alexametrics
31.7 C
Jayapura
Wednesday, 25 May 2022

UMAT SETUJU? Soal Polemik Aturan Toa Masjid, MUI Mengaku Dukung Keputusan Yaqut

RADARPAPUA.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor mendukung langkah Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut terkait aturan baru penggunaan pengeras suara (toa) di masjid.

 

Sebelumnya, Menag Gus Yaqut menerbitkan Surat Edaran Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman dan Aturan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

 

Dalam SE tersebut, volume pengeras suara di masjid yang diperbolehkan dibatasi menjadi maksimum 100 dB (desibel).

 

Penggunaan pengeras suara sebelum azan hingga pemasangan yang difungsikan ke luar maupun ke dalam masjid turut diatur.

 

Menanggapi itu, Sekretaris MUI Kota Bogor, Ade Sarmili mendukung Surat Edaran (SE) Menteri Agama Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala yang dikeluarkan Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas. “Sepakat. Aturan itu bukan hal yang baru. Dari dulu sudah ada,” kata Ade Sarmili dilansir dari Beritasatu, Jumat (25/2/2022).

 

Menurutnya, niat beribadah jangan sampai mengganggu orang lain karena penggunaan pengeras suara yang tidak sesuai etika dan estetika.

Baca Juga :  Muncul Desakan Pembubaran MUI, Ini Permintaan Legislator PKS ke Pemerintah

 

“Contoh kecil misalnya pas ada pengajian, suara sound keluar sangat nyaring sementara jamaah di dalam sama sekali enggak mendengar suara dari sumber suara,” ucapnya.

 

“Makanya dari dulu DMI punya tim akustik masjid, bagaimana menyelaraskan antara suara sound dengan kemampuan mendengar jamaah dan juga melihat jangkauan serta banyaknya jamaah,” kata Ade menambahkan.

 

Untuk itu, Ade meminta masyarakat memahami secara utuh maksud dari aturan penggunaan pengeras suara di masjid dan musala tersebut. Ade khawatir informasi yang tidak utuh menimbulkan respons negatif dari masyarakat. “Yang jelas ini bagus, toleransi beragama. Dengan kemajuan teknologi saat ini, saya terus terang takut, masyarakat harus utuh menerima informasi dan tidak terprovokasi. Jangan hanya lihat video potongan yang tersebar di medsos,” tegasnya.

 

Diketahui Kementerian Agama (Kemenag) mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 5 Tahun 2022 mengenai pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musala. Surat edaran ini mengatur penggunaan waktu dan kekuatan dari pengeras suara di masjid dan musala.(pojoksatu)

RADARPAPUA.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor mendukung langkah Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut terkait aturan baru penggunaan pengeras suara (toa) di masjid.

 

Sebelumnya, Menag Gus Yaqut menerbitkan Surat Edaran Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman dan Aturan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

 

Dalam SE tersebut, volume pengeras suara di masjid yang diperbolehkan dibatasi menjadi maksimum 100 dB (desibel).

 

Penggunaan pengeras suara sebelum azan hingga pemasangan yang difungsikan ke luar maupun ke dalam masjid turut diatur.

 

Menanggapi itu, Sekretaris MUI Kota Bogor, Ade Sarmili mendukung Surat Edaran (SE) Menteri Agama Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala yang dikeluarkan Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas. “Sepakat. Aturan itu bukan hal yang baru. Dari dulu sudah ada,” kata Ade Sarmili dilansir dari Beritasatu, Jumat (25/2/2022).

 

Menurutnya, niat beribadah jangan sampai mengganggu orang lain karena penggunaan pengeras suara yang tidak sesuai etika dan estetika.

Baca Juga :  BIADAB! Keroyok dan Bunuh Tentara di Jalan Raya, Tusuk Gunakan Sajam

 

“Contoh kecil misalnya pas ada pengajian, suara sound keluar sangat nyaring sementara jamaah di dalam sama sekali enggak mendengar suara dari sumber suara,” ucapnya.

 

“Makanya dari dulu DMI punya tim akustik masjid, bagaimana menyelaraskan antara suara sound dengan kemampuan mendengar jamaah dan juga melihat jangkauan serta banyaknya jamaah,” kata Ade menambahkan.

 

Untuk itu, Ade meminta masyarakat memahami secara utuh maksud dari aturan penggunaan pengeras suara di masjid dan musala tersebut. Ade khawatir informasi yang tidak utuh menimbulkan respons negatif dari masyarakat. “Yang jelas ini bagus, toleransi beragama. Dengan kemajuan teknologi saat ini, saya terus terang takut, masyarakat harus utuh menerima informasi dan tidak terprovokasi. Jangan hanya lihat video potongan yang tersebar di medsos,” tegasnya.

 

Diketahui Kementerian Agama (Kemenag) mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 5 Tahun 2022 mengenai pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musala. Surat edaran ini mengatur penggunaan waktu dan kekuatan dari pengeras suara di masjid dan musala.(pojoksatu)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/