alexametrics
25.7 C
Jayapura
Tuesday, 24 May 2022

SELAMAT TINGGAL COVID-19! Negara-negara Ini Mulai Bersiap Masuk Fase Endemi,

RADARPAPUA.ID – Sejumlah negara mulai bersiap untuk memasuki fase endemi Covid-19.

Di antaranya seperti Amerika, Swedia, Jerman, Italia, Prancis, Swiss, Australia, Singapura, Inggris, Denmark, dan Skotlandia.

Negara-negara itu mulai bergerak menuju kebijakan kesehatan endemi. Seperti menghilangkan syarat memakai masker serta pengujian Covid-19 lainnya. Terutama untuk perjalanan udara.

Seperti Swiss sudah mengambil kebijakan membatalkan persyaratan pra-perjalanan PCR test. Tapi kebijakan ini hanya untuk pengunjung yang divaksinasi penuh. Termasuk pengunjung yang bisa membuktikan bahwa tidak lama lagi akan sembuh dari Covid boleh juga tanpa melakukan tes pra-perjalanan.

Singapura juga sekarang telah mengurangi beberapa pembatasan memasuki negara tersebut.

Sedangkan Swedia telah memutuskan mencabut persyaratan pengujian pra-entri yang sebelumnya diberlakukan terhadap semua orang, terlepas dari status vaksinasi dan negara asal mereka.

Inggris juga tidak lagi mewajibkan tes Covid-19 dan karantina untuk semua perjalanan dengan syarat vaksinasi penuh.

Pemerintah Denmark pun baru saja mengumumkan pencabutan larangan yang akang berlaku per 1 Februari 2022. Covid-19 tidak lagi digolongkan sebagai “ancaman bagi masyarakat”.

Indonesia sendiri, menurut  Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono, sudah masuk ke fase itu.

“Sekarang sebenarnya Indonesia sudah masuk fase endemi. Penularan masih ada cuma tidak membebani pelayanan kesehatan,” kata Pandu dilansir dari CNNIndonesia.com.

Hal serupa sama seperti yang ia tulis dalam unggahannya di Twitter. Ia mengklaim Indonesia telah berhasil kendalikan pandemi, dan siap masuk ke fase endemi.

Baca Juga :  Petugas SPKT Tegang, Kapolda Dapati Bayar SKCK 30 Ribu, Irjen Fadil: Pungli...

Pandu mengatakan bahwa fase endemi adalah fase di mana kasus bisa ditekan dan angka yang masuk ke rumah sakit sangat rendah, dengan tingkat kematian nol.

Hal tersebut dinilai dapat terwujud dengan adanya kekebalan tubuh. Dengan adanya kekebalan, tingkat penyakit yang ditimbulkan dari infeksi Covid-19 tidak akan parah.

“Salah satu faktor yang bisa menekan itu adalah kekebalan tubuh. Kalo semua penduduk mempunyai kekebalan, maka orang yang terinfeksi pun tidak akan bergejala atau tidak akan masuk rumah sakit, atau tidak akan menjadi berat apalagi meninggal,” kata Pandu.

“Itu manfaat vaksin, vaksin apa pun,” tambahnya.

Selain itu, sebagian orang Indonesia sudah terinfeksi virus Covid-19 yang juga menumbuhkan kekebalan tubuh.

“Kedua, orang Indonesia sebagian sudah mendapat vaksinasi alam, jadi mereka sudah terinfeksi, kalo orang yang sudah terinfeksi dan menjadi penyintas maka mereka akan mempunyai kekebalan,” ujar Pandu.

Lalu ketika orang yang terinfeksi mendapatkan suntikan vaksinasi, kekebalan yang tumbuh akan menjadi berlipat ganda dan menghasilkan hybrid immunity.

“Orang yang penyintas divaksinasi lagi, dua kali, itu disebut hybrid immunity. Jadi kekebalan hasil dari vaksinasi alamiah dan injeksi vaksin yang dibuat oleh ilmu pengetahuan,” tutur Pandu.

“Dan itu kadar antibodinya sangat tinggi,” imbuhnya. (CNN Indonesia)

RADARPAPUA.ID – Sejumlah negara mulai bersiap untuk memasuki fase endemi Covid-19.

Di antaranya seperti Amerika, Swedia, Jerman, Italia, Prancis, Swiss, Australia, Singapura, Inggris, Denmark, dan Skotlandia.

Negara-negara itu mulai bergerak menuju kebijakan kesehatan endemi. Seperti menghilangkan syarat memakai masker serta pengujian Covid-19 lainnya. Terutama untuk perjalanan udara.

Seperti Swiss sudah mengambil kebijakan membatalkan persyaratan pra-perjalanan PCR test. Tapi kebijakan ini hanya untuk pengunjung yang divaksinasi penuh. Termasuk pengunjung yang bisa membuktikan bahwa tidak lama lagi akan sembuh dari Covid boleh juga tanpa melakukan tes pra-perjalanan.

Singapura juga sekarang telah mengurangi beberapa pembatasan memasuki negara tersebut.

Sedangkan Swedia telah memutuskan mencabut persyaratan pengujian pra-entri yang sebelumnya diberlakukan terhadap semua orang, terlepas dari status vaksinasi dan negara asal mereka.

Inggris juga tidak lagi mewajibkan tes Covid-19 dan karantina untuk semua perjalanan dengan syarat vaksinasi penuh.

Pemerintah Denmark pun baru saja mengumumkan pencabutan larangan yang akang berlaku per 1 Februari 2022. Covid-19 tidak lagi digolongkan sebagai “ancaman bagi masyarakat”.

Indonesia sendiri, menurut  Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono, sudah masuk ke fase itu.

“Sekarang sebenarnya Indonesia sudah masuk fase endemi. Penularan masih ada cuma tidak membebani pelayanan kesehatan,” kata Pandu dilansir dari CNNIndonesia.com.

Hal serupa sama seperti yang ia tulis dalam unggahannya di Twitter. Ia mengklaim Indonesia telah berhasil kendalikan pandemi, dan siap masuk ke fase endemi.

Baca Juga :  Omicron Mengancam, Menkes Minta Masyarakat Jangan Pilih-pilih Vaksin

Pandu mengatakan bahwa fase endemi adalah fase di mana kasus bisa ditekan dan angka yang masuk ke rumah sakit sangat rendah, dengan tingkat kematian nol.

Hal tersebut dinilai dapat terwujud dengan adanya kekebalan tubuh. Dengan adanya kekebalan, tingkat penyakit yang ditimbulkan dari infeksi Covid-19 tidak akan parah.

“Salah satu faktor yang bisa menekan itu adalah kekebalan tubuh. Kalo semua penduduk mempunyai kekebalan, maka orang yang terinfeksi pun tidak akan bergejala atau tidak akan masuk rumah sakit, atau tidak akan menjadi berat apalagi meninggal,” kata Pandu.

“Itu manfaat vaksin, vaksin apa pun,” tambahnya.

Selain itu, sebagian orang Indonesia sudah terinfeksi virus Covid-19 yang juga menumbuhkan kekebalan tubuh.

“Kedua, orang Indonesia sebagian sudah mendapat vaksinasi alam, jadi mereka sudah terinfeksi, kalo orang yang sudah terinfeksi dan menjadi penyintas maka mereka akan mempunyai kekebalan,” ujar Pandu.

Lalu ketika orang yang terinfeksi mendapatkan suntikan vaksinasi, kekebalan yang tumbuh akan menjadi berlipat ganda dan menghasilkan hybrid immunity.

“Orang yang penyintas divaksinasi lagi, dua kali, itu disebut hybrid immunity. Jadi kekebalan hasil dari vaksinasi alamiah dan injeksi vaksin yang dibuat oleh ilmu pengetahuan,” tutur Pandu.

“Dan itu kadar antibodinya sangat tinggi,” imbuhnya. (CNN Indonesia)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/