Era "Vibe-Coding": Saat AI Mengubah Cara Programmer Bekerja
Prisilia Rumengan• Selasa, 30 September 2025 | 12:06 WIB
Manajer produk kode Claude Cat Wu, kiri, dan Alex Albert, kepala hubungan Claude, bekerja di dalam kantor pusat Anthropic di San Francisco, Rabu, 27 Agustus 2025.
RADARPAPUA - Salah satu pasar terpanas dalam industri AI saat ini adalah chatbot yang bisa menulis kode komputer. Fenomena ini dikenal sebagian orang dengan sebutan “vibe-coding”, di mana AI melakukan pekerjaan teknis sementara manusia fokus pada ide besar.
Anthropic baru saja meluncurkan Claude Sonnet 4.5, yang mereka klaim sebagai AI terbaik untuk tugas pemrograman. Produk ini hadir di tengah persaingan sengit antara raksasa AI seperti OpenAI, Google, hingga startup baru yang berlomba menciptakan asisten coding tercanggih.
Menurut analis Gartner, coding menjadi kasus penggunaan utama AI bagi banyak perusahaan. Bagi sebagian besar organisasi besar, tujuan pertama mereka adalah mengoptimalkan proses pengembangan software dengan AI.
Namun, istilah "vibe-coding" menuai pro dan kontra. Cat Wu, manajer produk Claude Code, menegaskan bahwa tanggung jawab akhir tetap ada di tangan para insinyur, meski AI sangat membantu mempercepat proses kerja.
Pasar ini juga penuh drama bisnis. Startup coding AI bernama Windsurf sempat menjadi rebutan OpenAI dan Google sebelum akhirnya timnya diakuisisi dan bergabung dengan Cognition, pembuat asisten coding Devin.
Meski ada kekhawatiran AI akan menggantikan pekerjaan, banyak pakar percaya justru akan tercipta lebih banyak peluang bagi programmer terampil. AI membuat proses coding lebih cepat, tapi tetap membutuhkan intuisi dan keahlian manusia agar hasilnya aman, kuat, dan berkualitas.
Dengan kemampuan AI yang semakin canggih, dunia software engineering kini memasuki era baru. Programmer tak lagi harus terjebak dalam detail baris kode, melainkan bisa fokus pada visi besar—sementara AI yang mengurus sisanya.(Aj)