alexametrics
31.7 C
Jayapura
Wednesday, 10 August 2022

TERBONGKAR! Kodam Cendrawasih Tangkap Oknum TNI AD, Diduga Jual Amunisi ke Prajurit OPM

RADARPAPUA.ID–Belum selesai dengan kasus dugaan penjualan amunisi senjata api yang melibatkan Praka AKG, Kodam XVII/Cenderawasih kembali menangkap seorang prajurit TNI-AD di Papua. Mereka menangkap Prada YW di Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, karena diduga menyalahgunakan puluhan butir amunisi senjata api.

Sehari-hari Prada YW bertugas di Batalyon Infanteri (Yonif) Raider Khusus 751/Vira Jaya Sakti. Dua kasus tersebut mendapat atensi dari Markas Besar TNI-AD (Mabesad) di Jakarta.

Kepala Dinas Penerangan TNI-AD (Kadispenad) Brigjen TNI Tatang Subarna kemarin menyampaikan bahwa instansinya berkomitmen memberikan sanksi tegas kepada prajurit Angkatan Darat yang melanggar aturan. Apalagi jika pelanggaran prajurit tersebut masuk kategori berat seperti penjualan amunisi di daerah tugas.

Jenderal bintang satu TNI-AD itu tegas menyatakan bahwa perbuatan Praka AKG dan Prada YW tidak patut. ”Tidak mencerminkan nilai-nilai disiplin yang tertuang dalam Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI,” ungkap dia.

Yang jelas, lanjut dia, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman tidak menoleransi perbuatan dua prajurit tersebut. ”Pimpinan TNI-AD akan memberikan sanksi tegas kepada oknum prajurit yang terlibat penyalahgunaan amunisi,” tambahnya.

Kodam XVIII/Cenderawasih memastikan hal yang sama. Mereka bakal menindak tegas prajurit TNI-AD yang menjual amunisi senjata api kepada kelompok separatis teroris (KST) di Papua. Proses hukum terhadap Praka AKG dan Prada YW telah berjalan. Keduanya sudah diamankan personel Polisi Militer Kodam (Pomdam) XVII/Cenderawasih.

Saat dihubungi Jawa Pos, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Kav Herman Taryaman menyampaikan bahwa aksi Praka AKG diketahui dari pengembangan penanganan kasus pembacokan warga di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya. ”Selasa, 7 Juni 2022, pukul 07.00 WIT telah dilaksanakan penangkapan terhadap FS,” ungkap perwira menengah TNI-AD dengan dua kembang di pundak itu.

FS merupakan salah seorang anggota KST yang diburu aparat TNI dan Polri. Dia tidak lain adalah pelaku pembacokan warga bernama Asep. Setelah ditangkap aparat gabungan TNI dan Polri, FS dibawa ke Mapolsek Intan Jaya. Proses hukum terhadap FS dijalankan aparat kepolisian di sana. Berdasar keterangan FS, telah terjadi transaksi jual beli amunisi senjata api antara KST dan seorang prajurit TNI.

Transaksi tersebut dilakukan FS dengan perantara seorang warga berinisial JS. ”Bahwa benar dari pengembangan pemeriksaan FS diperoleh keterangan sudah membeli amunisi sebanyak 10 butir dari oknum TNI,” beber Herman.

Informasi yang diterima dari FS pun langsung ditindaklanjuti Kodam XVII/Cenderawasih. Mereka mengirimkan tim untuk mendatangi rumah JS dengan tujuan mengklarifikasi informasi tersebut.

Begitu tiba di rumah JS, lanjut Herman, petugas Kodam XVII/Cenderawasih mendapati Praka AKG tengah berada di sana. Petugas pun langsung menanyai Praka AKG. Hasilnya, diketahui Praka AKG merupakan personel Satuan Tugas Aparat Teritorial (Satgas Apter) Kodim Persiapan Intan Jaya. ”Saat dimintai keterangan, JS mengakui telah menerima titipan amunisi kaliber 5,56 milimeter sebanyak 10 butir dari Praka AKG,” jelas dia.

Amunisi tersebut lantas diserahkan kepada FS. Penyerahan amunisi dilakukan secara bertahap dua kali. Kepada petugas dari Kodam XVII/Cenderawasih, Praka AKG tidak mengelak dan berusaha menyangkal perbuatan yang telah dilakukan. ”Praka AKG mengakui telah menjual amunisi sebanyak 10 butir,” kata Herman.

Bukan hanya itu, Praka AKG juga membenarkan bahwa amunisi tersebut dijual kepada anggota KST. Dalam video yang beredar di Facebook, dia mengaku menjual per butir peluru Rp 200 ribu. Padahal, dia tahu KST merupakan kelompok yang kerap menyerang masyarakat dan aparat keamanan TNI-Polri.

Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa menegaskan bahwa dirinya sudah memantau dan memperhatikan setiap kasus pelanggaran hukum oleh TNI. ”Saya mengawal hampir setiap minggu seluruh proses hukum yang berlangsung,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom mengakui bahwa pihaknya mendapatkan senjata dan amunisi dari beberapa sumber. Yakni, merampas senjata dari TNI dan Polri, membeli senjata dari anggota TNI dan Polri, serta terakhir membelinya di pasar gelap. ”Namanya juga usaha, orang berjuang untuk merdeka pasti berusaha keras mendapatkan senjata,” ungkapnya kepada Jawa Pos.

Menurut dia, pihaknya juga telah melihat video anggota TNI yang menjual senjata dan amunisi tersebut. Dalam video tersebut tampak dilakukan interogasi. ”Saya malah kasihan ke anggota TNI itu,” ujarnya.

Terpisah, pemerhati isu-isu militer dan pertahanan dari Institute for Security and Strategic Studies Khairul Fahmi menyampaikan bahwa kasus penjualan senjata api dan amunisi yang melibatkan prajurit TNI di Papua bukan kali pertama terjadi. Banyak aspek yang dapat memengaruhi. ”Bertugas di daerah operasi seperti di Papua itu kekuatan mental dan moril prajurit tidak bisa dianggap sama rata,” katanya.

Prajurit yang memiliki kebiasaan kurang disiplin dalam aktivitas di luar kedinasan, lanjut dia, cenderung berani melakukan praktik buruk. Mereka berpotensi melakukan pelanggaran disiplin hingga perbuatan melawan hukum militer ketika bertugas di daerah operasi.

Terlebih jika perbuatan itu mendatangkan keuntungan dan dapat dimanfaatkan untuk aktivitas-aktivitas pelampiasan stres. ”Bagaimana menghilangkan praktik-praktik buruk semacam itu akan sangat bergantung pada kemampuan TNI-Polri menjaga moril dan mental anggotanya,” ungkap Fahmi.

Selain itu, Fahmi menyatakan, penting bagi TNI dan Polri menghadirkan figur pimpinan yang bisa menjadi teladan sekaligus mampu mengawasi dan mengayomi anggota selama berada di daerah operasi. Figur itu harus ada di setiap level. Terutama yang bertugas memimpin prajurit di lapangan atau daerah penugasan. Dengan begitu, tingkah laku para prajurit di medan tugas tidak akan melenceng dari aturan.

Komisioner Kompolnas Poengky Indarti menuturkan, oknum TNI dan Polri yang tega menjual senjata beserta amunisi ke KST layak disebut sebagai pengkhianat. Mereka sangat layak diproses pidana dan dipecat. ”Proses semuanya,” tegasnya.(Jawapos)

RADARPAPUA.ID–Belum selesai dengan kasus dugaan penjualan amunisi senjata api yang melibatkan Praka AKG, Kodam XVII/Cenderawasih kembali menangkap seorang prajurit TNI-AD di Papua. Mereka menangkap Prada YW di Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, karena diduga menyalahgunakan puluhan butir amunisi senjata api.

Sehari-hari Prada YW bertugas di Batalyon Infanteri (Yonif) Raider Khusus 751/Vira Jaya Sakti. Dua kasus tersebut mendapat atensi dari Markas Besar TNI-AD (Mabesad) di Jakarta.

Kepala Dinas Penerangan TNI-AD (Kadispenad) Brigjen TNI Tatang Subarna kemarin menyampaikan bahwa instansinya berkomitmen memberikan sanksi tegas kepada prajurit Angkatan Darat yang melanggar aturan. Apalagi jika pelanggaran prajurit tersebut masuk kategori berat seperti penjualan amunisi di daerah tugas.

Jenderal bintang satu TNI-AD itu tegas menyatakan bahwa perbuatan Praka AKG dan Prada YW tidak patut. ”Tidak mencerminkan nilai-nilai disiplin yang tertuang dalam Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI,” ungkap dia.

Yang jelas, lanjut dia, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman tidak menoleransi perbuatan dua prajurit tersebut. ”Pimpinan TNI-AD akan memberikan sanksi tegas kepada oknum prajurit yang terlibat penyalahgunaan amunisi,” tambahnya.

Kodam XVIII/Cenderawasih memastikan hal yang sama. Mereka bakal menindak tegas prajurit TNI-AD yang menjual amunisi senjata api kepada kelompok separatis teroris (KST) di Papua. Proses hukum terhadap Praka AKG dan Prada YW telah berjalan. Keduanya sudah diamankan personel Polisi Militer Kodam (Pomdam) XVII/Cenderawasih.

Saat dihubungi Jawa Pos, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Kav Herman Taryaman menyampaikan bahwa aksi Praka AKG diketahui dari pengembangan penanganan kasus pembacokan warga di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya. ”Selasa, 7 Juni 2022, pukul 07.00 WIT telah dilaksanakan penangkapan terhadap FS,” ungkap perwira menengah TNI-AD dengan dua kembang di pundak itu.

FS merupakan salah seorang anggota KST yang diburu aparat TNI dan Polri. Dia tidak lain adalah pelaku pembacokan warga bernama Asep. Setelah ditangkap aparat gabungan TNI dan Polri, FS dibawa ke Mapolsek Intan Jaya. Proses hukum terhadap FS dijalankan aparat kepolisian di sana. Berdasar keterangan FS, telah terjadi transaksi jual beli amunisi senjata api antara KST dan seorang prajurit TNI.

Transaksi tersebut dilakukan FS dengan perantara seorang warga berinisial JS. ”Bahwa benar dari pengembangan pemeriksaan FS diperoleh keterangan sudah membeli amunisi sebanyak 10 butir dari oknum TNI,” beber Herman.

Informasi yang diterima dari FS pun langsung ditindaklanjuti Kodam XVII/Cenderawasih. Mereka mengirimkan tim untuk mendatangi rumah JS dengan tujuan mengklarifikasi informasi tersebut.

Begitu tiba di rumah JS, lanjut Herman, petugas Kodam XVII/Cenderawasih mendapati Praka AKG tengah berada di sana. Petugas pun langsung menanyai Praka AKG. Hasilnya, diketahui Praka AKG merupakan personel Satuan Tugas Aparat Teritorial (Satgas Apter) Kodim Persiapan Intan Jaya. ”Saat dimintai keterangan, JS mengakui telah menerima titipan amunisi kaliber 5,56 milimeter sebanyak 10 butir dari Praka AKG,” jelas dia.

Amunisi tersebut lantas diserahkan kepada FS. Penyerahan amunisi dilakukan secara bertahap dua kali. Kepada petugas dari Kodam XVII/Cenderawasih, Praka AKG tidak mengelak dan berusaha menyangkal perbuatan yang telah dilakukan. ”Praka AKG mengakui telah menjual amunisi sebanyak 10 butir,” kata Herman.

Bukan hanya itu, Praka AKG juga membenarkan bahwa amunisi tersebut dijual kepada anggota KST. Dalam video yang beredar di Facebook, dia mengaku menjual per butir peluru Rp 200 ribu. Padahal, dia tahu KST merupakan kelompok yang kerap menyerang masyarakat dan aparat keamanan TNI-Polri.

Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa menegaskan bahwa dirinya sudah memantau dan memperhatikan setiap kasus pelanggaran hukum oleh TNI. ”Saya mengawal hampir setiap minggu seluruh proses hukum yang berlangsung,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom mengakui bahwa pihaknya mendapatkan senjata dan amunisi dari beberapa sumber. Yakni, merampas senjata dari TNI dan Polri, membeli senjata dari anggota TNI dan Polri, serta terakhir membelinya di pasar gelap. ”Namanya juga usaha, orang berjuang untuk merdeka pasti berusaha keras mendapatkan senjata,” ungkapnya kepada Jawa Pos.

Menurut dia, pihaknya juga telah melihat video anggota TNI yang menjual senjata dan amunisi tersebut. Dalam video tersebut tampak dilakukan interogasi. ”Saya malah kasihan ke anggota TNI itu,” ujarnya.

Terpisah, pemerhati isu-isu militer dan pertahanan dari Institute for Security and Strategic Studies Khairul Fahmi menyampaikan bahwa kasus penjualan senjata api dan amunisi yang melibatkan prajurit TNI di Papua bukan kali pertama terjadi. Banyak aspek yang dapat memengaruhi. ”Bertugas di daerah operasi seperti di Papua itu kekuatan mental dan moril prajurit tidak bisa dianggap sama rata,” katanya.

Prajurit yang memiliki kebiasaan kurang disiplin dalam aktivitas di luar kedinasan, lanjut dia, cenderung berani melakukan praktik buruk. Mereka berpotensi melakukan pelanggaran disiplin hingga perbuatan melawan hukum militer ketika bertugas di daerah operasi.

Terlebih jika perbuatan itu mendatangkan keuntungan dan dapat dimanfaatkan untuk aktivitas-aktivitas pelampiasan stres. ”Bagaimana menghilangkan praktik-praktik buruk semacam itu akan sangat bergantung pada kemampuan TNI-Polri menjaga moril dan mental anggotanya,” ungkap Fahmi.

Selain itu, Fahmi menyatakan, penting bagi TNI dan Polri menghadirkan figur pimpinan yang bisa menjadi teladan sekaligus mampu mengawasi dan mengayomi anggota selama berada di daerah operasi. Figur itu harus ada di setiap level. Terutama yang bertugas memimpin prajurit di lapangan atau daerah penugasan. Dengan begitu, tingkah laku para prajurit di medan tugas tidak akan melenceng dari aturan.

Komisioner Kompolnas Poengky Indarti menuturkan, oknum TNI dan Polri yang tega menjual senjata beserta amunisi ke KST layak disebut sebagai pengkhianat. Mereka sangat layak diproses pidana dan dipecat. ”Proses semuanya,” tegasnya.(Jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/