RADARPAPUA - Para ilmuwan baru-baru ini menganalisis DNA dari 131 individu kuno yang tersebar di wilayah Kaukasus, wilayah yang berada di perbatasan Eropa dan Asia. Penelitian ini mengungkap dua kelompok masyarakat berbeda yang hidup di wilayah ini ribuan tahun lalu. Satu kelompok memilih menjadi petani dan peternak, sementara kelompok lainnya tetap hidup sebagai pemburu-pengumpul. Temuan ini memberi wawasan baru mengenai awal mula praktik peternakan di salah satu wilayah tertua yang dikenal menjalankan usaha ini.
Studi yang diterbitkan di jurnal Nature ini mencakup hampir 6.000 tahun data genetik dari Pegunungan Kaukasus, yang membentang antara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Dalam penelitian ini, sampel tertua diambil dari gua Satanaj di Rusia yang berasal dari periode Mesolitik, sekitar 6.200–6.000 SM. Sampel lainnya berasal dari masa Neolitik awal di Arukhlo, Georgia, hingga ke Zaman Perunggu Akhir lebih dari 3.000 tahun yang lalu. Secara keseluruhan, sampel diambil dari 38 lokasi di wilayah Kaukasus.
Temuan penting dari penelitian ini adalah adanya perbedaan genetik yang kuat antara populasi di utara dan selatan Pegunungan Kaukasus. Di utara, garis keturunan pemburu-pengumpul menunjukkan ciri khas keturunan Eropa Timur, sementara di selatan, populasi memiliki campuran garis keturunan pemburu-pengumpul dengan DNA petani Anatolia Timur, wilayah yang kini dikenal sebagai Turki. Diperkirakan, orang-orang dari Anatolia inilah yang memperkenalkan teknik bertani kepada kelompok-kelompok di Kaukasus selatan, sehingga mereka menjadi salah satu populasi pertama yang mengembangkan peternakan.
Periode Eneolitik, atau Zaman Tembaga, membawa bukti awal keberadaan masyarakat pastoral di dataran tinggi dan peralihan teknologi antara dataran stepa dan pegunungan. Mereka menemukan bahwa masyarakat ini bertahan dengan stabilitas genetik yang tinggi selama Zaman Perunggu Awal dan Tengah, menandai keberlangsungan populasi yang cukup stabil.
Pada Zaman Perunggu Akhir, muncul aliran genetik baru ke dalam masyarakat pegunungan, bersamaan dengan mundurnya budaya stepa yang mulai berbaur dengan masyarakat dataran tinggi. Perkembangan ini mencerminkan interaksi budaya dan pertukaran teknologi yang intens antara wilayah-wilayah tersebut, menghubungkan sejarah genetik mereka dengan inovasi dan perubahan zaman.(aj)