alexametrics
25.7 C
Jayapura
Monday, 8 August 2022

Tak Ada Vaksin, Obat, maupun Alat Tes, Ledakan Kasus Covid-19 di Korut…

RADARPAPUA.ID– Ledakan kasus Covid-19 di Korea Utara (Korut) makin mengkhawatirkan. Kemarin (15/5) KCNA melaporkan 296.180 kasus baru dan 15 kematian. Jika ditotal sejak pengumuman pada Kamis (12/5), datanya meningkat tajam.

Kasus Covid-19 di Korut sudah mencapai 820.620 kasus positif dan 42 orang meninggal. Dari jumlah tersebut, sebanyak 324.550 di antaranya harus mendapatkan perawatan medis.

Banyak pihak yang memprediksi penularan Covid-19 di Korut bakal menjadi bencana luar biasa. Sebab, ia termasuk negara dengan sistem kesehatan yang buruk. Berdasar survei Johns Hopkins University pada 2021, sistem perawatan kesehatan Korut berada di peringkat 193 dari 195 negara.

Saat ini Korut tidak memiliki vaksin Covid-19, obat antiviral, maupun kemampuan untuk melakukan tes massal. Jumlah masker dan hand sanitizer sangat terbatas. Para pembelot Korut yang kini berada di Korsel berkata bahwa jarum suntik medis kerap dipakai berkali-kali hingga berkarat.

’’Tidak mungkin bagi Korut untuk mendeteksi penularan tanpa gejala dan menahan wabah itu (agar tidak menyebar, Red),’’ ujar Cheong Seong-jang, peneliti di Institut Sejong, seperti dikutip Agence France-Presse. Deteksi Covid-19 di Korut hanya berdasar seseorang itu demam tinggi atau tidak. Akurasinya tentu lemah. Dia khawatir angka kematian di Korut akan terus merangkak naik.

Pemerintah Korut sudah memerintahkan semua kota, kabupaten, dan provinsi untuk lockdown total. Seluruh unit kerja, produksi, dan perumahan ditutup. Namun, hal itu tidak membantu meredam penularan. ’’Persebaran penyakit ganas menjadi pergolakan besar di negara kita,’’ ucap Kim Jong-un pada Sabtu (14/5).

Dia menambahkan, negaranya akan belajar dari strategi manajemen pandemi di Tiongkok. Selama ini, hanya Tiongkok yang menjadi sekutu dekat Korut. Tiongkok menjadi satu-satunya negara di dunia yang masih menerapkan kebijakan nol penularan.

KCNA melaporkan, sejumlah besar kematian yang terjadi saat ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang infeksi virus varian Omicron. Pemerintah tengah mengambil langkah darurat untuk mengatasi hal itu.

Korut sebelumnya menolak tawaran vaksin Covid-19 dari Tiongkok dan skema Covax WHO. Kini, Tiongkok dan Korea Selatan kembali memberikan tawaran serupa. Owen Miller, dosen ilmu Korea di SOAS University, Inggris, meyakini bahwa Korut ingin bantuan dari Tiongkok. Beijing diprediksi memberikan semampunya. Sebab, prioritas Tiongkok adalah menjaga kestabilan di Korut.

Meski begitu, pandemi tampaknya tidak membuat ambisi senjata nuklir Korut padam. Citra satelit menunjukkan bahwa mereka masih melanjutkan pembangunan reaktor nuklir yang sudah lama nonaktif.(*)

RADARPAPUA.ID– Ledakan kasus Covid-19 di Korea Utara (Korut) makin mengkhawatirkan. Kemarin (15/5) KCNA melaporkan 296.180 kasus baru dan 15 kematian. Jika ditotal sejak pengumuman pada Kamis (12/5), datanya meningkat tajam.

Kasus Covid-19 di Korut sudah mencapai 820.620 kasus positif dan 42 orang meninggal. Dari jumlah tersebut, sebanyak 324.550 di antaranya harus mendapatkan perawatan medis.

Banyak pihak yang memprediksi penularan Covid-19 di Korut bakal menjadi bencana luar biasa. Sebab, ia termasuk negara dengan sistem kesehatan yang buruk. Berdasar survei Johns Hopkins University pada 2021, sistem perawatan kesehatan Korut berada di peringkat 193 dari 195 negara.

Saat ini Korut tidak memiliki vaksin Covid-19, obat antiviral, maupun kemampuan untuk melakukan tes massal. Jumlah masker dan hand sanitizer sangat terbatas. Para pembelot Korut yang kini berada di Korsel berkata bahwa jarum suntik medis kerap dipakai berkali-kali hingga berkarat.

’’Tidak mungkin bagi Korut untuk mendeteksi penularan tanpa gejala dan menahan wabah itu (agar tidak menyebar, Red),’’ ujar Cheong Seong-jang, peneliti di Institut Sejong, seperti dikutip Agence France-Presse. Deteksi Covid-19 di Korut hanya berdasar seseorang itu demam tinggi atau tidak. Akurasinya tentu lemah. Dia khawatir angka kematian di Korut akan terus merangkak naik.

Pemerintah Korut sudah memerintahkan semua kota, kabupaten, dan provinsi untuk lockdown total. Seluruh unit kerja, produksi, dan perumahan ditutup. Namun, hal itu tidak membantu meredam penularan. ’’Persebaran penyakit ganas menjadi pergolakan besar di negara kita,’’ ucap Kim Jong-un pada Sabtu (14/5).

Dia menambahkan, negaranya akan belajar dari strategi manajemen pandemi di Tiongkok. Selama ini, hanya Tiongkok yang menjadi sekutu dekat Korut. Tiongkok menjadi satu-satunya negara di dunia yang masih menerapkan kebijakan nol penularan.

KCNA melaporkan, sejumlah besar kematian yang terjadi saat ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang infeksi virus varian Omicron. Pemerintah tengah mengambil langkah darurat untuk mengatasi hal itu.

Korut sebelumnya menolak tawaran vaksin Covid-19 dari Tiongkok dan skema Covax WHO. Kini, Tiongkok dan Korea Selatan kembali memberikan tawaran serupa. Owen Miller, dosen ilmu Korea di SOAS University, Inggris, meyakini bahwa Korut ingin bantuan dari Tiongkok. Beijing diprediksi memberikan semampunya. Sebab, prioritas Tiongkok adalah menjaga kestabilan di Korut.

Meski begitu, pandemi tampaknya tidak membuat ambisi senjata nuklir Korut padam. Citra satelit menunjukkan bahwa mereka masih melanjutkan pembangunan reaktor nuklir yang sudah lama nonaktif.(*)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/