alexametrics
26.7 C
Jayapura
Friday, 20 May 2022

Sepakat Gencatan Senjata 12 Jam Demi Evakuasi Penduduk, Pasukan Rusia Malah…

RADARPAPUA.ID– ’’Ini bukan perang, tapi pemusnahan.’’ Kalimat itu dilontarkan oleh Yaroslava Kaminska, penduduk desa Nemishayevo di luar Kiev, Ukraina. Dia dan keluarganya terpaksa harus mengungsi karena kampung mereka sudah luluh lantak. Tak ada listrik dan pemanas sejak 28 Februari dan pekan ini aliran gas mati.

Memasuki dua pekan invasi, kemarin (9/3) Rusia-Ukraina sepakat melakukan gencatan senjata selama 12 jam. Yaitu dari pukul 09.00-21.00, untuk mengevakuasi penduduk di lokasi-lokasi yang paling parah. Beberapa di antaranya adalah Energodar, Sumy, Mariupol, Volnovakha, Izium, Vorzel, Bucha, Irpin, Borodyanka, dan Gostomel.

Namun evakuasi tidak berjalan mulus. Sebab di lapangan, tentara Rusia masih menghalangi. Salah satunya adalah di Bucha. Pasukan Kremlin menutup jalan. Di beberapa lokasi lainnya juga masih terdengar ledakan sehingga bus takut untuk berjalan.

Ukraina juga mengajukan gencatan senjata di fasilitas nuklir Chernobyl untuk melakukan perbaikan. Itu adalah lokasi kecelakaan nuklir terburuk di dunia pada tahun 1986. Suplai listrik di fasilitas tersebut sepertinya terhenti. Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan bahwa generator diesel cadangan hanya memiliki kapasitas 48 jam untuk menyalakan pembangkit.

Baca Juga :  Perang Rusia-Ukraina: Kiev Mengalir Bantuan, Moskow Banjir Sanksi

’’Setelah itu, sistem pendingin fasilitas penyimpanan untuk bahan bakar nuklir bekas akan berhenti dan membuat kebocoran radiasi segera terjadi,’’ cuit Kuleba di akun Twitternya. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berusaha untuk menenangkan situasi dengan menyatakan bahwa insiden di Chernobyl sudah lama berlalu.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan siap berdialog dengan Rusia. Tapi Rusia menuntut lebih. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa Zelensky harus siap mendiskusikan status Krimea dan wilayah Ukraina Timur yang dikuasai oleh pemberontak Pro-Rusia, Donetsk serta Luhansk. ’’Krimea adalah wilayah Rusia dan ini harus diakui baik secara de facto maupun de jure,’’ terangnya.(jawapos)

RADARPAPUA.ID– ’’Ini bukan perang, tapi pemusnahan.’’ Kalimat itu dilontarkan oleh Yaroslava Kaminska, penduduk desa Nemishayevo di luar Kiev, Ukraina. Dia dan keluarganya terpaksa harus mengungsi karena kampung mereka sudah luluh lantak. Tak ada listrik dan pemanas sejak 28 Februari dan pekan ini aliran gas mati.

Memasuki dua pekan invasi, kemarin (9/3) Rusia-Ukraina sepakat melakukan gencatan senjata selama 12 jam. Yaitu dari pukul 09.00-21.00, untuk mengevakuasi penduduk di lokasi-lokasi yang paling parah. Beberapa di antaranya adalah Energodar, Sumy, Mariupol, Volnovakha, Izium, Vorzel, Bucha, Irpin, Borodyanka, dan Gostomel.

Namun evakuasi tidak berjalan mulus. Sebab di lapangan, tentara Rusia masih menghalangi. Salah satunya adalah di Bucha. Pasukan Kremlin menutup jalan. Di beberapa lokasi lainnya juga masih terdengar ledakan sehingga bus takut untuk berjalan.

Ukraina juga mengajukan gencatan senjata di fasilitas nuklir Chernobyl untuk melakukan perbaikan. Itu adalah lokasi kecelakaan nuklir terburuk di dunia pada tahun 1986. Suplai listrik di fasilitas tersebut sepertinya terhenti. Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan bahwa generator diesel cadangan hanya memiliki kapasitas 48 jam untuk menyalakan pembangkit.

Baca Juga :  Rencana Kunjungi Rusia Lebih Dulu Ketimbang Ukraina,Zelensky Kritik Sekjen PBB

’’Setelah itu, sistem pendingin fasilitas penyimpanan untuk bahan bakar nuklir bekas akan berhenti dan membuat kebocoran radiasi segera terjadi,’’ cuit Kuleba di akun Twitternya. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berusaha untuk menenangkan situasi dengan menyatakan bahwa insiden di Chernobyl sudah lama berlalu.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan siap berdialog dengan Rusia. Tapi Rusia menuntut lebih. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa Zelensky harus siap mendiskusikan status Krimea dan wilayah Ukraina Timur yang dikuasai oleh pemberontak Pro-Rusia, Donetsk serta Luhansk. ’’Krimea adalah wilayah Rusia dan ini harus diakui baik secara de facto maupun de jure,’’ terangnya.(jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/