Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kucing Bukan Ikut Petani, Tapi Diundang Budaya: Asal Usul Baru Kucing Domestik

Richard Lawongan • Jumat, 18 April 2025 | 12:16 WIB

Kisah rumit tentang asal usul kucing domestik: Penelitian mengarah ke Tunisia
Kisah rumit tentang asal usul kucing domestik: Penelitian mengarah ke Tunisia

RADARPAPUA - Selama ini, ilmuwan mengira kucing mulai menyebar ke Eropa sejak era Neolitikum, mengikuti para petani awal. Namun dua studi besar terkini menunjukkan cerita yang jauh lebih kompleks—dan menarik. Tunisia kini disebut sebagai asal usul utama kucing domestik, bukan Eropa atau Asia.

Penelitian dari Universitas Tor Vergata Roma dan Universitas Exeter menganalisis ribuan sisa tulang kucing dari lebih dari 200 situs arkeologi. Hasilnya, kucing domestik baru muncul di Eropa sekitar abad pertama Masehi, ribuan tahun lebih lambat dari dugaan sebelumnya.

Ternyata, dua gelombang besar membawa kucing ke Eropa. Pertama, dari Afrika Utara ke Sardinia sekitar abad ke-2 SM, membentuk populasi liar lokal. Kedua, kucing yang mirip ras domestik modern menyebar luas saat Kekaisaran Romawi, terutama dari Tunisia.

Uniknya, budaya dan agama memainkan peran besar dalam penyebaran kucing. Di Mesir, kucing disembah bersama dewi Bastet dan sering dimakamkan secara ritual. Dalam mitologi Yunani-Romawi, mereka diasosiasikan dengan Artemis dan Diana. Bahkan dalam kisah Nordik, kucing dikaitkan dengan dewi Freyja.

Sementara kucing domestik meluas, kucing liar asli Eropa mulai terdesak. Kompetisi sumber daya, penyebaran penyakit, dan kawin silang menjadi faktor utama penurunan populasi liar sejak awal milenium pertama Masehi.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pendekatan lama—yang hanya mengandalkan DNA mitokondria—kurang akurat. Dengan data genomik dan arkeologi yang lebih lengkap, kini kita tahu kucing menyebar bukan hanya karena praktis, tapi karena makna simboliknya bagi manusia masa lalu.

Jadi, kucing bukan sekadar pembasmi tikus yang menguntit petani. Mereka adalah hewan spiritual, simbol status, dan bagian dari jaringan perdagangan kuno. Sejarah mereka ternyata lebih megah daripada sekadar mengeong di lumbung padi.(aj)


 

 
 
Editor : Richard Lawongan
#Eropa #asal usul #domestic #kucing #Tunisia #arkeologi #sejarah #Mesir