alexametrics
25.7 C
Jayapura
Monday, 4 July 2022

Covid-19 di Korut Terus Meroket, Capai 2,5 Juta Kasus

RADARPAPUA.ID– Kasus penularan dugaan Covid-19 di Korea Utara (Korut) terus meroket. Sabtu (21/5) dilaporkan ada 220 ribu penularan baru. Total angka penularan hampir mencapai 2,5 juta dan sedikitnya 66 orang meninggal. Jumlah riil penularan negara dengan 25 juta penduduk itu bisa jadi jauh lebih besar.

Negara yang dipimpin Kim Jong-un tersebut tidak memiliki alat tes virus SARS-CoV-2 memadai. Deteksi sejauh ini hanya didasarkan pada gejala seperti demam. Padahal, belum tentu yang bersangkutan demam karena Covid-19. Di sisi lain, mereka yang tertular tapi tak bergejala otomatis tidak terdeteksi.

Korut memiliki semua aspek untuk membuat situasi pandemi menjadi bencana. Angka vaksinasinya sangat rendah. Fasilitas kesehatan di negara tersebut juga terbatas. Di wilayah pedesaan, sulit menemukan klinik ataupun rumah sakit. Faskes mereka merupakan salah satu yang terburuk di dunia. Pyongyang juga dikabarkan tengah mengalami kesulitan pangan akibat sanksi politik serta kegagalan panen.

Penularan di Korut diyakini sudah terjadi sejak akhir April. Namun, pemerintahan Jong-un baru mengonfirmasi secara resmi adanya kasus Covid-19 pada 11 Mei lalu. Sejak itu, lockdown nasional diberlakukan. Kim Jong-un juga mendeklarasikan status insiden darurat parah.

Banyak pihak yang menawarkan bantuan berupa vaksin maupun obat-obatan. Di antaranya, Covax, Korsel, dan beberapa organisasi internasional lainnya. Namun, Jong-un belum memberikan jawaban apa pun.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden dalam pertemuannya dengan Presiden Korea Selatan (Korsel) Yoon Suk-yeol Sabtu juga menyatakan siap membantu Korut. Sayangnya, tawaran Biden pun tidak mendapat jawaban.

’’Kami telah menawarkan vaksin bukan hanya ke Korut, tapi juga Tiongkok dan bersiap mengirimkan secepatnya. Tapi, tidak ada respons,’’ ujarnya dalam pernyataan bersama dengan Yoon seperti dikutip Agence France-Presse. Biden berkunjung ke Korsel sejak Jumat (20/5). Kemarin (22/5) dia telah bertolak ke Jepang dalam rangkaian lawatannya ke Asia.

Para pakar meyakini bahwa sikap Korut yang tidak mau menerima bantuan bakal berdampak pada penderitaan penduduknya. ’’Korsel dan AS bersedia bekerja sama dengan komunitas internasional untuk memberikan bantuan kepada Korut guna memerangi virus. Tawaran bantuan dibuat sesuai dengan prinsip kemanusiaan, terpisah dari masalah politik dan militer,’’ tegas Yoon.

Hubungan Korut dan Korsel belakangan memang kembali memanas. Korut bahkan berusaha mengintimidasi dengan melakukan belasan kali uji coba senjata. Korsel dan AS rencananya bakal meningkatkan latihan militer gabungan sebagai tanggapan atas ancaman Korut. Meski begitu, peluang untuk dialog masih terbuka.

Dari Tiongkok, penularan Covid-19 di Kota Shanghai mulai menurun. Kemarin pemerintah membuka kembali transportasi publik di kota yang berdiri sejak 1291 itu. Kota yang menjadi pusat perekonomian tersebut sudah lockdown selama dua bulan.

Penduduk yang masuk area risiko rendah sudah diperbolehkan keluar rumah dengan jarak tertentu. Beberapa pabrik juga mulai beroperasi lagi. Sebanyak 4 dari 20 jalur kereta api bawah tanah telah dioperasikan. Yang boleh naik diseleksi berdasar kepentingan mereka. Mayoritas yang naik mengenakan baju pelindung biru serta masker.

Penduduk yang naik transportasi umum harus menunjukkan surat keterangan negatif Covid-19 yang diambil maksimal 48 jam sebelumnya. Suhu tubuhnya juga harus normal. ’’Setelah 31 Mei, pemerintah Shanghai akan membedakan wilayah, yaitu sebagai area risiko rendah, menengah, dan tinggi,’’ ujar pejabat kesehatan Shanghai Zhao Dandan.

Distrik yang memiliki 10 kasus atau lebih masuk dalam kategori risiko tinggi. Sementara itu, lokasi yang tidak memiliki kasus penularan selama 14 hari berturut-turut akan masuk golongan risiko rendah. Area yang masuk risiko menengah dan tinggi akan lockdown selama dua pekan. (*)

RADARPAPUA.ID– Kasus penularan dugaan Covid-19 di Korea Utara (Korut) terus meroket. Sabtu (21/5) dilaporkan ada 220 ribu penularan baru. Total angka penularan hampir mencapai 2,5 juta dan sedikitnya 66 orang meninggal. Jumlah riil penularan negara dengan 25 juta penduduk itu bisa jadi jauh lebih besar.

Negara yang dipimpin Kim Jong-un tersebut tidak memiliki alat tes virus SARS-CoV-2 memadai. Deteksi sejauh ini hanya didasarkan pada gejala seperti demam. Padahal, belum tentu yang bersangkutan demam karena Covid-19. Di sisi lain, mereka yang tertular tapi tak bergejala otomatis tidak terdeteksi.

Korut memiliki semua aspek untuk membuat situasi pandemi menjadi bencana. Angka vaksinasinya sangat rendah. Fasilitas kesehatan di negara tersebut juga terbatas. Di wilayah pedesaan, sulit menemukan klinik ataupun rumah sakit. Faskes mereka merupakan salah satu yang terburuk di dunia. Pyongyang juga dikabarkan tengah mengalami kesulitan pangan akibat sanksi politik serta kegagalan panen.

Penularan di Korut diyakini sudah terjadi sejak akhir April. Namun, pemerintahan Jong-un baru mengonfirmasi secara resmi adanya kasus Covid-19 pada 11 Mei lalu. Sejak itu, lockdown nasional diberlakukan. Kim Jong-un juga mendeklarasikan status insiden darurat parah.

Banyak pihak yang menawarkan bantuan berupa vaksin maupun obat-obatan. Di antaranya, Covax, Korsel, dan beberapa organisasi internasional lainnya. Namun, Jong-un belum memberikan jawaban apa pun.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden dalam pertemuannya dengan Presiden Korea Selatan (Korsel) Yoon Suk-yeol Sabtu juga menyatakan siap membantu Korut. Sayangnya, tawaran Biden pun tidak mendapat jawaban.

’’Kami telah menawarkan vaksin bukan hanya ke Korut, tapi juga Tiongkok dan bersiap mengirimkan secepatnya. Tapi, tidak ada respons,’’ ujarnya dalam pernyataan bersama dengan Yoon seperti dikutip Agence France-Presse. Biden berkunjung ke Korsel sejak Jumat (20/5). Kemarin (22/5) dia telah bertolak ke Jepang dalam rangkaian lawatannya ke Asia.

Para pakar meyakini bahwa sikap Korut yang tidak mau menerima bantuan bakal berdampak pada penderitaan penduduknya. ’’Korsel dan AS bersedia bekerja sama dengan komunitas internasional untuk memberikan bantuan kepada Korut guna memerangi virus. Tawaran bantuan dibuat sesuai dengan prinsip kemanusiaan, terpisah dari masalah politik dan militer,’’ tegas Yoon.

Hubungan Korut dan Korsel belakangan memang kembali memanas. Korut bahkan berusaha mengintimidasi dengan melakukan belasan kali uji coba senjata. Korsel dan AS rencananya bakal meningkatkan latihan militer gabungan sebagai tanggapan atas ancaman Korut. Meski begitu, peluang untuk dialog masih terbuka.

Dari Tiongkok, penularan Covid-19 di Kota Shanghai mulai menurun. Kemarin pemerintah membuka kembali transportasi publik di kota yang berdiri sejak 1291 itu. Kota yang menjadi pusat perekonomian tersebut sudah lockdown selama dua bulan.

Penduduk yang masuk area risiko rendah sudah diperbolehkan keluar rumah dengan jarak tertentu. Beberapa pabrik juga mulai beroperasi lagi. Sebanyak 4 dari 20 jalur kereta api bawah tanah telah dioperasikan. Yang boleh naik diseleksi berdasar kepentingan mereka. Mayoritas yang naik mengenakan baju pelindung biru serta masker.

Penduduk yang naik transportasi umum harus menunjukkan surat keterangan negatif Covid-19 yang diambil maksimal 48 jam sebelumnya. Suhu tubuhnya juga harus normal. ’’Setelah 31 Mei, pemerintah Shanghai akan membedakan wilayah, yaitu sebagai area risiko rendah, menengah, dan tinggi,’’ ujar pejabat kesehatan Shanghai Zhao Dandan.

Distrik yang memiliki 10 kasus atau lebih masuk dalam kategori risiko tinggi. Sementara itu, lokasi yang tidak memiliki kasus penularan selama 14 hari berturut-turut akan masuk golongan risiko rendah. Area yang masuk risiko menengah dan tinggi akan lockdown selama dua pekan. (*)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/