alexametrics
25.7 C
Jayapura
Thursday, 18 August 2022

Awas Lonjakan Kasus Covid-19! Delapan Orang Terinfeksi BA.4 dan BA.5

RADARPAPUA.ID– Varian Covid-19 BA.4 dan BA.5 membuat beberapa negara mengalami lonjakan kasus. Varian ini sudah ada di Indonesia. Hingga kemarin (13/6) ada delapan orang yang terinfeksi varian ini.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan satu dari delapan orang yang terifeksi varian anyar ini bergejala sedang. Dia belum mendapatkan vaksin ketiga atau booster. Sementara tujuh lainnya tidak bergejala atau bergejala ringan.

Pemerintah terus mengamati munculnya kasus Covid-19 subvarian BA.4 dan BA.5 di tanah air. Meskipun kasus positif masih terkendali, Presiden Joko Widodo mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati dalam menghadapi subvarian baru virus tersebut.”Bapak Presiden memberikan arahan ke kami bahwa lebih baik kita waspada, lebih baik kita hati-hati,” katanya seusai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo.

Budi mengatakan bahwa Omicron subvarian BA.4 dan BA.5 menyebabkan kenaikan kasus di berbagai negara. Meski demikian kenaikan kasus, keparahaan maupun kematiannya lebih rendah disbanding dengan varian omicron. “Kasus hospitalisasinya juga 1/3 dari kasus hospitalisasi delta dan omicron,” ungkapnya.

Dia menambahkan, berdasarkan indikator transmisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kondisi Covid-19 di Indonesia masih relatif baik dibandingkan negara lainnya. Standar WHO untuk kasus konfirmasi level satu adalah maksimal 20 kasus per minggu per 100 ribu penduduk. Sementara Indonesia masih ada di angka satu kasus per minggu per 100 ribu penduduk. “Positivity rate-nya juga WHO mengasih standar 5 persen, kita masih di angka 1,36 persen,” ucapnya. Sementara reproduction rate atau reproduksi efektif di Indonesia di pada angka 1. Ini perlu dimonitor terus.

Budi menuturkan bahwa pemerintah akan terus berupaya mengantisipasi lonjakan kasus yaitu dengan meningkatkan vaksinasi penguat atau booster.”Bapak Presiden juga memberikan arahan agar setiap acara-acara besar kalau bisa diwajibkan untuk menggunakan booster,” katanya. Alasannya agar yang mengikuti acara dengan kerumunan besar itu relatif aman.

Selain ditemukan varian anyar, kasus harian juga perlahan menunjukkan tren kenaikan. Setelah sebelumnya stabil di angka 200 an per harinya pada akhir Mei hingga awal Juni, kasus kini berada pada kisaran 500 an per harinya.

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran UI Prof. Tjandra Yoga Aditama, karena jumlah kasus sehari sudah melebihi 500 per harinya, maka sudah saatnya pemerintah menyampaikan pada masyarakat tentang bagaimana pola penularan varian atau sub varian dari Covid-19 yang saat ini Ada di Indonesia selain 4 orang yang di Bali dan 4 pasien di Jakarta.

”Artinya, pemeriksaan Whole Genome Sequencing harius ditingkatkan, dan juga peneylidikan epidemiologis agar situasi penyebab kenaikan kasus menjadi jelas dan kebijakan yang diambil juga berbasis bukti yang nyata,” jelasnya.

Yoga menyebut, di dunia saat ini, sub varian Omicron BA.2 dan BA.2.X masih tetap menjadi yang dominan meskipun berdasarkan laporan WHO trennya mengalami penurunan dari 44 persen menjadi 19 persen.

Selain itu, masih ada beberapa sub varian Omicron lainnya meskipun persebarannya tidak mengalami peningkatan signifikan antara lain BA.2.11, BA.2.13, dan BA.2.9.1. Semua sub varian ini menunjukkan mutasi pada lokasi gen S L452X. “sub varian Omicron lain yang pernah sebelumnya dominan seperti BA.1, BA.1.1. BA.1.X dan BA.3 juga terus menurun sampai dibawah 1 persen,” jelas Yoga.

Sejauh ini sub varian yang mengalami peningkatan di dunia adalah BA.2.12.1, BA.5, dan BA.4. Dari ke tiga jenis sub varian BA ini, data terakhir menunjukkan sub varian BA.2.12.1 adalah yang paling banyak di temui. Sub varian ini sudah terdeteksi di 53 negara dan diduga jadi penyebab penting kenaikan kasus. ”Artinya perlu juga di cek mendalam ada tidaknya di negara kita,” kata Yoga.

Adapun sub varian BA.5 dilaporkan terdeteksi di 47 negara dan BA.4 terdeteksi di 42 negara. Persebaran dua sub varian ini lebih sedikit dari BA.2.12.1. Ketiga sub varian ini menunjukkan mutasi pada lokasi gen S L452.

Mutasi-mutasi yang terdeteksi pada BA.5, BA.4 serta BA.2.12.1 menunjukkan peningkatan risiko penularan, kemampuan untuk mengecoh sistem imun (immune escape) yang antara lain ditandai dengan masih tetap dapat tertular walaupun sudah divaksinasi lengkap. ”Yang patut disyukuri adalah bahwa sejauh ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan peningkatan beratnya penyakit, walaupun memang lebih mudah menular,” ujar Yoga.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kasus harian di Indonesia masih dalam tahap yang baik jika dibandingkan dengan beberapa negara lain di dunia. “Ini dilihat dari tingkat kesembuhan secara nasional 97 persen, angka kematiannya 2,58, dan kita lihat penularan kasus kebanyakan lokal,” ungkapnya/

Airlangga juga menyatakan realisasi anggaran pemulihan ekonomi nasional sebesar 20,9 persen atau Rp95,13 triliun dari Rp455,62 triliun. Realisasi tersebut terdiri dari berbagai bidang, mulai dari penanganan kesehatan, perlindungan masyarakat, hingga pemulihan ekonomi. “Ini antara lain untuk sektor pariwisata, dukungan UMKM, dan fasilitas perpajakan,” ucapnya. (tau/lyn/jawapos)

RADARPAPUA.ID– Varian Covid-19 BA.4 dan BA.5 membuat beberapa negara mengalami lonjakan kasus. Varian ini sudah ada di Indonesia. Hingga kemarin (13/6) ada delapan orang yang terinfeksi varian ini.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan satu dari delapan orang yang terifeksi varian anyar ini bergejala sedang. Dia belum mendapatkan vaksin ketiga atau booster. Sementara tujuh lainnya tidak bergejala atau bergejala ringan.

Pemerintah terus mengamati munculnya kasus Covid-19 subvarian BA.4 dan BA.5 di tanah air. Meskipun kasus positif masih terkendali, Presiden Joko Widodo mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati dalam menghadapi subvarian baru virus tersebut.”Bapak Presiden memberikan arahan ke kami bahwa lebih baik kita waspada, lebih baik kita hati-hati,” katanya seusai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo.

Budi mengatakan bahwa Omicron subvarian BA.4 dan BA.5 menyebabkan kenaikan kasus di berbagai negara. Meski demikian kenaikan kasus, keparahaan maupun kematiannya lebih rendah disbanding dengan varian omicron. “Kasus hospitalisasinya juga 1/3 dari kasus hospitalisasi delta dan omicron,” ungkapnya.

Dia menambahkan, berdasarkan indikator transmisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kondisi Covid-19 di Indonesia masih relatif baik dibandingkan negara lainnya. Standar WHO untuk kasus konfirmasi level satu adalah maksimal 20 kasus per minggu per 100 ribu penduduk. Sementara Indonesia masih ada di angka satu kasus per minggu per 100 ribu penduduk. “Positivity rate-nya juga WHO mengasih standar 5 persen, kita masih di angka 1,36 persen,” ucapnya. Sementara reproduction rate atau reproduksi efektif di Indonesia di pada angka 1. Ini perlu dimonitor terus.

Budi menuturkan bahwa pemerintah akan terus berupaya mengantisipasi lonjakan kasus yaitu dengan meningkatkan vaksinasi penguat atau booster.”Bapak Presiden juga memberikan arahan agar setiap acara-acara besar kalau bisa diwajibkan untuk menggunakan booster,” katanya. Alasannya agar yang mengikuti acara dengan kerumunan besar itu relatif aman.

Selain ditemukan varian anyar, kasus harian juga perlahan menunjukkan tren kenaikan. Setelah sebelumnya stabil di angka 200 an per harinya pada akhir Mei hingga awal Juni, kasus kini berada pada kisaran 500 an per harinya.

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran UI Prof. Tjandra Yoga Aditama, karena jumlah kasus sehari sudah melebihi 500 per harinya, maka sudah saatnya pemerintah menyampaikan pada masyarakat tentang bagaimana pola penularan varian atau sub varian dari Covid-19 yang saat ini Ada di Indonesia selain 4 orang yang di Bali dan 4 pasien di Jakarta.

”Artinya, pemeriksaan Whole Genome Sequencing harius ditingkatkan, dan juga peneylidikan epidemiologis agar situasi penyebab kenaikan kasus menjadi jelas dan kebijakan yang diambil juga berbasis bukti yang nyata,” jelasnya.

Yoga menyebut, di dunia saat ini, sub varian Omicron BA.2 dan BA.2.X masih tetap menjadi yang dominan meskipun berdasarkan laporan WHO trennya mengalami penurunan dari 44 persen menjadi 19 persen.

Selain itu, masih ada beberapa sub varian Omicron lainnya meskipun persebarannya tidak mengalami peningkatan signifikan antara lain BA.2.11, BA.2.13, dan BA.2.9.1. Semua sub varian ini menunjukkan mutasi pada lokasi gen S L452X. “sub varian Omicron lain yang pernah sebelumnya dominan seperti BA.1, BA.1.1. BA.1.X dan BA.3 juga terus menurun sampai dibawah 1 persen,” jelas Yoga.

Sejauh ini sub varian yang mengalami peningkatan di dunia adalah BA.2.12.1, BA.5, dan BA.4. Dari ke tiga jenis sub varian BA ini, data terakhir menunjukkan sub varian BA.2.12.1 adalah yang paling banyak di temui. Sub varian ini sudah terdeteksi di 53 negara dan diduga jadi penyebab penting kenaikan kasus. ”Artinya perlu juga di cek mendalam ada tidaknya di negara kita,” kata Yoga.

Adapun sub varian BA.5 dilaporkan terdeteksi di 47 negara dan BA.4 terdeteksi di 42 negara. Persebaran dua sub varian ini lebih sedikit dari BA.2.12.1. Ketiga sub varian ini menunjukkan mutasi pada lokasi gen S L452.

Mutasi-mutasi yang terdeteksi pada BA.5, BA.4 serta BA.2.12.1 menunjukkan peningkatan risiko penularan, kemampuan untuk mengecoh sistem imun (immune escape) yang antara lain ditandai dengan masih tetap dapat tertular walaupun sudah divaksinasi lengkap. ”Yang patut disyukuri adalah bahwa sejauh ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan peningkatan beratnya penyakit, walaupun memang lebih mudah menular,” ujar Yoga.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kasus harian di Indonesia masih dalam tahap yang baik jika dibandingkan dengan beberapa negara lain di dunia. “Ini dilihat dari tingkat kesembuhan secara nasional 97 persen, angka kematiannya 2,58, dan kita lihat penularan kasus kebanyakan lokal,” ungkapnya/

Airlangga juga menyatakan realisasi anggaran pemulihan ekonomi nasional sebesar 20,9 persen atau Rp95,13 triliun dari Rp455,62 triliun. Realisasi tersebut terdiri dari berbagai bidang, mulai dari penanganan kesehatan, perlindungan masyarakat, hingga pemulihan ekonomi. “Ini antara lain untuk sektor pariwisata, dukungan UMKM, dan fasilitas perpajakan,” ucapnya. (tau/lyn/jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/