alexametrics
26.7 C
Jayapura
Saturday, 21 May 2022

9 Pelaku Usaha Tahu Belum Kelola Air Limbah secara Bertanggungjawab

MANOKWARI — Sebanyak sembilan (9) pelaku usaha Tahu di dalam Kota Manokwari diketahui belum melakukan pengelolaan air limbah secara bertanggungjawab. Hal ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Manokwari melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Pertanahan.

DLH dan Pertanahan  Kabupaten Manokwari melalui Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati, Seksi Pengendalian Pencemaran melakukan pemantauan pengendalian pencemaran selama dua hari, Jumat dan Sabtu (7-8/5/21).

Sakur Efendi, salah satu pelaku usaha Tahu yang telah menggeluti usaha ini sejak tahun 1998 yang berada di Jalan Pasir Manokwari mengakui, air limbah dari hasil pengolahan tahu langsung di buang ke aliran air (kali) yang ada bersebelahan dengan pabrik dan semua menuju ke Pantai Wosi.

“Kami sampai saat ini juga belum memiliki SPPL, sehingga saat d sampaikan terkait pembuataan SPPL yang gratis dan mudah, Kami akan segera mengurus surat dan dokumen yang dimaksud,” seru Efendi.

Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran, Miranti Iba, mengatakan, tahun 2021 ini Pemerintah Kabupaten Manokwari, melalui DLH dan Pertanahan memberikan dukungan bantuan pengadaan Instalasi Pengelolaan Air Limbah  (IPAL) Domestik kepada dua (2) pelaku usaha Tahu sehingga perlu dilakukan survey awal terhadap semua pelaku usaha tahu/tempe. Pelaku usaha Tahu pun harus memiliki Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) maupun lahan yang tersedia dan jumlah produksi serta persyaratan lainnya sebagai pendukung pemberian IPAL Domestik.

“Pemantauan ini dilakukan karena dalam pengelolaan tahu selain adanya pencemaran bau dan air serta ada menggunakan cuka, atau asam asetat, yaitu senyawa kimia asam organik yang digunakan untuk menambah rasa asam dan aroma ke dalam makanan,” kata Miranti.

Lanjut dikatakan Miranti, cuka dapat digunakan pada makanan karena termasuk dalam kategori asam asetat cair, yang tidak berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah sedikit. Asam asetat cair lebih aman untuk digunakan, sedangkan yang pekat memiliki bahaya cukup mengkhawatirkan, dampaknya bisa menyebabkan beberapa ganggungan.

“Misalnya masalah pencernaan, hingga meningkatnya keasaman darah yang bisa berujung pada kematian,” imbuh Miranti.

Baca Juga :  DPP IKA Unipa Galakan Pendataan Anggota

Yohanes Ada’ Lebang, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati, DLH dan Pertanahan Kabupaten Manokwari, menjelaskan, dari hasil kunjungan, selain air limbah yang belum terkelola secara baik dengan penggunaan asam cuka (koagulan/penggumpal) masih dibuang langsung ke kali dan laut. Selain itu, sebagian besar belum memiliki SPPL, adanya penggunaan air untuk pembuatan tahu yang berasal dari sumur bor/air tangki, untuk dua (2) tahun terakhir belum dilakukan pengambilan sampel airnya oleh Dinas Kesehatan yang sebelumnya sering dilakukan. Harga bahan baku pun memengaruhi produksi. Pasalnya, tingginya harga kedelai saat ini sebesar Rp 11.700, (dari Surabaya)- yang terus menaik cukup memberatkan para pelaku usaha Tahu/Tempe dengan harga jual Tahu saat ini sebesar Rp 2.500/potong, terlebih dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini.

“Kedepan melalui Bidang Pengendalian Pencemaran akan terus mendorong adanya pembinaan kepada pelaku usaha Tahu. Tidak hanya pengadaan IPAL Domestik saja tetapi dukungan teknologi pengelolaan tahu yang lebih baik dan layak dari kondisi saat ini, sehingga menjamin produksi tahu yang higienis dan mampu meningkatkan taraf pendapatan pelaku usaha serta mampu menciptakan peluang usaha yang menjanjikan. Pasalnya, tahu kaya akan protein, zat besi, kalsium dan rendah sodium, kolesterol dan kalori. Selain itu, tahu juga memiliki kelebihan yaitu kandungan lemak jenuh yang rendah yang diminati konsumen,” jelas Lebang.

Selain itu, diharapkan melalui dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari, Provinsi Bapua Barat, maupun Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  dapat menghadirkan alat pemantau kualitas air otomatis untuk menjaga kualitas air di Kabupaten Manokwari terus terpantau pada tahun 2022 sebagai upaya mitigasi (pencegahan) terhadap pencemaran air yang terjadi khususnya untuk kawasan pantai dan pesisir.

Semua hasil yang diperoleh akan dirapatkan bersama dan dilaporkan kepada pimpinan sehingga bantuan yang diberikan nantinya diharapkan tepat sasaran dan bermanfaat dalam menggairahkan serta meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga menuju kemandirian financial, imbuh Lebang. (ris/xlo)

MANOKWARI — Sebanyak sembilan (9) pelaku usaha Tahu di dalam Kota Manokwari diketahui belum melakukan pengelolaan air limbah secara bertanggungjawab. Hal ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Manokwari melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Pertanahan.

DLH dan Pertanahan  Kabupaten Manokwari melalui Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati, Seksi Pengendalian Pencemaran melakukan pemantauan pengendalian pencemaran selama dua hari, Jumat dan Sabtu (7-8/5/21).

Sakur Efendi, salah satu pelaku usaha Tahu yang telah menggeluti usaha ini sejak tahun 1998 yang berada di Jalan Pasir Manokwari mengakui, air limbah dari hasil pengolahan tahu langsung di buang ke aliran air (kali) yang ada bersebelahan dengan pabrik dan semua menuju ke Pantai Wosi.

“Kami sampai saat ini juga belum memiliki SPPL, sehingga saat d sampaikan terkait pembuataan SPPL yang gratis dan mudah, Kami akan segera mengurus surat dan dokumen yang dimaksud,” seru Efendi.

Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran, Miranti Iba, mengatakan, tahun 2021 ini Pemerintah Kabupaten Manokwari, melalui DLH dan Pertanahan memberikan dukungan bantuan pengadaan Instalasi Pengelolaan Air Limbah  (IPAL) Domestik kepada dua (2) pelaku usaha Tahu sehingga perlu dilakukan survey awal terhadap semua pelaku usaha tahu/tempe. Pelaku usaha Tahu pun harus memiliki Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) maupun lahan yang tersedia dan jumlah produksi serta persyaratan lainnya sebagai pendukung pemberian IPAL Domestik.

“Pemantauan ini dilakukan karena dalam pengelolaan tahu selain adanya pencemaran bau dan air serta ada menggunakan cuka, atau asam asetat, yaitu senyawa kimia asam organik yang digunakan untuk menambah rasa asam dan aroma ke dalam makanan,” kata Miranti.

Lanjut dikatakan Miranti, cuka dapat digunakan pada makanan karena termasuk dalam kategori asam asetat cair, yang tidak berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah sedikit. Asam asetat cair lebih aman untuk digunakan, sedangkan yang pekat memiliki bahaya cukup mengkhawatirkan, dampaknya bisa menyebabkan beberapa ganggungan.

“Misalnya masalah pencernaan, hingga meningkatnya keasaman darah yang bisa berujung pada kematian,” imbuh Miranti.

Baca Juga :  DPP IKA Unipa Galakan Pendataan Anggota

Yohanes Ada’ Lebang, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati, DLH dan Pertanahan Kabupaten Manokwari, menjelaskan, dari hasil kunjungan, selain air limbah yang belum terkelola secara baik dengan penggunaan asam cuka (koagulan/penggumpal) masih dibuang langsung ke kali dan laut. Selain itu, sebagian besar belum memiliki SPPL, adanya penggunaan air untuk pembuatan tahu yang berasal dari sumur bor/air tangki, untuk dua (2) tahun terakhir belum dilakukan pengambilan sampel airnya oleh Dinas Kesehatan yang sebelumnya sering dilakukan. Harga bahan baku pun memengaruhi produksi. Pasalnya, tingginya harga kedelai saat ini sebesar Rp 11.700, (dari Surabaya)- yang terus menaik cukup memberatkan para pelaku usaha Tahu/Tempe dengan harga jual Tahu saat ini sebesar Rp 2.500/potong, terlebih dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini.

“Kedepan melalui Bidang Pengendalian Pencemaran akan terus mendorong adanya pembinaan kepada pelaku usaha Tahu. Tidak hanya pengadaan IPAL Domestik saja tetapi dukungan teknologi pengelolaan tahu yang lebih baik dan layak dari kondisi saat ini, sehingga menjamin produksi tahu yang higienis dan mampu meningkatkan taraf pendapatan pelaku usaha serta mampu menciptakan peluang usaha yang menjanjikan. Pasalnya, tahu kaya akan protein, zat besi, kalsium dan rendah sodium, kolesterol dan kalori. Selain itu, tahu juga memiliki kelebihan yaitu kandungan lemak jenuh yang rendah yang diminati konsumen,” jelas Lebang.

Selain itu, diharapkan melalui dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari, Provinsi Bapua Barat, maupun Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  dapat menghadirkan alat pemantau kualitas air otomatis untuk menjaga kualitas air di Kabupaten Manokwari terus terpantau pada tahun 2022 sebagai upaya mitigasi (pencegahan) terhadap pencemaran air yang terjadi khususnya untuk kawasan pantai dan pesisir.

Semua hasil yang diperoleh akan dirapatkan bersama dan dilaporkan kepada pimpinan sehingga bantuan yang diberikan nantinya diharapkan tepat sasaran dan bermanfaat dalam menggairahkan serta meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga menuju kemandirian financial, imbuh Lebang. (ris/xlo)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/