alexametrics
26.7 C
Jayapura
Saturday, 21 May 2022

Ukraina Menolak Menyerah, Sudah Tewaskan 5 Jenderal Rusia

RADARPAPUA.ID– ’’Letakkan senjata Anda.’’ Kalimat tersebut adalah ultimatum yang diberikan oleh Rusia ke Mariupol, Ukraina. Batasnya kemarin (21/3) pukul 05.00 waktu Moskow. Direktur Pusat Manajemen Pertahanan Nasional Rusia Kolonel Jenderal Mikhail Mizintsev menegaskan bahwa semua orang yang menyerah bisa keluar dari Mariupol dengan aman.

’’Pejabat lokal akan menghadapi pengadilan militer jika mereka tidak setuju persyaratan penyerahan,’’ terang Mizintsev seperti dikutip The Guardian. Untuk lebih menekan penduduk, Rusia membombardir Mariupol dengan bom setiap 10 menit pada Minggu (20/3) malam. Sasarannya membabi buta. Tujuannya satu, melemahkan mental pasukan Ukraina yang tersisa. Namun, intimidasi itu tidak mempan. Perlawanan masih terjadi di Mariupol.

’’Saya dan para pejuang lainnya tidak akan menyerah di Mariupol,’’ tegas Kapten Svyatoslav Palamar dari Garda Nasional Resimen Azov Mariupol seperti dikutip CNN.

Wakil Perdana Menteri (PM) Ukraina Iryna Vereshchuk menegaskan bahwa tidak akan ada pembicaraan tentang penyerahan diri dan meletakkan senjata. Mereka sudah menginformasikan hal tersebut kepada Rusia dalam berbagai negosiasi. Daripada membuang waktu, dia meminta Rusia membuka koridor kemanusiaan untuk mengeluarkan penduduk sipil dari Mariupol dan kota lainnya.

Sebelum perang terjadi, Mariupol dihuni 450 ribu penduduk. Kini mayoritas sudah mengungsi. Rusia kerap menjadikan penduduk sipil sebagai target serangan. Saat ini penduduk yang tersisa di kota tersebut tidak bisa mengakses listrik, air bersih, gas, dan pemanas ruangan. Jenazah pasukan Ukraina maupun warga sipil tergeletak begitu saja di jalanan karena tidak ada yang mengumpulkan dan menguburkannya. Para penduduk yang tersisa di Mariupol terlalu takut untuk keluar dari selter bawah tanah tempat mereka bersembunyi.

Saat ini sekitar 90 persen bangunan di Mariupol rusak, baik itu ringan maupun parah. Masih ada kurang lebih 300 ribu orang yang terjebak di sana dan tidak bisa melarikan diri. Pemerintah Ukraina masih mengusahakan jalur aman untuk evakuasi.

Baca Juga :  Mengoordinasikan Operasi Militer, AS Dinilai Terlibat Langsung dalam Perang...

Rusia memang ingin menguasai Mariupol sepenuhnya. Kota pelabuhan itu akan menghubungkan wilayah Donbas dan Krimea. Sebagian wilayah Donbas, yaitu Donetsk dan Luhansk, telah dikuasai oleh pemberontak Ukraina Pro-Rusia. Sedangkan Krimea dicaplok secara sepihak oleh Rusia pada 2014 lalu.

Rusia juga menyerang Kiev bertubi-tubi. Pusat perbelanjaan Petroville di Distrik Podilskyi luluh lantak. Sebanyak 8 orang dilaporkan tewas. Di berbagai media tampak foto bangunan megah itu sebelum dan sesudah dibom. Wali kota Kiev mengumumkan jam malam mulai pukul 20.00 hingga 07.00. Itu berlaku hingga Rabu (23/3).

Permukiman penduduk di Odesa juga jadi sasaran serangan. Ini adalah kali pertama gedung-gedung permukiman di Odesa jadi sasaran. Sementara itu, video yang beredar memperlihatkan tentara Rusia menembaki penduduk Kherson, Ukraina, yang tengah menggelar aksi menolak perang.

Penasihat Kepresidenan Ukraina Alexander Rodnyansky mengatakan, Rusia tidak serius untuk mengakhiri serangan. Negosiasi hanya bertujuan untuk menjebak Barat agar tidak menjatuhkan sanksi tambahan. ’’Anda tidak mencari perdamaian dan membombardir kota dalam skala besar pada saat yang bersamaan,’’ tegasnya seperti dikutip BBC.

Ukraina sejauh ini mengaku telah berhasil membunuh 5 orang jenderal Rusia. Pasukan Kiev juga berhasil menewaskan Komandan Armada Laut Hitam Kapten Andrey Paliy. Pria 51 tahun itu meninggal dalam pertempuran di Mariupol. Paliy menjadi petinggi Angkatan Laut Rusia pertama yang tewas di dalam invasi ke Ukraina. (sha/c17/oni/jawapos)

RADARPAPUA.ID– ’’Letakkan senjata Anda.’’ Kalimat tersebut adalah ultimatum yang diberikan oleh Rusia ke Mariupol, Ukraina. Batasnya kemarin (21/3) pukul 05.00 waktu Moskow. Direktur Pusat Manajemen Pertahanan Nasional Rusia Kolonel Jenderal Mikhail Mizintsev menegaskan bahwa semua orang yang menyerah bisa keluar dari Mariupol dengan aman.

’’Pejabat lokal akan menghadapi pengadilan militer jika mereka tidak setuju persyaratan penyerahan,’’ terang Mizintsev seperti dikutip The Guardian. Untuk lebih menekan penduduk, Rusia membombardir Mariupol dengan bom setiap 10 menit pada Minggu (20/3) malam. Sasarannya membabi buta. Tujuannya satu, melemahkan mental pasukan Ukraina yang tersisa. Namun, intimidasi itu tidak mempan. Perlawanan masih terjadi di Mariupol.

’’Saya dan para pejuang lainnya tidak akan menyerah di Mariupol,’’ tegas Kapten Svyatoslav Palamar dari Garda Nasional Resimen Azov Mariupol seperti dikutip CNN.

Wakil Perdana Menteri (PM) Ukraina Iryna Vereshchuk menegaskan bahwa tidak akan ada pembicaraan tentang penyerahan diri dan meletakkan senjata. Mereka sudah menginformasikan hal tersebut kepada Rusia dalam berbagai negosiasi. Daripada membuang waktu, dia meminta Rusia membuka koridor kemanusiaan untuk mengeluarkan penduduk sipil dari Mariupol dan kota lainnya.

Sebelum perang terjadi, Mariupol dihuni 450 ribu penduduk. Kini mayoritas sudah mengungsi. Rusia kerap menjadikan penduduk sipil sebagai target serangan. Saat ini penduduk yang tersisa di kota tersebut tidak bisa mengakses listrik, air bersih, gas, dan pemanas ruangan. Jenazah pasukan Ukraina maupun warga sipil tergeletak begitu saja di jalanan karena tidak ada yang mengumpulkan dan menguburkannya. Para penduduk yang tersisa di Mariupol terlalu takut untuk keluar dari selter bawah tanah tempat mereka bersembunyi.

Saat ini sekitar 90 persen bangunan di Mariupol rusak, baik itu ringan maupun parah. Masih ada kurang lebih 300 ribu orang yang terjebak di sana dan tidak bisa melarikan diri. Pemerintah Ukraina masih mengusahakan jalur aman untuk evakuasi.

Baca Juga :  AS Berusaha Rebut Superyacht milik Miliarder Rusia di Fiji

Rusia memang ingin menguasai Mariupol sepenuhnya. Kota pelabuhan itu akan menghubungkan wilayah Donbas dan Krimea. Sebagian wilayah Donbas, yaitu Donetsk dan Luhansk, telah dikuasai oleh pemberontak Ukraina Pro-Rusia. Sedangkan Krimea dicaplok secara sepihak oleh Rusia pada 2014 lalu.

Rusia juga menyerang Kiev bertubi-tubi. Pusat perbelanjaan Petroville di Distrik Podilskyi luluh lantak. Sebanyak 8 orang dilaporkan tewas. Di berbagai media tampak foto bangunan megah itu sebelum dan sesudah dibom. Wali kota Kiev mengumumkan jam malam mulai pukul 20.00 hingga 07.00. Itu berlaku hingga Rabu (23/3).

Permukiman penduduk di Odesa juga jadi sasaran serangan. Ini adalah kali pertama gedung-gedung permukiman di Odesa jadi sasaran. Sementara itu, video yang beredar memperlihatkan tentara Rusia menembaki penduduk Kherson, Ukraina, yang tengah menggelar aksi menolak perang.

Penasihat Kepresidenan Ukraina Alexander Rodnyansky mengatakan, Rusia tidak serius untuk mengakhiri serangan. Negosiasi hanya bertujuan untuk menjebak Barat agar tidak menjatuhkan sanksi tambahan. ’’Anda tidak mencari perdamaian dan membombardir kota dalam skala besar pada saat yang bersamaan,’’ tegasnya seperti dikutip BBC.

Ukraina sejauh ini mengaku telah berhasil membunuh 5 orang jenderal Rusia. Pasukan Kiev juga berhasil menewaskan Komandan Armada Laut Hitam Kapten Andrey Paliy. Pria 51 tahun itu meninggal dalam pertempuran di Mariupol. Paliy menjadi petinggi Angkatan Laut Rusia pertama yang tewas di dalam invasi ke Ukraina. (sha/c17/oni/jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/