Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Rumah Maya Kuno Ditemukan di Bawah Laut Belize: Situs “Tak Terlihat” yang Terjaga Selama 1.500 Tahun

Richard Lawongan • Kamis, 16 Oktober 2025 | 21:34 WIB

Arkeolog dan bendera kawat menandai lokasi tiang kayu di Ch
Arkeolog dan bendera kawat menandai lokasi tiang kayu di Ch

RADARPAPUA - Selama bertahun-tahun, para arkeolog kesulitan menemukan jejak kehidupan sehari-hari masyarakat Maya karena rumah-rumah mereka dari kayu dan jerami mudah membusuk. Namun kini, penemuan luar biasa di laguna Punta Ycacos, Belize, mengubah pandangan itu. Di bawah lapisan laut dan gambut mangrove, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Heather McKillop dan Dr. E. Cory Sills menemukan kompleks perumahan Maya dari masa Klasik Akhir yang terawetkan dengan sempurna.

Situs bernama Cho-ok Ayin ini berukuran sekitar 32 x 27 meter dan berisi 56 tiang kayu keras serta tiga tiang palem yang masih berdiri di dasar laut. Kondisi tanpa oksigen di dalam lapisan gambut mangrove mencegah pembusukan oleh bakteri, membuat struktur rumah kayu dan artefak lain tetap utuh selama lebih dari 1.500 tahun. Penemuan ini, yang dipublikasikan di Ancient Mesoamerica, merupakan satu-satunya yang sejenis di seluruh pesisir Belize dan Semenanjung Yucatán.

Pemetaan situs menunjukkan pola empat bangunan khas rumah tangga Maya: satu rumah tinggal utama, dua dapur untuk produksi garam, dan satu bangunan tambahan untuk pengayaan garam. Para penghuni Cho-ok Ayin hidup antara tahun 550–800 Masehi, dan spesialis dalam memproduksi garam — komoditas penting untuk konsumsi dan perdagangan di seluruh Mesoamerika.

Proses produksi garam dimulai dengan mengumpulkan air laut asin, lalu menyaringnya melalui sedimen garam di wadah tanah liat. Air asin pekat (brine) kemudian direbus dalam periuk tanah hingga airnya menguap, menyisakan kristal garam. Kadang garam itu dikeraskan di dalam pot, lalu potnya dipecah untuk mengambil hasil akhirnya — praktik yang masih dilakukan hingga kini di Guatemala dan wilayah Maya lainnya.

Menariknya, meski rumah mereka hanya berupa tiang dan atap jerami, penduduk Cho-ok Ayin bukan masyarakat miskin. Temuan gerabah Belize Red, obsidian dari dataran tinggi Guatemala, dan alat batu halus dari utara Belize menunjukkan bahwa mereka aktif dalam jaringan perdagangan regional.

Penemuan ini juga mengguncang cara tradisional arkeologi memperkirakan populasi Maya. Biasanya, survei udara dan lidar hanya mendeteksi situs batu bertingkat atau gundukan tanah, sementara rumah-rumah kayu seperti Cho-ok Ayin tidak tercatat sama sekali. Artinya, banyak komunitas “tak terlihat” seperti ini mungkin tersebar di seluruh pesisir dan rawa-rawa Maya.

Bagi Dr. McKillop, temuan ini bukan sekadar arkeologi, tapi juga kisah ketahanan budaya. “Kondisi di pantai selatan Belize sangat ideal untuk pelestarian,” ujarnya. “Kita kini dapat melihat kehidupan nyata masyarakat Maya yang selama ini tersembunyi dari catatan sejarah.”(aj)

Editor : Richard Lawongan
#maya #penemuan #budaya #arkeologi