alexametrics
29.7 C
Jayapura
Friday, 20 May 2022

Warga Pulau Nusmapi Berharap Program PEN Mangrove Terealisasi

MANOKWARI — Setelah meninjau pesisir Pantai Distrik Manokwari Selatan, Tim Survey Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Mangrove Tahun 2021 di Kabupaten Manokwari, kembali melanjutkan Survey di Pesisir Pantai Pulau Nusmapi/Lemon dan Pulau Mansinam, Kampung Mansinam Distrik Manokwari Timur, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, Sabtu, (29/5/21). Survey ini terkait hutan mangrove yang jadi salah satu kebutuhan warga di pesisir pantai.

Kepala Seksi Program DASHL Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Remu Ransiki, Bayu Adrian Victorino, menjelaskan, PEN merupakan program padat karya yang akan dikerjakan langsung masyarakat sejak pembibitan, penanaman hingga perawatannya serta diharapkan dapat membantu ekonomi warga khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19.  Kegiatan ini difasilitasi atau dilaksanakan selama 1 (satu) tahun saja, oleh sebab itu dukungan serta partisipasi pemilik hak ulayat maupun warga setempat menjadi penting dalam terealisainya Program PEN 2021 ini di Pulau Nusmapi.

“Hasil survey ini akan dikaji lebih lanjut untuk apakah dapat direalisasikan atau tidak. Pasalnya, akan mempertimbangkan faktor kesesuaian jenis mangrove berdasarkan informasi masyarakat dan pengamatan lapangan, keberadaan substrat eksisting, ombak, aktivitas perahu masyarakat (transport maupun mencari ikan) serta yang tidak kalah penting adalah dukungan dari pemilik ulayat. Selanjutnya koordinasi dan komunikasi akan terus dilakukan secara berkesinambungan melalui DLH Kabupaten Manokwari. Berdasarkan survey yang dilakukan, pelaksanaan kegiatan akan menggunakan pola rumpun berjarak sehingga nantinya dapat mengurangi hempasan ombak penyebab abrasi yang selama ini terjadi dan dikeluhkan warga” tutur Bayu.

Yohanes Ada’ Lebang, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati, Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Manokwari, menjelaskan, setelah survey yang dilakukan dalam merealisasikan Program PEN Mangrove Tahun 2021, oleh BPDASHL Remu Ransiki, Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dapat direalisasikan untuk ‘menghijaukan’ pesisir pantai Manokwari dan secara bertahap di tahun-tahun yang akan datang dapat ditingkatkan.

Baca Juga :  Tahun Ini Bangun BLK, Pemkab Manokwari Alokasikan Rp 3,7 M

“Untuk itu kesiapan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat khususnya pemilik hak ulayat dapat mendukung program ini. Selanjutnya, jika diakomodir program ini pada pesisir pantai yang telah dilakukan survey, maka semua masyarakat yang terlibat untuk mempersiapkan bibit tanaman sejak dini dari potensi yang dimiliki maupun akan diupayakan dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan nantinya,” jelas Lebang.

“Targetnya, maksimal pada Agustus sudah berakhir penanaman di semua titik yang telah ditentukan nantinya, sehingga di akhir tahun kita sudah melihat hasilnya, semoga semua ini menjadi kerinduan dan mimpi bersama dapat terwujud,” lanjut Lebang.

Sedangkan, Ketua RT 002 Pulau Nusmapi/Lemon, Kampung Mansinam, Distrik Manokwari Timur, Yohanes Mofu, menuturkan, sejak dulu sekitar tahun 1974 pernah ada hutan mangrove di pulau ini,  tapi adanya gelombang dan arus sehingga tanaman Mangrove tidak pernah dapat bertahan tumbuh dan berkembang sampai saat ini.

“Kehadiran Hutan Mangrove sangat penting sekali untuk kehidupan warga, sebagai sumber pemenuhan kebutuhan keluarga sehari-hari diantaranya, seperti adanya ketersediaan ikan, lebih dari itu sebagai bahan tiang bangunan rumah. Untuk itu, kami sangat membutuhkan program PEN Mangrove dapat masuk di Kampung Nusmapi,” harap Mofu. (ris/xlo)

MANOKWARI — Setelah meninjau pesisir Pantai Distrik Manokwari Selatan, Tim Survey Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Mangrove Tahun 2021 di Kabupaten Manokwari, kembali melanjutkan Survey di Pesisir Pantai Pulau Nusmapi/Lemon dan Pulau Mansinam, Kampung Mansinam Distrik Manokwari Timur, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, Sabtu, (29/5/21). Survey ini terkait hutan mangrove yang jadi salah satu kebutuhan warga di pesisir pantai.

Kepala Seksi Program DASHL Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Remu Ransiki, Bayu Adrian Victorino, menjelaskan, PEN merupakan program padat karya yang akan dikerjakan langsung masyarakat sejak pembibitan, penanaman hingga perawatannya serta diharapkan dapat membantu ekonomi warga khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19.  Kegiatan ini difasilitasi atau dilaksanakan selama 1 (satu) tahun saja, oleh sebab itu dukungan serta partisipasi pemilik hak ulayat maupun warga setempat menjadi penting dalam terealisainya Program PEN 2021 ini di Pulau Nusmapi.

“Hasil survey ini akan dikaji lebih lanjut untuk apakah dapat direalisasikan atau tidak. Pasalnya, akan mempertimbangkan faktor kesesuaian jenis mangrove berdasarkan informasi masyarakat dan pengamatan lapangan, keberadaan substrat eksisting, ombak, aktivitas perahu masyarakat (transport maupun mencari ikan) serta yang tidak kalah penting adalah dukungan dari pemilik ulayat. Selanjutnya koordinasi dan komunikasi akan terus dilakukan secara berkesinambungan melalui DLH Kabupaten Manokwari. Berdasarkan survey yang dilakukan, pelaksanaan kegiatan akan menggunakan pola rumpun berjarak sehingga nantinya dapat mengurangi hempasan ombak penyebab abrasi yang selama ini terjadi dan dikeluhkan warga” tutur Bayu.

Yohanes Ada’ Lebang, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati, Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Manokwari, menjelaskan, setelah survey yang dilakukan dalam merealisasikan Program PEN Mangrove Tahun 2021, oleh BPDASHL Remu Ransiki, Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dapat direalisasikan untuk ‘menghijaukan’ pesisir pantai Manokwari dan secara bertahap di tahun-tahun yang akan datang dapat ditingkatkan.

Baca Juga :  Pembangunan Berkelanjutan, Hutan Mangrove Butuh Sentuhan Bersama

“Untuk itu kesiapan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat khususnya pemilik hak ulayat dapat mendukung program ini. Selanjutnya, jika diakomodir program ini pada pesisir pantai yang telah dilakukan survey, maka semua masyarakat yang terlibat untuk mempersiapkan bibit tanaman sejak dini dari potensi yang dimiliki maupun akan diupayakan dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan nantinya,” jelas Lebang.

“Targetnya, maksimal pada Agustus sudah berakhir penanaman di semua titik yang telah ditentukan nantinya, sehingga di akhir tahun kita sudah melihat hasilnya, semoga semua ini menjadi kerinduan dan mimpi bersama dapat terwujud,” lanjut Lebang.

Sedangkan, Ketua RT 002 Pulau Nusmapi/Lemon, Kampung Mansinam, Distrik Manokwari Timur, Yohanes Mofu, menuturkan, sejak dulu sekitar tahun 1974 pernah ada hutan mangrove di pulau ini,  tapi adanya gelombang dan arus sehingga tanaman Mangrove tidak pernah dapat bertahan tumbuh dan berkembang sampai saat ini.

“Kehadiran Hutan Mangrove sangat penting sekali untuk kehidupan warga, sebagai sumber pemenuhan kebutuhan keluarga sehari-hari diantaranya, seperti adanya ketersediaan ikan, lebih dari itu sebagai bahan tiang bangunan rumah. Untuk itu, kami sangat membutuhkan program PEN Mangrove dapat masuk di Kampung Nusmapi,” harap Mofu. (ris/xlo)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/