaskan, kegiatan pelatihan ini melibatkan perwakilan paroki se-TPW dan menjadikan musik liturgi yang menarik.

“Maksud kita sasarannya, ketika orang datang di gereja dan melihat petugas liturginya, orang sudah senang. Jangan sampai ketika orang datang dan baru sampai di gereja lihat petugas liturginya, psikisnya sudah terganggu,” tandas Moses. (xlo)

MANOKWARI — Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik Daerah (LP3KD) Provinsi Papua Barat terus memacu kualitas para petugas liturgi dengan meneggelar ‘Pelatihan Pelatih Paduan Suara, Dirigen, Pemazmur, Solis dan Organis se-TP Manokwari’ di Oriestom Bay, Jumat (14/5/21).

“Pelatihan ini merupakan langkah awal untuk mewujudkan seni musik dalam Gereja Katolik dan sangat diharapkan agar peserta semakin memahami dan menghayati musik liturgy. Dengan demikian kualitas hidup sebagi seorang katolik menjadi nyata,” kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua Barat Yan Kristinanus Kadang.

Menurut Kadang, Gereja Katolik merupakan lembaga agama yang diakui secara resmi oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kehidupan umat Katolik menjadi bagian dari interaksi sosial kehidupan beragam di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia demi memupuk kebersamaan dan kerukunan hidup dalam kemajemukan.

“Aktivitas ini meliputi musik dan nyanyian liturgi yang telah berkembang berabad-abad lamanya dan berakar dari budaya bangsa yang dirumuskan dalam bentuk sajak, mazmur, nyanyian dan kidung pujian,” kata Kadang.

LP3KD Papua Barat, kata Kadang merupakan lembaga yang berasal dari masyarakat Katolik dalam kerja sama dengan pemerintah.

“Kehadiran lembaga ini dipandang perlu untuk membantu terwujudnya aktivitas menggereja, seni budaya gerejani adal dalam kehidupan menggereja, bermasyarakat dan bernegara,” imbuh Kadang.

Baca Juga :  MPAB dan Mabim Sukses, Anggota PMKRI Diminta Berinovasi

Ketua LP3KD Papua Barat Roberth KR Hammar mengatakan, kehadiran LP3KD itu bagian dari sebuah kebijakan yang digelontorkan Kementerian Agama melalui Bimas Katolik dalam rangka mengahdirkan negara dalam pembinaan umat, khusunya Katolik.

“Dalam perannya kita tidak masuk dalam aktivitas berkaitan hirarki gereja, tapi kita dalam pembinan iman itu kita melakukan kegiatan untuk mendukung kehidupan menggereja,” kata Hammar.

Dalam kehidupan menggereja itu, tegas Hammar, mengarah kepada bagaimana menggairahkan orang setiap kali ibada/misa melalui bernyanyi dengan baik, memimpin paduan suaran dengan baik atau bermain organ dengan baik dan berkualitas.

“Ketika orang bernyanyi dengan baik itu sama dengan berdoa dua kali. Kita pun harus menopang liturgi itu dengan baik. Ketika kita bernyanyi dengan baik dan harmoni, akan menciptakan orang berdoa dengan baik pula,” ujar Hammar.

Sementara itu, Moses Naraha, Ketua Panitia Pelatihan Pelatih Paduan Suara, Dirigen, Pemazmur, Solis dan Organis se-TP Manokwari menjelaskan, kegiatan pelatihan ini melibatkan perwakilan paroki se-TPW dan menjadikan musik liturgi yang menarik.

“Maksud kita sasarannya, ketika orang datang di gereja dan melihat petugas liturginya, orang sudah senang. Jangan sampai ketika orang datang dan baru sampai di gereja lihat petugas liturginya, psikisnya sudah terganggu,” tandas Moses. (xlo)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/