alexametrics
27.7 C
Jayapura
Wednesday, 18 May 2022

Belasan Ribu Bayi di Afghanistan Meninggal Karena Kekurangan Nutrisi

RADARPAPUA.ID– USD 4,4 miliar. Dana yang setara dengan Rp 63,16 triliun itu dibutuhkan untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Afghanistan. Kemarin (31/3) PBB menggelar konferensi donor di Jenewa untuk mengumpulkan uang dari negara-negara lain guna membantu negara yang dikuasai Taliban sejak 15 Agustus 2020 tersebut.

’’Kita perlu mencegah hal terburuk di Afghanistan. Karena itu, kami meminta para donor untuk maju dan bermurah hati,’’ kata koordinator kemanusiaan PBB Martin Griffiths, seperti dikutip Agence France-Presse.

Griffiths tahu negara-negara kaya di dunia tengah fokus membantu Ukraina. Namun, dia meminta mereka tak melupakan Afghanistan yang kondisinya tidak lebih baik. Dana yang diminta PBB itu tiga kali lipat dari yang diminta pada 2021.

Itu adalah permintaan pendanaan terbesar untuk satu negara. Saat ini baru 13 persen dari permintaan tersebut yang terpenuhi. Inggris salah satu yang menyumbang. Mereka berjanji memberikan USD 380 juta (Rp 5,4 triliun) pada tahun finansial berikutnya.

Situasi di Afghanistan kian kritis. Sebanyak 23 juta penduduk sudah selangkah lagi menuju kelaparan. Berdasar data Kementerian Kesehatan Masyarakat Afghanistan, sekitar 13.700 bayi baru lahir dan 26 ibu melahirkan telah meninggal karena kekurangan nutrisi. Itu merupakan data dua bulan pertama tahun ini. Jika dibiarkan, dikhawatirkan terjadi tragedi kemanusiaan yang lebih parah.

Baca Juga :  Taliban Larang Perempuan Tampil di TV

Kepala Departemen Nutrisi di Direktorat Kesehatan Rakyat Dr Abdul Rahman Ulfat mengakui, balita paling terdampak karena mereka lebih rentan. Tubuhnya dalam masa tumbuh kembang dan organnya perlu asupan nutrisi, mineral, karbohidrat, dan lainnya secara terus-menerus. ’’Jika tidak mendapatkannya, mereka akan kehilangan nyawa,’’ ucapnya, seperti dikutip Al Jazeera.

Sekjen Norwegian Refugee Council (NRC) Jan Egeland mengungkapkan bahwa mereka kekurangan pendanaan. Dia berharap otoritas finansial negara-negara Barat bisa mengirimkan bantuan. Sebab, jutaan warga Afghanistan sudah putus asa. ’’Orang-orang menjual bayi dan gadis kecil untuk bisa bertahan. Namun, meski sudah melakukannya, mereka tetap kehilangan nyawa,’’ ujarnya sambil menahan air mata. (sha/c18/bay/jawapos)

RADARPAPUA.ID– USD 4,4 miliar. Dana yang setara dengan Rp 63,16 triliun itu dibutuhkan untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Afghanistan. Kemarin (31/3) PBB menggelar konferensi donor di Jenewa untuk mengumpulkan uang dari negara-negara lain guna membantu negara yang dikuasai Taliban sejak 15 Agustus 2020 tersebut.

’’Kita perlu mencegah hal terburuk di Afghanistan. Karena itu, kami meminta para donor untuk maju dan bermurah hati,’’ kata koordinator kemanusiaan PBB Martin Griffiths, seperti dikutip Agence France-Presse.

Griffiths tahu negara-negara kaya di dunia tengah fokus membantu Ukraina. Namun, dia meminta mereka tak melupakan Afghanistan yang kondisinya tidak lebih baik. Dana yang diminta PBB itu tiga kali lipat dari yang diminta pada 2021.

Itu adalah permintaan pendanaan terbesar untuk satu negara. Saat ini baru 13 persen dari permintaan tersebut yang terpenuhi. Inggris salah satu yang menyumbang. Mereka berjanji memberikan USD 380 juta (Rp 5,4 triliun) pada tahun finansial berikutnya.

Situasi di Afghanistan kian kritis. Sebanyak 23 juta penduduk sudah selangkah lagi menuju kelaparan. Berdasar data Kementerian Kesehatan Masyarakat Afghanistan, sekitar 13.700 bayi baru lahir dan 26 ibu melahirkan telah meninggal karena kekurangan nutrisi. Itu merupakan data dua bulan pertama tahun ini. Jika dibiarkan, dikhawatirkan terjadi tragedi kemanusiaan yang lebih parah.

Baca Juga :  Badan HAM PBB Menyetujui Penyelidikan atas Dugaan Pelanggaran Rusia di Ukraina

Kepala Departemen Nutrisi di Direktorat Kesehatan Rakyat Dr Abdul Rahman Ulfat mengakui, balita paling terdampak karena mereka lebih rentan. Tubuhnya dalam masa tumbuh kembang dan organnya perlu asupan nutrisi, mineral, karbohidrat, dan lainnya secara terus-menerus. ’’Jika tidak mendapatkannya, mereka akan kehilangan nyawa,’’ ucapnya, seperti dikutip Al Jazeera.

Sekjen Norwegian Refugee Council (NRC) Jan Egeland mengungkapkan bahwa mereka kekurangan pendanaan. Dia berharap otoritas finansial negara-negara Barat bisa mengirimkan bantuan. Sebab, jutaan warga Afghanistan sudah putus asa. ’’Orang-orang menjual bayi dan gadis kecil untuk bisa bertahan. Namun, meski sudah melakukannya, mereka tetap kehilangan nyawa,’’ ujarnya sambil menahan air mata. (sha/c18/bay/jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/