alexametrics
23.7 C
Jayapura
Friday, 9 December 2022

Eks Gelandang Berharap Manchester United Tak Jumpa Barcelona di Playoff Liga Europa

RADARPAPUA.ID–Manchester United sukses meneruskan catatan 100 persen kemenangan dalam lima matchday grup E di Liga Europa musim ini.

Di Reale Arena kemarin (4/11) WIB, United dapat membalaskan dendam atas tuan rumah Real Sociedad.

Sama seperti skor kemenangan La Real –sebutan Real Sociedad– di Old Trafford pada matchday pertama (9/11), United juga menorehkan skor 1-0 kemarin.

Winger 18 tahun asal Argentina, Alejandro Garnacho, jadi penentu revans The Red Devils pada menit ke-17.

Namun, kemenangan itu tidak sesuai dengan misi United yang butuh skor dengan margin minimal dua gol demi finis di puncak klasemen grup E.

Meski secara head-to-head sama, United kalah oleh La Real Sociedad berdasar diferensiasi gol. United surplus 7 gol (10-3), La Real surplus 8 gol (10-2). Seiring hanya finis runner-up grup, United harus melewati babak playoff knockout.

Sebelum melangkah ke 16 besar seperti yang dicapai La Real, United harus berjibaku mengalahkan klub-klub ”buangan” dari fase grup Liga Champions.

Opsi lawan United, antara lain, AFC Ajax, Bayer Leverkusen, FC Barcelona, Sporting CP, Red Bull Salzburg, Shakhtar Donetsk, Sevilla, dan Juventus.

Di antara delapan tim tersebut, menghadapi Barca merupakan laga yang paling tidak diharapkan terjadi di 16 besar.

”Saya berharap United terhindar dari Barca yang pasti menyajikan laga sangat sulit,’’ ucap mantan gelandang United Owen Hargreaves dalam analisisnya untuk BT Sport.

Hargreaves juga tidak mengesampingkan Sevilla yang kini ditangani pelatih top Argentina Jorge Sampaoli.

”Sejujurnya, tidak ada yang mudah. Sporting pun bersaing hebat dengan Tottenham Hotspur. Tapi, pada akhirnya, saya masih berpikir bahwa United tetap favorit melawan tim mana pun, asal jangan Barca,” imbuh Hargreaves.

Faktanya, bukan hanya Barca, klub-klub Spanyol lain juga memiliki rekam jejak menyulitkan bagi United. Terutama dalam performanya di Liga Europa.

Dua musim lalu misalnya. Ambisi United merengkuh juara Liga Europa dikandaskan Villarreal CF dalam final yang berakhir dengan adu penalti 10-11 (1-1 di Stadion Gdansk).

Begitu pula di balik kegagalan menembus final Liga Europa 2019–2020. Langkah The Red Devils diakhiri Sevilla di semifinal dengan kekalahan 1-2 dalam laga berformat single match karena pandemi Covid-19.

Momok klub Spanyol sejatinya sudah dimulai sejak debut United di Liga Europa musim 2011–2012. Di 16 besar, langkah United dihentikan Athletic Bilbao yang menang sekaligus dalam dua leg.

Untuk Barca, United beberapa kali takluk ketika bersua dalam fase knockout di Liga Champions. Antara lain, dua kali keok dalam final edisi 2009 dan 2011.

The Red Devils juga menyerah di perempat final 2018–2019. Musim lalu, langkah United di 16 besar Liga Champions pun terhenti oleh Atletico Madrid.

La Real yang dua kali dihadapi skuad asuhan Erik ten Hag di Liga Europa musim ini pun terbilang merepotkan.

Berbicara kepada MUTV, Ten Hag menilai anak asuhnya gagal mendapatkan tiket bye ke 16 besar karena memang tidak lebih baik dari La Real.

’’Kalian tidak selalu mendapatkan apa yang selayaknya kalian dapatkan. Itulah sepak bola,’’ tutur Ten Hag.

”Tetapi, hari ini (kemarin, Red) kami mampu memenangkan pertandingan dan itu membuat saya senang,” sambung Ten Hag yang juga punya kans menghadapi mantan klubnya, Ajax, di playoff knockout.

Pandit sekaligus mantan striker timnas Inggris Chris Sutton menilai performa United selama fase grup Liga Europa tidak cukup untuk bersaing dengan Barca maupun klub limpahan dari Liga Champions lainnya.

’’Bahkan, kalau melihat penampilan mereka (lawan La Real kemarin dini hari WIB, Red), saya pikir mereka juga tidak layak memenanginya,’’ sindir Sutton yang pernah merasakan final Piala UEFA (nama lama Liga Europa) pada 2002–2023 bersama Celtic FC.(Jawapos)

RADARPAPUA.ID–Manchester United sukses meneruskan catatan 100 persen kemenangan dalam lima matchday grup E di Liga Europa musim ini.

Di Reale Arena kemarin (4/11) WIB, United dapat membalaskan dendam atas tuan rumah Real Sociedad.

Sama seperti skor kemenangan La Real –sebutan Real Sociedad– di Old Trafford pada matchday pertama (9/11), United juga menorehkan skor 1-0 kemarin.

Winger 18 tahun asal Argentina, Alejandro Garnacho, jadi penentu revans The Red Devils pada menit ke-17.

Namun, kemenangan itu tidak sesuai dengan misi United yang butuh skor dengan margin minimal dua gol demi finis di puncak klasemen grup E.

Meski secara head-to-head sama, United kalah oleh La Real Sociedad berdasar diferensiasi gol. United surplus 7 gol (10-3), La Real surplus 8 gol (10-2). Seiring hanya finis runner-up grup, United harus melewati babak playoff knockout.

Sebelum melangkah ke 16 besar seperti yang dicapai La Real, United harus berjibaku mengalahkan klub-klub ”buangan” dari fase grup Liga Champions.

Opsi lawan United, antara lain, AFC Ajax, Bayer Leverkusen, FC Barcelona, Sporting CP, Red Bull Salzburg, Shakhtar Donetsk, Sevilla, dan Juventus.

Di antara delapan tim tersebut, menghadapi Barca merupakan laga yang paling tidak diharapkan terjadi di 16 besar.

”Saya berharap United terhindar dari Barca yang pasti menyajikan laga sangat sulit,’’ ucap mantan gelandang United Owen Hargreaves dalam analisisnya untuk BT Sport.

Hargreaves juga tidak mengesampingkan Sevilla yang kini ditangani pelatih top Argentina Jorge Sampaoli.

”Sejujurnya, tidak ada yang mudah. Sporting pun bersaing hebat dengan Tottenham Hotspur. Tapi, pada akhirnya, saya masih berpikir bahwa United tetap favorit melawan tim mana pun, asal jangan Barca,” imbuh Hargreaves.

Faktanya, bukan hanya Barca, klub-klub Spanyol lain juga memiliki rekam jejak menyulitkan bagi United. Terutama dalam performanya di Liga Europa.

Dua musim lalu misalnya. Ambisi United merengkuh juara Liga Europa dikandaskan Villarreal CF dalam final yang berakhir dengan adu penalti 10-11 (1-1 di Stadion Gdansk).

Begitu pula di balik kegagalan menembus final Liga Europa 2019–2020. Langkah The Red Devils diakhiri Sevilla di semifinal dengan kekalahan 1-2 dalam laga berformat single match karena pandemi Covid-19.

Momok klub Spanyol sejatinya sudah dimulai sejak debut United di Liga Europa musim 2011–2012. Di 16 besar, langkah United dihentikan Athletic Bilbao yang menang sekaligus dalam dua leg.

Untuk Barca, United beberapa kali takluk ketika bersua dalam fase knockout di Liga Champions. Antara lain, dua kali keok dalam final edisi 2009 dan 2011.

The Red Devils juga menyerah di perempat final 2018–2019. Musim lalu, langkah United di 16 besar Liga Champions pun terhenti oleh Atletico Madrid.

La Real yang dua kali dihadapi skuad asuhan Erik ten Hag di Liga Europa musim ini pun terbilang merepotkan.

Berbicara kepada MUTV, Ten Hag menilai anak asuhnya gagal mendapatkan tiket bye ke 16 besar karena memang tidak lebih baik dari La Real.

’’Kalian tidak selalu mendapatkan apa yang selayaknya kalian dapatkan. Itulah sepak bola,’’ tutur Ten Hag.

”Tetapi, hari ini (kemarin, Red) kami mampu memenangkan pertandingan dan itu membuat saya senang,” sambung Ten Hag yang juga punya kans menghadapi mantan klubnya, Ajax, di playoff knockout.

Pandit sekaligus mantan striker timnas Inggris Chris Sutton menilai performa United selama fase grup Liga Europa tidak cukup untuk bersaing dengan Barca maupun klub limpahan dari Liga Champions lainnya.

’’Bahkan, kalau melihat penampilan mereka (lawan La Real kemarin dini hari WIB, Red), saya pikir mereka juga tidak layak memenanginya,’’ sindir Sutton yang pernah merasakan final Piala UEFA (nama lama Liga Europa) pada 2002–2023 bersama Celtic FC.(Jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/