Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Timbuktu Mali Kota Warisan Dunia yang Pernah Jadi Pusat Dagang Emas dan Ilmu Islam di Tengah Gurun Sahara

Prisilia Rumengan • Senin, 5 Mei 2025 | 20:35 WIB

Timbuktu, Mali: Great Mosque (britannica.com)
Timbuktu, Mali: Great Mosque (britannica.com)

RADARPAPUA – Timbuktu, kota yang terletak di tepi selatan Gurun Sahara dan sekitar 13 kilometer di utara Sungai Niger, pernah menjadi pusat budaya Islam dan perdagangan trans-Sahara yang gemilang.

Didirikan sekitar tahun 1100 oleh suku Tuareg sebagai perkemahan musiman, nama kota ini diyakini berasal dari seorang wanita penjaga kamp bernama "Tomboutou" yang berarti "ibu dengan pusar besar", menurut cerita rakyat setempat.

Pada abad ke-14 hingga ke-16, Timbuktu berkembang sebagai simpul utama dalam perdagangan emas, garam, dan budak.

Kota ini menjadi magnet bagi pedagang dari Afrika Utara dan pelajar Muslim dari berbagai penjuru dunia Islam. Di masa kejayaannya, sekitar tahun 1450, kota ini berpenduduk sekitar 100.000 orang, dan sekitar 25.000 di antaranya adalah pelajar.

Tiga masjid besar yang masih berdiri hingga hari ini — Djinguereber, Sankore, dan Sidi Yahia dibangun pada masa itu dan mencerminkan warisan arsitektur dan keilmuan Islam yang kuat.

Masjid Sankore bahkan menjadi pusat pendidikan melalui Universitas Sankore, yang didesain oleh arsitek asal Granada, Abū Isḥāq al-Sāḥili.

Ia memperkuat bangunan dengan rangka kayu agar dapat diperbaiki dengan mudah setiap tahun setelah musim hujan.

Timbuktu berganti kekuasaan beberapa kali. Pada 1433, suku Tuareg merebut kembali kota itu, kemudian ditaklukkan oleh Sonni ʿAlī dari Kekaisaran Songhai pada 1468. Di bawah dinasti Askia, khususnya Muḥammad I Askia, kota ini mengalami puncak kejayaan intelektual dan komersial.

Namun, setelah direbut Maroko pada 1591, kota ini mengalami kemunduran hebat. Banyak cendekiawan dibunuh atau diasingkan, dan serangan dari suku-suku lain seperti Bambara dan Fulani semakin memperparah kondisi kota.

Pada abad ke-19, penjelajah Eropa mulai tiba di Timbuktu, seperti Gordon Laing dari Skotlandia dan René-Auguste Caillié dari Prancis yang menyamar sebagai orang Arab agar bisa memasuki kota.

Pengalaman mereka membantu membuka wawasan Eropa tentang realitas kota yang selama berabad-abad hanya dikenal dari cerita-cerita penuh mitos.

Heinrich Barth, ahli geografi asal Jerman, juga mencatat perjalanan pentingnya ke Timbuktu.

Kolonial Prancis menguasai Timbuktu pada 1894, tetapi minim investasi infrastruktur membuat kota ini semakin terisolasi.

Saat Mali merdeka pada 1960, Timbuktu menjadi bagian dari negara baru tersebut dan kini menjadi pusat administrasi wilayah.

Ancaman baru datang pada 2012, ketika pemberontak Tuareg dan militan Islam merebut kota ini, mengklaimnya sebagai bagian dari negara merdeka Azawad.

Kelompok ekstremis seperti Ansar Dine menghancurkan situs keagamaan dan budaya, termasuk makam-makam suci di masjid Djinguereber dan Sidi Yahia.

Walau militan berhasil diusir pada 2013, kerusakan yang terjadi sangat besar. Restorasi pun dimulai untuk menyelamatkan warisan dunia ini.

Pada tahun 1988, Timbuktu ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Namun akibat konflik, pada 2012 kota ini masuk dalam daftar Warisan Dunia dalam Bahaya.

Meski populasinya kini hanya sekitar 54.453 jiwa (data 2009), Timbuktu tetap menjadi simbol peradaban besar yang pernah hidup di tengah padang pasir tandus.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#afrika barat #Masjid #Perdagangan #Sahara #peradaban #Timbuktu #gurun #mali #Islam