alexametrics
25.7 C
Jayapura
Monday, 8 August 2022

Rusia Hancurkan Mal Desak Ukraina Menyerah, NATO Tambah Pasukan Reaksi Cepat

RADARPAPUA.ID- Rusia siap mengakhiri invasi ke Ukraina. Tapi ada syarat dan ketentuannya. Ukraina diminta menyerah. Tak cukup sampai di situ, Kiev juga harus memenuhi semua permintaan Moskow.

Sebaliknya, jika menolak, operasi militer Rusia akan terus berlanjut sesuai rencana hingga tujuan mereka tercapai. ’’Penting untuk memerintahkan unit-unit nasionalis (Ukraina) agar meletakkan senjatanya,’’ ujar Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov kemarin (28/6) memaparkan syarat penawaran penghentian serangan.

Pernyataan itu diberikan setelah Rusia dikecam banyak pihak. Moskow menyasar sebuah mal di Kremenchuk, Poltava Oblast, Ukraina dengan misil Senin (27/6) sekitar pukul 15.50 waktu setempat. Pusat perbelanjaan tersebut tengah beroperasi. Menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, setidaknya ada seribu orang di dalam mall tersebut pada saat ledakan terjadi.

’’Untungnya saat itu banyak orang yang berhasil keluar tapi masih ada orang di dalam, para pekerja dan juga pengunjung,’’ ujar Zelensky seperti dikutip CNN.

Hingga kemarin, 18 orang dipastikan meninggal, 36 hilang dan 59 orang lainnya luka-luka. Proses evakuasi masih berlangsung. Besar kemungkinan jumlah korban jiwa akan bertambah. Penasihat Kementerian Dalam Negeri Ukraina Anton Herashchenko menegaskan bahwa tim penyelamat menggali reruntuhan untuk menemukan kemungkinan korban selamat.

’’Tim penyelamat tengah berusaha menolong orang-orang yang baru saja datang ke (mal) untuk membeli bahan makanan,’’ ujar Herashchenko dalam sebuah video sambil menunjukkan petugas yang sedang menggali puing-puing.

Lokasi penyerangan itu jauh dari pusat pertempuran Rusia-Ukraina. Komando Pasukan Udara Ukraina melaporkan bahwa misil ditembakkan dari pesawat pengebom jarak jauh KH-22 yang lepas landas dari pangkalan udara Rusia di utara Ukraina. Pesawat tersebut mampu membawa hulu ledak hingga 1 ton.

Selama beberapa hari terakhir, Rusia telah meningkatkan serangan dan penggunaan berbagai misil di penjuru Ukraina. Serangan tersebut telah mengakibatkan korban sipil di beberapa wilayah. Kremenchuk salah satu yang terparah. Dalam beberapa hari terakhir, setidaknya ada 100 misil yang ditembakkan Rusia.

Para pemimpin negara-negara anggota G7 yang tengah menggelar KTT di Jerman menyebut serangan di Kremenchuk itu adalah hal yang mengerikan. ’’Serangan membabi buta terhadap warga sipil tak berdosa merupakan kejahatan perang,’’ bunyi pernyataan bersama G7 seperti dikutip BBC.

Dewan Keamanan (DK) PBB berencana menggelar rapat darurat untuk membahas serangan Rusia terhadap warga sipil. Fokus utamanya terkait pengeboman di Kremenchuk.

Rusia di lain pihak mengklaim bahwa mereka tidak mengebom mal. Yang mereka hancurkan adalah gudang senjata dan amunisi sumbangan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Gudang itu berada di sekitar pabrik mobil di Kremenchuk. ’’Ledakan amunisi itu memicu kebakaran di pusat perbelanjaan terdekat, yang tidak beroperasi pada saat itu,’’ klaim militer Rusia.

Sementara itu Sekjen NATO Jens Stoltenberg menyatakan bahwa mereka akan meningkatkan jumlah pasukan reaksi cepatnya. Yaitu dari 40 ribu tentara menjadi 8 kali lipatnya yaitu 300 ribu. Pasukan reaksi cepat itu bisa diterjunkan sewaktu-waktu jika dibutuhkan.

Penambahan ini merupakan salah satu respon atas militerisasi Rusia. Jumlah pasukan NATO di negara-negara Baltik dan lima negara garis depan lainnya akan ditingkatkan 2-3 kali lipat menjadi antara 3 ribu – 5 ribu tentara. NATO juga akan memindahkan persediaan amunisi dan pasokan lainnya lebih jauh ke wilayah timur. Transisi ini diperkirakan akan selesai tahun depan.

’’Langkah untuk menambah pasukan NATO adalah bagian dari perombakan pertahanan kolektif dan pencegahan terbesar sejak Perang Dingin,’’ ujarnya dalam sesi konferensi pers menjelang pertemuan puncak NATO di Madrid, Spanyol kemarin. Pertemuan itu berlangsung hingga Kamis (30/1).

Stoltenberg berharap 30 anggota aliansi militer tersebut setuju untuk mendukung Ukraina lebih lanjut. Dia memperkirakan bahwa invasi Rusia bisa berlangsung hingga beberapa tahun. Karena itu negara-negara Barat harus siap memberikan dukungan jangka panjang. (sha/bay/jawapos)

RADARPAPUA.ID- Rusia siap mengakhiri invasi ke Ukraina. Tapi ada syarat dan ketentuannya. Ukraina diminta menyerah. Tak cukup sampai di situ, Kiev juga harus memenuhi semua permintaan Moskow.

Sebaliknya, jika menolak, operasi militer Rusia akan terus berlanjut sesuai rencana hingga tujuan mereka tercapai. ’’Penting untuk memerintahkan unit-unit nasionalis (Ukraina) agar meletakkan senjatanya,’’ ujar Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov kemarin (28/6) memaparkan syarat penawaran penghentian serangan.

Pernyataan itu diberikan setelah Rusia dikecam banyak pihak. Moskow menyasar sebuah mal di Kremenchuk, Poltava Oblast, Ukraina dengan misil Senin (27/6) sekitar pukul 15.50 waktu setempat. Pusat perbelanjaan tersebut tengah beroperasi. Menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, setidaknya ada seribu orang di dalam mall tersebut pada saat ledakan terjadi.

’’Untungnya saat itu banyak orang yang berhasil keluar tapi masih ada orang di dalam, para pekerja dan juga pengunjung,’’ ujar Zelensky seperti dikutip CNN.

Hingga kemarin, 18 orang dipastikan meninggal, 36 hilang dan 59 orang lainnya luka-luka. Proses evakuasi masih berlangsung. Besar kemungkinan jumlah korban jiwa akan bertambah. Penasihat Kementerian Dalam Negeri Ukraina Anton Herashchenko menegaskan bahwa tim penyelamat menggali reruntuhan untuk menemukan kemungkinan korban selamat.

’’Tim penyelamat tengah berusaha menolong orang-orang yang baru saja datang ke (mal) untuk membeli bahan makanan,’’ ujar Herashchenko dalam sebuah video sambil menunjukkan petugas yang sedang menggali puing-puing.

Lokasi penyerangan itu jauh dari pusat pertempuran Rusia-Ukraina. Komando Pasukan Udara Ukraina melaporkan bahwa misil ditembakkan dari pesawat pengebom jarak jauh KH-22 yang lepas landas dari pangkalan udara Rusia di utara Ukraina. Pesawat tersebut mampu membawa hulu ledak hingga 1 ton.

Selama beberapa hari terakhir, Rusia telah meningkatkan serangan dan penggunaan berbagai misil di penjuru Ukraina. Serangan tersebut telah mengakibatkan korban sipil di beberapa wilayah. Kremenchuk salah satu yang terparah. Dalam beberapa hari terakhir, setidaknya ada 100 misil yang ditembakkan Rusia.

Para pemimpin negara-negara anggota G7 yang tengah menggelar KTT di Jerman menyebut serangan di Kremenchuk itu adalah hal yang mengerikan. ’’Serangan membabi buta terhadap warga sipil tak berdosa merupakan kejahatan perang,’’ bunyi pernyataan bersama G7 seperti dikutip BBC.

Dewan Keamanan (DK) PBB berencana menggelar rapat darurat untuk membahas serangan Rusia terhadap warga sipil. Fokus utamanya terkait pengeboman di Kremenchuk.

Rusia di lain pihak mengklaim bahwa mereka tidak mengebom mal. Yang mereka hancurkan adalah gudang senjata dan amunisi sumbangan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Gudang itu berada di sekitar pabrik mobil di Kremenchuk. ’’Ledakan amunisi itu memicu kebakaran di pusat perbelanjaan terdekat, yang tidak beroperasi pada saat itu,’’ klaim militer Rusia.

Sementara itu Sekjen NATO Jens Stoltenberg menyatakan bahwa mereka akan meningkatkan jumlah pasukan reaksi cepatnya. Yaitu dari 40 ribu tentara menjadi 8 kali lipatnya yaitu 300 ribu. Pasukan reaksi cepat itu bisa diterjunkan sewaktu-waktu jika dibutuhkan.

Penambahan ini merupakan salah satu respon atas militerisasi Rusia. Jumlah pasukan NATO di negara-negara Baltik dan lima negara garis depan lainnya akan ditingkatkan 2-3 kali lipat menjadi antara 3 ribu – 5 ribu tentara. NATO juga akan memindahkan persediaan amunisi dan pasokan lainnya lebih jauh ke wilayah timur. Transisi ini diperkirakan akan selesai tahun depan.

’’Langkah untuk menambah pasukan NATO adalah bagian dari perombakan pertahanan kolektif dan pencegahan terbesar sejak Perang Dingin,’’ ujarnya dalam sesi konferensi pers menjelang pertemuan puncak NATO di Madrid, Spanyol kemarin. Pertemuan itu berlangsung hingga Kamis (30/1).

Stoltenberg berharap 30 anggota aliansi militer tersebut setuju untuk mendukung Ukraina lebih lanjut. Dia memperkirakan bahwa invasi Rusia bisa berlangsung hingga beberapa tahun. Karena itu negara-negara Barat harus siap memberikan dukungan jangka panjang. (sha/bay/jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/