RADARPAPUA - Tim peneliti dari AS dan Israel menemukan jejak pabrik pewarna ungu skala industri dari Zaman Besi di Tel Shiqmona, pesisir Israel. Lokasi ini dulunya merupakan desa nelayan, namun penggalian terbaru mengungkap bahwa tempat tersebut menjadi pusat produksi pewarna Tyrian purple yang sangat dihargai di Mediterania kuno.
Pewarna ungu ini dihasilkan dari lendir siput laut yang berubah warna saat terkena udara. Proses pembuatannya rumit dan melibatkan banyak langkah kimia agar warna bisa melekat kuat pada kain. Ditemukan pula 176 artefak pendukung seperti alat batu dengan bekas pewarna dan bejana besar berkapasitas hingga 350 liter.
Warna ungu Tyrian sangat mahal dan langka, digunakan oleh bangsawan dan kaum elit karena sulit diproduksi. Oleh sebab itu, penemuan fasilitas besar ini menjadi bukti penting adanya produksi massal untuk memenuhi permintaan luas masyarakat Mediterania kala itu.
Temuan ini juga menjawab misteri lama para arkeolog: dari mana asal pewarna ungu yang ditemukan pada kain-kain kuno di berbagai wilayah pesisir Mediterania. Tel Shiqmona ternyata adalah pusat utama produksi pewarna eksklusif tersebut.
Produksi pewarna di Tel Shiqmona diyakini dimulai sekitar 3.000 tahun lalu. Awalnya berskala kecil, namun berkembang pesat seiring pertumbuhan Kerajaan Israel. Setelah keruntuhannya, produksi sempat menurun sebelum bangkit kembali di masa kekuasaan Asyur.
Penemuan ini memperkuat pandangan bahwa teknologi dan perdagangan kuno jauh lebih maju dari yang kita kira. Pabrik ini bukan hanya bukti kecanggihan kimia zaman itu, tapi juga pentingnya warna sebagai simbol status sosial dan kekuasaan.(aj)
Editor : Prisilia Rumengan