alexametrics
25.7 C
Jayapura
Thursday, 26 May 2022

Gus Yaqut Beda dengan Ahok, Para Penggagas Aksi Bela Islam Akan Kecewa, Cari…

RADARPAPUA.ID-Dosen Universitas Indonesia, Ade Armando memandang aksi bela Islam yang sedang dilancarkan Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang menuntut Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) dipenjara karena tuduhan penodaan agama, akan sia-sia.

 

Menurut Ade Armando, ada berbagai alasan Gus Yaqut sulit di-Ahok-kan. Ia sangat percaya bahwa gelombang serangan terhadap tokoh terpandang Nahdlatul Ulama (NU) itu bakal surut dengan sendirinya.

 

“Pertama, Gus Yaqut mungkin dibenci tapi dia tetaplah muslim. Gus Yaqut dibenci karena dia dikenal pluralis. Cara pandang keagamaannya mirip dengan Gus Dur. Buat dia agama seharusnya tidak mengkotak-kotakkan manusia,” jelasnya dikutip dari kanal YouTube Cokro TV, Jumat (4/3/2022).

 

Karena itu Gus Yaqut sejak awal menyatakan bahwa dia adalah menteri semua agama bukan hanya Islam.

 

Bahkan kata Ade, Gus Yaqut secara terbuka memberi dukungan kepada Syiah dan Ahmadiyah. Dia bahkan mengucapkan selamat hari raya kepada komunitas Baha’i.

 

Dia meminta semua kegiatan Kemenag tidak hanya diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran melainkan semua agama yang diakui di Indonesia.

 

“Sikap semacam itu jelas-jelas membuat marah banyak kubu islamis radikal. Jadi untuk waktu yang lama sudah ada keinginan sang menteri agama diganti. Apa yang terjadi sekarang adalah momentum yang ditunggu,” ungkapnya.

 

Namun Gus Yaqut tetaplah muslim, berbeda jauh dengan Ahok.

 

Gus Yaqut bakal di-Ahok-kan?

Dikatakan, Ahok dulu dibenci karena dia Tionghoa dan penganut Kristen, apalagi dia gubernur DKI. Buat kaum islamis radikal kombinasi itu adalah sebuah hal yang tidak bisa diterima.

Baca Juga :  WADUHH, Natalius Pigai Malah Sebut Ade Armando Korban Sekaligus Pelaku Keonaran

 

Bagi mereka bersahabat dengan Kristen saja sudah menyalahi ajaran Islam. Banyak dari mereka yang percaya, Kristen adalah kafir dan kafir adalah musuh. Ditambah lagi dengan Tionghoa yang difitnah sebagai musuh bangsa.

 

“Buat islamis radikal dipimpin oleh seorang Ahok harus dilawan sampai titik darah penghabisan,” tutur Ade lagi.

 

Namun, ini semua tidak berlaku pada Gus Yaqut. Dia seorang muslim. Para penentangnya tidak bisa menggunakan rujukan ayat untuk menjatuhkan dia. Gus Yaqut tetaplah saudara seiman, bukan kafir yang harus diperangi.

 

Karena itu langkah-langkah yang diambilnya tidak bisa dipelintir dalam skema upaya menghancurkan Islam.

 

Fakta kedua, lanjut Ade menjelaskan, Gus Yaqut adalah tokoh terpandang di Nahdlatul Ulama (NU) yang adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia.

 

Dia adalah adik Ketua Umum PBNU. Gus Yaqut juga pernah menjabat Ketua GP Ansor. Dan lebih dari itu dia adalah putera dari seorang pendiri NU yang juga salah satu tokoh ulama Rembang yaitu KH Muhammad Cholil Bisri. “Berani mengusik Gus Yaqut adalah sama saja mencari masalah dengan NU,” tegas dia.

 

Selama ini saja, kata Ade, hampir tak ada tokoh NU yang mengecam aturan sang menteri agama soal pengaturan azan. Bagitu juga dengan Muhammadiyah dan MUI mendukung peraturan tersebut.(fajar)

RADARPAPUA.ID-Dosen Universitas Indonesia, Ade Armando memandang aksi bela Islam yang sedang dilancarkan Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang menuntut Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) dipenjara karena tuduhan penodaan agama, akan sia-sia.

 

Menurut Ade Armando, ada berbagai alasan Gus Yaqut sulit di-Ahok-kan. Ia sangat percaya bahwa gelombang serangan terhadap tokoh terpandang Nahdlatul Ulama (NU) itu bakal surut dengan sendirinya.

 

“Pertama, Gus Yaqut mungkin dibenci tapi dia tetaplah muslim. Gus Yaqut dibenci karena dia dikenal pluralis. Cara pandang keagamaannya mirip dengan Gus Dur. Buat dia agama seharusnya tidak mengkotak-kotakkan manusia,” jelasnya dikutip dari kanal YouTube Cokro TV, Jumat (4/3/2022).

 

Karena itu Gus Yaqut sejak awal menyatakan bahwa dia adalah menteri semua agama bukan hanya Islam.

 

Bahkan kata Ade, Gus Yaqut secara terbuka memberi dukungan kepada Syiah dan Ahmadiyah. Dia bahkan mengucapkan selamat hari raya kepada komunitas Baha’i.

 

Dia meminta semua kegiatan Kemenag tidak hanya diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran melainkan semua agama yang diakui di Indonesia.

 

“Sikap semacam itu jelas-jelas membuat marah banyak kubu islamis radikal. Jadi untuk waktu yang lama sudah ada keinginan sang menteri agama diganti. Apa yang terjadi sekarang adalah momentum yang ditunggu,” ungkapnya.

 

Namun Gus Yaqut tetaplah muslim, berbeda jauh dengan Ahok.

 

Gus Yaqut bakal di-Ahok-kan?

Dikatakan, Ahok dulu dibenci karena dia Tionghoa dan penganut Kristen, apalagi dia gubernur DKI. Buat kaum islamis radikal kombinasi itu adalah sebuah hal yang tidak bisa diterima.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Kebijakan PPKM Darurat Tidak Ganggu Sektor Esensial

 

Bagi mereka bersahabat dengan Kristen saja sudah menyalahi ajaran Islam. Banyak dari mereka yang percaya, Kristen adalah kafir dan kafir adalah musuh. Ditambah lagi dengan Tionghoa yang difitnah sebagai musuh bangsa.

 

“Buat islamis radikal dipimpin oleh seorang Ahok harus dilawan sampai titik darah penghabisan,” tutur Ade lagi.

 

Namun, ini semua tidak berlaku pada Gus Yaqut. Dia seorang muslim. Para penentangnya tidak bisa menggunakan rujukan ayat untuk menjatuhkan dia. Gus Yaqut tetaplah saudara seiman, bukan kafir yang harus diperangi.

 

Karena itu langkah-langkah yang diambilnya tidak bisa dipelintir dalam skema upaya menghancurkan Islam.

 

Fakta kedua, lanjut Ade menjelaskan, Gus Yaqut adalah tokoh terpandang di Nahdlatul Ulama (NU) yang adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia.

 

Dia adalah adik Ketua Umum PBNU. Gus Yaqut juga pernah menjabat Ketua GP Ansor. Dan lebih dari itu dia adalah putera dari seorang pendiri NU yang juga salah satu tokoh ulama Rembang yaitu KH Muhammad Cholil Bisri. “Berani mengusik Gus Yaqut adalah sama saja mencari masalah dengan NU,” tegas dia.

 

Selama ini saja, kata Ade, hampir tak ada tokoh NU yang mengecam aturan sang menteri agama soal pengaturan azan. Bagitu juga dengan Muhammadiyah dan MUI mendukung peraturan tersebut.(fajar)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/