alexametrics
25.7 C
Jayapura
Friday, 20 May 2022

Turki Ingin Mengakhiri Perang Rusia-Ukraina

RADARPAPUA.ID – Turki berusaha menemukan akhir damai konflik di Ukraina. Hal ini diungkapkan Ibrahim Kalin, juru bicara kepresidenan Turki kepada Al Jazeera.

“Kami semua berusaha untuk mewujudkannya. Presiden kami melakukan dua panggilan telepon dengan Presiden Zelenskyy dan Presiden Putin sejak awal perang ini. Kami semua mencoba menyatukan pandangan dan saluran yang berbeda untuk mengakhiri perang ini,” jelasnya.

Menurutnya, Presiden Putin berpikir bahwa posisinya saat ini, pada isu-isu strategis utama Donbas dan Krimea tidak cukup dekat baginya untuk bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Dijelaskannya lagi, tim negosiasi di Belarus sedang menangani masalah teknis. “Pertemuan tingkat politik pertama terjadi di Antalya dengan partisipasi menteri luar negeri kita. Dan sekarang yang kita butuhkan adalah pertemuan tingkat strategis antara kedua pemimpin<‘ ungkapnya.

Baca Juga :  Lakukan Serangan Balik, Ukraina Klaim Puluhan Tentara Rusia Tewas di Kherson

Ketika posisi semakin dekat pada empat isu utama netralitas, sambungnya, tidak ada keanggotaan NATO, demiliterisasi menurut model Austria, denazifikasi yang tentu saja merupakan jenis ofensif terhadap kepemimpinan Ukraina dan kemudian perlindungan bahasa Rusia.

“Jika ada konsensus yang berkembang, dan tampaknya memang ada, maka dua isu strategis terakhir dari status teritorial dan hukum Donbas dan Krimea akan dibahas,” pungkasnya. (tkg)

RADARPAPUA.ID – Turki berusaha menemukan akhir damai konflik di Ukraina. Hal ini diungkapkan Ibrahim Kalin, juru bicara kepresidenan Turki kepada Al Jazeera.

“Kami semua berusaha untuk mewujudkannya. Presiden kami melakukan dua panggilan telepon dengan Presiden Zelenskyy dan Presiden Putin sejak awal perang ini. Kami semua mencoba menyatukan pandangan dan saluran yang berbeda untuk mengakhiri perang ini,” jelasnya.

Menurutnya, Presiden Putin berpikir bahwa posisinya saat ini, pada isu-isu strategis utama Donbas dan Krimea tidak cukup dekat baginya untuk bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Dijelaskannya lagi, tim negosiasi di Belarus sedang menangani masalah teknis. “Pertemuan tingkat politik pertama terjadi di Antalya dengan partisipasi menteri luar negeri kita. Dan sekarang yang kita butuhkan adalah pertemuan tingkat strategis antara kedua pemimpin<‘ ungkapnya.

Baca Juga :  Rusia Bantah Melanggar Hukum Internasional dengan Bom Fosfor

Ketika posisi semakin dekat pada empat isu utama netralitas, sambungnya, tidak ada keanggotaan NATO, demiliterisasi menurut model Austria, denazifikasi yang tentu saja merupakan jenis ofensif terhadap kepemimpinan Ukraina dan kemudian perlindungan bahasa Rusia.

“Jika ada konsensus yang berkembang, dan tampaknya memang ada, maka dua isu strategis terakhir dari status teritorial dan hukum Donbas dan Krimea akan dibahas,” pungkasnya. (tkg)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/