alexametrics
25.7 C
Jayapura
Saturday, 21 May 2022

KIAMAT MAKIN DEKAT? Rusia Bicara Perang Nuklir, Kata Mereka: Itu Akhir

RADARPAPUA.ID – Sekretaris III Kedutaan Besar (Kedubes) Rusia untuk Indonesia Denis Tetyushin menegaskan Rusia tidak pernah berkeinginan untuk menggunakan senjata nuklir dalam perang melawan Ukraina.

 

“Kami sama sekali tidak mau ada perang nuklir. Karena semua orang pasti mengerti. Jika perang nuklir dimulai, maka akhir bagi dunia ini,” ucap Denis saat berbincang dengan jurnalis senior Hazairin Sitepu di Kantor Kedubes Rusia di Jakarta, Kamis (10/3).

 

Untungnya, kata dia, mitra Rusia di negara-negara barat juga mengerti.

 

“Ya, banyak orang termasuk di Indonesia khawatir (perang nuklir) karena sebelumnya Presiden Putin sudah mengumumkan bahwa pasukan khusus Rusia, persiapannya tinggi,” katanya.

 

Dijelaskan Denis, meskipun banyak tentara Rusia meninggal dalam operasi militer, tetapi jumlahnya tidak sebanyak klaim Ukraina yang mengaku sudah membunuh 11 ribu pasukan Rusia.

 

“Saya yakin 100 persen informasi yang disampaikan oleh pihak Ukraina tentang tewasnya 11 ribu pasukan Rusia, itu jauh dari kenyataan,” jelas Denis.

 

Menurut Denis, berdasarkan keterangan dari Kementerian Pertahanan Rusia, jumlah korban dari pihak Rusia jauh lebih sedikit dibandingkan Ukraina.

 

“Angka (korban) dari Rusia jauh lebih rendah dari apa yang disebutkan pihak Ukraina. Misalnya, pihak Ukraina menyebutkan ada 12 ribu orang tewas, tapi sesuai dengan estimasi kami, 500 orang,” bebernya.

 

Sedangkan dari pihak Ukraina, kata dia, jumlah tentara Ukraina yang meninggal diperkirakan 2.000 orang. Angka itu sesuai dengan data Kementerian Pertahanan Rusia.

 

“Ada lebih dari dua ribu. Tapi ini sulit sekali untuk menghitung. Semua angka ini estimasi. Kita tahu angka yang tepatnya, nanti,” jelas Denis.

Baca Juga :  Pasukan Ukraina Hentikan Serangan Rusia dari Slovyansk

 

Denis membantah tuduhan NATO yang menyebut banyak masyarakat sipil dan anak-anak menjadi korban akibat dari serangan Rusia.

 

Ia menyebut informasi tersebut hoaks atau tidak benar. Ia menganggap pernyataan NATO seperti information war atau perang informasi melawan Rusia.

 

Denis menegaskan pasukan Rusia memiliki senjata canggih yang jumlahnya cukup banyak.

 

Pasukan Rusia, kata dia, bisa saja menyelesaikan operasi militer dalam waktu dua sampai tiga hari saja. Tapi, kenapa sudah dua minggu belum selesai?

 

“Karena kami tidak melakukan operasi militer melawan rakyat Ukraina. Kami tidak mau ada korban dari warga lokal, warga sipil. Kami pelan-pelan melakukan operasi, tidak mengebom infrastruktur sipil,” beber Denis.

 

Masalahnya, lanjut Denis, pihak Ukraina menjadikan warga sipil sebagai tameng.

 

“Mereka sangat mengerti kemampuan mereka tidak seimbang dengan pasukan Rusia. Mereka kemudian menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia,” katanya.

 

Ia menegaskan dari awal Rusia dan Ukraina menyetujui membuka koridor-koridor kemanusian. Supaya ada warga sipil yang bisa keluar.

 

“Tetapi di Mariupol ada kelompok-kelompok neo-Nazi atau yang disebut Azov, mereka sangat mengerti, kalau warga sipil keluar, nasib kelompok bersenjata Azov sudah jelas. Mereka akan ditangkap dan dihukum berat atas semua kejahatan yang mereka lakukan, dengan membunuh warga sipil, perempuan, dan membunuh anak-anak di sana,” tandas Denis.(hs/pojoksatu)

RADARPAPUA.ID – Sekretaris III Kedutaan Besar (Kedubes) Rusia untuk Indonesia Denis Tetyushin menegaskan Rusia tidak pernah berkeinginan untuk menggunakan senjata nuklir dalam perang melawan Ukraina.

 

“Kami sama sekali tidak mau ada perang nuklir. Karena semua orang pasti mengerti. Jika perang nuklir dimulai, maka akhir bagi dunia ini,” ucap Denis saat berbincang dengan jurnalis senior Hazairin Sitepu di Kantor Kedubes Rusia di Jakarta, Kamis (10/3).

 

Untungnya, kata dia, mitra Rusia di negara-negara barat juga mengerti.

 

“Ya, banyak orang termasuk di Indonesia khawatir (perang nuklir) karena sebelumnya Presiden Putin sudah mengumumkan bahwa pasukan khusus Rusia, persiapannya tinggi,” katanya.

 

Dijelaskan Denis, meskipun banyak tentara Rusia meninggal dalam operasi militer, tetapi jumlahnya tidak sebanyak klaim Ukraina yang mengaku sudah membunuh 11 ribu pasukan Rusia.

 

“Saya yakin 100 persen informasi yang disampaikan oleh pihak Ukraina tentang tewasnya 11 ribu pasukan Rusia, itu jauh dari kenyataan,” jelas Denis.

 

Menurut Denis, berdasarkan keterangan dari Kementerian Pertahanan Rusia, jumlah korban dari pihak Rusia jauh lebih sedikit dibandingkan Ukraina.

 

“Angka (korban) dari Rusia jauh lebih rendah dari apa yang disebutkan pihak Ukraina. Misalnya, pihak Ukraina menyebutkan ada 12 ribu orang tewas, tapi sesuai dengan estimasi kami, 500 orang,” bebernya.

 

Sedangkan dari pihak Ukraina, kata dia, jumlah tentara Ukraina yang meninggal diperkirakan 2.000 orang. Angka itu sesuai dengan data Kementerian Pertahanan Rusia.

 

“Ada lebih dari dua ribu. Tapi ini sulit sekali untuk menghitung. Semua angka ini estimasi. Kita tahu angka yang tepatnya, nanti,” jelas Denis.

Baca Juga :  Pasukan Ukraina Hentikan Serangan Rusia dari Slovyansk

 

Denis membantah tuduhan NATO yang menyebut banyak masyarakat sipil dan anak-anak menjadi korban akibat dari serangan Rusia.

 

Ia menyebut informasi tersebut hoaks atau tidak benar. Ia menganggap pernyataan NATO seperti information war atau perang informasi melawan Rusia.

 

Denis menegaskan pasukan Rusia memiliki senjata canggih yang jumlahnya cukup banyak.

 

Pasukan Rusia, kata dia, bisa saja menyelesaikan operasi militer dalam waktu dua sampai tiga hari saja. Tapi, kenapa sudah dua minggu belum selesai?

 

“Karena kami tidak melakukan operasi militer melawan rakyat Ukraina. Kami tidak mau ada korban dari warga lokal, warga sipil. Kami pelan-pelan melakukan operasi, tidak mengebom infrastruktur sipil,” beber Denis.

 

Masalahnya, lanjut Denis, pihak Ukraina menjadikan warga sipil sebagai tameng.

 

“Mereka sangat mengerti kemampuan mereka tidak seimbang dengan pasukan Rusia. Mereka kemudian menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia,” katanya.

 

Ia menegaskan dari awal Rusia dan Ukraina menyetujui membuka koridor-koridor kemanusian. Supaya ada warga sipil yang bisa keluar.

 

“Tetapi di Mariupol ada kelompok-kelompok neo-Nazi atau yang disebut Azov, mereka sangat mengerti, kalau warga sipil keluar, nasib kelompok bersenjata Azov sudah jelas. Mereka akan ditangkap dan dihukum berat atas semua kejahatan yang mereka lakukan, dengan membunuh warga sipil, perempuan, dan membunuh anak-anak di sana,” tandas Denis.(hs/pojoksatu)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/