alexametrics
25.7 C
Jayapura
Monday, 8 August 2022

Pangkas Biaya, Tesla Pecat Ratusan Karyawan

RADARPAPUA.ID- Tesla menutup kantornya di San Mateo, Californaia, AS. Imbasnya, ratusan pekerja di kantor tersebut diputus hubungan kerja (PHK). Itu adalah bagian dari pemangkasan biaya perusahaan karena situasi ekonomi yang tidak menentu saat ini.

Kantor di San Antonio tersebut bertugas mengerjakan fitur bantuan pengemudi Autopilot. Dilansir TechCrunch, ada 276 pegawai di kantor tersebut. Sebanyak 195 orang di-PHK dan 81 sisanya dipindahkan ke kantor cabang di Buffalo, New York. Mereka yang tak lagi dipekerjakan adalah petugas pemberian label pada data pelatihan, analis dan supervisor. Mayoritas karyawan yang di-PHK adalah pekerja yang dibayar per jam.

Pekerjaan pemberian label itu sejatinya sangat penting untuk mengembangkan sistem Artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan. Namun kerap kali pekerja di bidang tersebut memiliki ketrampilan dan gaji yang rendah. Beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan teknologi yang memilih menggunakan tenaga kerja yang lebih murah. Mereka berasal dari negara-negara kurang berkembang untuk mengerjakan pekerjaan tersebut.

Pada akhir 2021, Tesla memiliki 99.290 karyawan di seluruh dunia. Awal bulan ini CEO Tesla Elon Musk mengatakan bahwa perusahaannya kelebihan staf dan dia memiliki perasaan yang sangat buruk tentang ekonomi AS. Dua hal itulah yang mendorong PHK. Pekan lalu Musk akhirnya mengatakan kepada eksekutif perusahaan bahwa jumlah karyawan perlu dikurangi hingga 10 persen dalam tiga bulan kedepan.

Awalnya yang jadi sasaran utama adalah pekerja tetap. Saat itu Musk malah menyatakan akan menambah jumlah karyawan yang dibayar per jam. Namun laporan lain kemudian menyatakan bahwa perkerja yang dibayar per jam juga terancam. PHK di San Mateo menjadi buktinya.

Metode Tesla untuk mengurangi jumlah pegawainya terkadang dianggap kontroversial. Dua mantan karyawannya baru-baru ini mengajukan gugatan. Mereka mengklaim bahwa Tesla melanggar hukum federal dengan tidak memberikan pemberitahuan 60 hari sebelum PHK massal di fasilitas Gigafactory, Nevada. Namun untuk PH di San Mateo, salah satu sumber menyatakan bahwa sebagian besar pekerja diberhentikan berdasarkan kinerja. Alasan itu membuat Tesla lolos dari kewajiban untuk melakukan pemberitahuan sebelum pemecatan.

Perekonomian global saat ini memang tidak menentu. Hal itu imbas dari rantai pasokan barang yang masih kacau pasca pandemi dan juga perang Rusia-Ukraina. Lonjakan inflasi terjadi di hampir semua negara. Beberapa pakar ekonomi bahkan memperkirakan AS bakal mengalami resesi tahun depan.

Negara-negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan (Korsel) juga mengalami ketidakpastian ekonomi. Inflasi yang terjadi di Korsel saat ini merupakan yang tertinggi sejak 14 tahun terakhir. Harga makanan dan berbagai kebutuhan lainnya melonjak tajam.

Dilansir The Straits Times, saat ini mayoritas pekerja tak lagi makan siang di restoran ataupun tempat makan di kantor. Itu karena harganya naik hingga lebih dari 10 persen. Kini satu kali makan harganya bisa mencapai KRW 9ribu-10 ribu (Rp 103ribu-115 ribu). Begitu tingginya kenaikan, ia sampai diberi julukan lunch-flation alias inflasi makan siang.

Convenience store seperti 7-Eleven dan sejenisnya kini jadi pelarian. Mereka menjual makanan cepat saji dengan harga murah. Misalnya saja mie ramen yang harganya di kisaran KRW 1.000 atau Rp 11 ribu. Beberapa makanan lain harganya di kisaran Rp 50-75 ribu. Kini penjualan lunch-box di convenience store naik dari 30-50 persen.

Berdasarkan survey Incruit bulan lalu, sebanyak 96 persen dari 1.004 pekerja kantoran yang jadi responden menyatakan bahwa mereka kini merasa harga makan siang adalah beban. Namun mereka juga tidak bisa berhenti makan di restoran sepenuhnya. Sebab di Korsel, makan siang bersama rekan kantor sudah seperti budaya.

Setali tiga uang, di Jepang juga mengalami hal serupa. Selama beberapa dekade terakhir, ekonomi di negeri sakura tersebut stagnan. Harga hampir tak pernah naik, pun demikian dengan gaji penduduk. Karena tak ada kenaikan gaji, mereka jarang menghabiskan uang dan dampaknya juga ke perekonomian nasional yang jalan di tempat.

Namun tiba-tiba saja inflasi global mengguncang negara tersebut. Sejak April, harga barang naik tak terkendali. Namun di saat bersamaan, pendapatan mereka masih sama seperti sebelumnya. Misalnya saja snack umaibo yang kerap dikonsumsi penduduk harganya kini naik 20 persen. Sejak pertama kali diperkenalkan 4 dekade lalu, Umaibo dijual JPY 10 atau setara Rp.1000 dan tidak pernah naik. Dalam budaya Jepang, menaikkan harga barang adalah hal yang tabu. Perusahaan biasanya harus minta maaf secara terbuka ketika menaikkan harga barang.

Berdasarkan Teikoku Databank, harga lebih dari 10 ribu produk makanan bakal naik sekitar 13 persen tahun ini. Saat ini banyak produk yang mengeluarkan brosur permintaan maaf dan penjelasan kenapa harga barang mereka naik.

’’Konsumen tidak terbiasa menerima inflasi,” ujar CEO Suntory Holdings Takeshi Niinami. (sha/bay/jawapos)

RADARPAPUA.ID- Tesla menutup kantornya di San Mateo, Californaia, AS. Imbasnya, ratusan pekerja di kantor tersebut diputus hubungan kerja (PHK). Itu adalah bagian dari pemangkasan biaya perusahaan karena situasi ekonomi yang tidak menentu saat ini.

Kantor di San Antonio tersebut bertugas mengerjakan fitur bantuan pengemudi Autopilot. Dilansir TechCrunch, ada 276 pegawai di kantor tersebut. Sebanyak 195 orang di-PHK dan 81 sisanya dipindahkan ke kantor cabang di Buffalo, New York. Mereka yang tak lagi dipekerjakan adalah petugas pemberian label pada data pelatihan, analis dan supervisor. Mayoritas karyawan yang di-PHK adalah pekerja yang dibayar per jam.

Pekerjaan pemberian label itu sejatinya sangat penting untuk mengembangkan sistem Artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan. Namun kerap kali pekerja di bidang tersebut memiliki ketrampilan dan gaji yang rendah. Beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan teknologi yang memilih menggunakan tenaga kerja yang lebih murah. Mereka berasal dari negara-negara kurang berkembang untuk mengerjakan pekerjaan tersebut.

Pada akhir 2021, Tesla memiliki 99.290 karyawan di seluruh dunia. Awal bulan ini CEO Tesla Elon Musk mengatakan bahwa perusahaannya kelebihan staf dan dia memiliki perasaan yang sangat buruk tentang ekonomi AS. Dua hal itulah yang mendorong PHK. Pekan lalu Musk akhirnya mengatakan kepada eksekutif perusahaan bahwa jumlah karyawan perlu dikurangi hingga 10 persen dalam tiga bulan kedepan.

Awalnya yang jadi sasaran utama adalah pekerja tetap. Saat itu Musk malah menyatakan akan menambah jumlah karyawan yang dibayar per jam. Namun laporan lain kemudian menyatakan bahwa perkerja yang dibayar per jam juga terancam. PHK di San Mateo menjadi buktinya.

Metode Tesla untuk mengurangi jumlah pegawainya terkadang dianggap kontroversial. Dua mantan karyawannya baru-baru ini mengajukan gugatan. Mereka mengklaim bahwa Tesla melanggar hukum federal dengan tidak memberikan pemberitahuan 60 hari sebelum PHK massal di fasilitas Gigafactory, Nevada. Namun untuk PH di San Mateo, salah satu sumber menyatakan bahwa sebagian besar pekerja diberhentikan berdasarkan kinerja. Alasan itu membuat Tesla lolos dari kewajiban untuk melakukan pemberitahuan sebelum pemecatan.

Perekonomian global saat ini memang tidak menentu. Hal itu imbas dari rantai pasokan barang yang masih kacau pasca pandemi dan juga perang Rusia-Ukraina. Lonjakan inflasi terjadi di hampir semua negara. Beberapa pakar ekonomi bahkan memperkirakan AS bakal mengalami resesi tahun depan.

Negara-negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan (Korsel) juga mengalami ketidakpastian ekonomi. Inflasi yang terjadi di Korsel saat ini merupakan yang tertinggi sejak 14 tahun terakhir. Harga makanan dan berbagai kebutuhan lainnya melonjak tajam.

Dilansir The Straits Times, saat ini mayoritas pekerja tak lagi makan siang di restoran ataupun tempat makan di kantor. Itu karena harganya naik hingga lebih dari 10 persen. Kini satu kali makan harganya bisa mencapai KRW 9ribu-10 ribu (Rp 103ribu-115 ribu). Begitu tingginya kenaikan, ia sampai diberi julukan lunch-flation alias inflasi makan siang.

Convenience store seperti 7-Eleven dan sejenisnya kini jadi pelarian. Mereka menjual makanan cepat saji dengan harga murah. Misalnya saja mie ramen yang harganya di kisaran KRW 1.000 atau Rp 11 ribu. Beberapa makanan lain harganya di kisaran Rp 50-75 ribu. Kini penjualan lunch-box di convenience store naik dari 30-50 persen.

Berdasarkan survey Incruit bulan lalu, sebanyak 96 persen dari 1.004 pekerja kantoran yang jadi responden menyatakan bahwa mereka kini merasa harga makan siang adalah beban. Namun mereka juga tidak bisa berhenti makan di restoran sepenuhnya. Sebab di Korsel, makan siang bersama rekan kantor sudah seperti budaya.

Setali tiga uang, di Jepang juga mengalami hal serupa. Selama beberapa dekade terakhir, ekonomi di negeri sakura tersebut stagnan. Harga hampir tak pernah naik, pun demikian dengan gaji penduduk. Karena tak ada kenaikan gaji, mereka jarang menghabiskan uang dan dampaknya juga ke perekonomian nasional yang jalan di tempat.

Namun tiba-tiba saja inflasi global mengguncang negara tersebut. Sejak April, harga barang naik tak terkendali. Namun di saat bersamaan, pendapatan mereka masih sama seperti sebelumnya. Misalnya saja snack umaibo yang kerap dikonsumsi penduduk harganya kini naik 20 persen. Sejak pertama kali diperkenalkan 4 dekade lalu, Umaibo dijual JPY 10 atau setara Rp.1000 dan tidak pernah naik. Dalam budaya Jepang, menaikkan harga barang adalah hal yang tabu. Perusahaan biasanya harus minta maaf secara terbuka ketika menaikkan harga barang.

Berdasarkan Teikoku Databank, harga lebih dari 10 ribu produk makanan bakal naik sekitar 13 persen tahun ini. Saat ini banyak produk yang mengeluarkan brosur permintaan maaf dan penjelasan kenapa harga barang mereka naik.

’’Konsumen tidak terbiasa menerima inflasi,” ujar CEO Suntory Holdings Takeshi Niinami. (sha/bay/jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/