alexametrics
25.7 C
Jayapura
Monday, 8 August 2022

Indonesia Tetap Akomodasi Israel di Piala Dunia U-20, PSSI Minta Sepak Bola Dipisahkan dari Politik

RADARPAPUA.ID– Belum juga pergelaran megah Piala Dunia U-20 dimulai, PSSI dan pemerintah Indonesia sudah dihadapkan pada situasi rumit. Yaitu, gelombang penolakan kehadiran timnas Israel sebagai salah satu peserta di ajang yang bakal dipentaskan 20 Mei–11 Juni 2023 itu.

Israel menggenggam tiket putaran final Piala Dunia U-20 2023 setelah menjadi runner-up grup B Piala Eropa U-19 2020 dengan perolehan 4 poin. Yakni, hasil dari menang atas Austria, imbang saat melawan Serbia, dan kalah oleh Inggris.

Sikap penolakan Indonesia terhadap Israel bukan kali ini saja. Sikap tegas serupa pernah terjadi pada 1957. Tepatnya saat Indonesia mengikuti kualifikasi Piala Dunia 1958. Saat itu, Indonesia berada satu grup dengan Taiwan, Tiongkok, dan Australia. Namun, Indonesia berhasil lolos dari babak pertama setelah Taiwan mengundurkan diri. Tiongkok juga berhasil lolos dari fase pertama setelah Australia mengikuti jejak Taiwan.

Di subgrup 1, tepatnya pada 12 Mei 1957, Indonesia bertanding melawan Tiongkok di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Dalam pertandingan itu, Indonesia menang 2-0. Lalu, Tiongkok berhasil mengalahkan Indonesia saat pertandingan leg kedua digelar di Beijing pada 2 Juni 1957. Saat itu, gantian Tiongkok menang 4-3. Atas hasil tersebut, Indonesia dan Tiongkok memainkan babak playoff yang berlangsung di Rangoon, Myanmar, pada 23 Juni 1957.

Dalam pertandingan di venue netral tersebut, Indonesia sukses menahan imbang Tiongkok dengan skor 0-0. Indonesia akhirnya lolos ke babak kedua karena unggul agregat gol. Nah, pada putaran kedua itulah, hasil drawing mempertemukan Indonesia dengan Israel. Pertemuan tersebut menghadirkan drama. Indonesia memutuskan menolak bertanding dan mengundurkan diri. Sikap tegas itu merupakan instruksi langsung Presiden Indonesia Soekarno. Alasannya, jika bertanding melawan Israel, Indonesia sama saja mengakui kedaulatan Israel.

Israel sempat meminta pertandingan melawan Indonesia digelar dua leg: Di Jakarta dan Tel Aviv. Namun, permintaan itu ditolak FIFA. PSSI juga menginginkan pertandingan digelar di tempat netral. Namun, permintaan tersebut juga ditolak FIFA. Induk organisasi sepak bola dunia itu akhirnya memutuskan Israel menang WO. Dengan demikian, Israel berhak melaju ke babak ketiga. Dan, pada babak ketiga, Israel bertemu Sudan. Namun, Sudan memilih untuk mengikuti langkah Indonesia. Israel pun akhirnya melaju ke babak selanjutnya.

Namun, FIFA enggan melihat Israel melangkah ke putaran final Piala Dunia 1958 tanpa menendang bola sekali pun. Akhirnya, FIFA memutuskan Israel bertemu dengan Wales yang berada di posisi kesembilan klasemen kualifikasi Piala Dunia 1958 zona Eropa. Israel dan Wales akhirnya bertemu dalam dua leg. Leg pertama dimainkan pada 15 Januari 1958 di Ramat Gan. Saat itu, Israel yang bertindak sebagai tuan rumah kalah oleh Wales 0-2. Lalu, pada leg kedua di Cardiff, 5 Februari 1958, Wales menang 2-0. Wales akhirnya berhak tampil di putaran final Piala Dunia 1958 di Swedia.

Saat ini Indonesia kembali mengalami deja vu atas lolosnya Israel ke putaran final Piala Dunia U-20 2023. Namun, PSSI tetap akan mengakomodasi kehadiran Israel di Indonesia. Meski, federasi sepak bola Indonesia itu tahu gejolak bakal terjadi. Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi menegaskan, semua negara berhak bermain di Piala Dunia U-20. ”Soal Israel, sudah ada tanda tangan agreement pemerintah tahun lalu. Jadi, siapa pun yang lolos bisa datang ke Indonesia. Termasuk Israel. Mereka akan tetap kami akomodasi,” ujarnya.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menuturkan, lolosnya Israel ke Indonesia harus diterima dan difasilitasi dengan baik. ”Ini olahraga ya. Ada yang mengatur. Pertandingan sepak bola diatur oleh FIFA. Sehingga setiap negara yang mau menjadi tuan rumah diminta pengertiannya,’’ katanya saat diwawancarai di gedung Kemenpora kemarin.

Zainudin menuturkan, untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, sejak awal disyaratkan memiliki jaminan pemerintah. Untuk memastikan siapa saja negara yang lolos dan berhak tampil di negara tuan rumah. Selain itu, pihaknya akan mematuhi peraturan FIFA. Sebab, yang menentukan setiap negara boleh bermain atau tidak itu adalah FIFA. ”Kita sebagai tuan rumah harus ikuti apa yang digariskan oleh FIFA.

Apalagi, Indonesia sudah mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah. Salah satu konsekuensinya adalah kesiapan untuk menampung negara mana saja yang lolos. Oleh sebab itu, menurut dia, masalah tersebut sudah sangat jelas. ”FIFA dan PSSI pasti sama. Kami menjadikan pertandingan ini adalah bagian dari olahraga yang tidak tercampur oleh hal lain,’’ paparnya.

Lantas, apakah ada imbauan untuk bermain di Bali agar lebih kondusif? Untuk itu, Zainudin memercayakan sepenuhnya kepada pihak keamanan. ”Saya kira namanya main di Indonesia ya di mana saja. Dari 2019 sudah bahas itu. Kementerian Luar Negeri menyampaikan karena ketentuan FIFA tidak bisa tolak,’’ ujarnya.

Menurut dia, jika nanti Israel tidak bisa bermain, hal itu akan merusak kepercayaan dunia kepada Indonesia. Dalam hal ini, National Olympic Committee dan lembaga internasional lainnya. ”Bukan hanya itu (kans bidding Olimpiade), hal-hal lain yang berkaitan dengan menjadi tuan rumah dan ada negara lain menjadi peserta bakal menjadi pertimbangan,’’ katanya. (fiq/raf/c6/cak/jawapos)

RADARPAPUA.ID– Belum juga pergelaran megah Piala Dunia U-20 dimulai, PSSI dan pemerintah Indonesia sudah dihadapkan pada situasi rumit. Yaitu, gelombang penolakan kehadiran timnas Israel sebagai salah satu peserta di ajang yang bakal dipentaskan 20 Mei–11 Juni 2023 itu.

Israel menggenggam tiket putaran final Piala Dunia U-20 2023 setelah menjadi runner-up grup B Piala Eropa U-19 2020 dengan perolehan 4 poin. Yakni, hasil dari menang atas Austria, imbang saat melawan Serbia, dan kalah oleh Inggris.

Sikap penolakan Indonesia terhadap Israel bukan kali ini saja. Sikap tegas serupa pernah terjadi pada 1957. Tepatnya saat Indonesia mengikuti kualifikasi Piala Dunia 1958. Saat itu, Indonesia berada satu grup dengan Taiwan, Tiongkok, dan Australia. Namun, Indonesia berhasil lolos dari babak pertama setelah Taiwan mengundurkan diri. Tiongkok juga berhasil lolos dari fase pertama setelah Australia mengikuti jejak Taiwan.

Di subgrup 1, tepatnya pada 12 Mei 1957, Indonesia bertanding melawan Tiongkok di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Dalam pertandingan itu, Indonesia menang 2-0. Lalu, Tiongkok berhasil mengalahkan Indonesia saat pertandingan leg kedua digelar di Beijing pada 2 Juni 1957. Saat itu, gantian Tiongkok menang 4-3. Atas hasil tersebut, Indonesia dan Tiongkok memainkan babak playoff yang berlangsung di Rangoon, Myanmar, pada 23 Juni 1957.

Dalam pertandingan di venue netral tersebut, Indonesia sukses menahan imbang Tiongkok dengan skor 0-0. Indonesia akhirnya lolos ke babak kedua karena unggul agregat gol. Nah, pada putaran kedua itulah, hasil drawing mempertemukan Indonesia dengan Israel. Pertemuan tersebut menghadirkan drama. Indonesia memutuskan menolak bertanding dan mengundurkan diri. Sikap tegas itu merupakan instruksi langsung Presiden Indonesia Soekarno. Alasannya, jika bertanding melawan Israel, Indonesia sama saja mengakui kedaulatan Israel.

Israel sempat meminta pertandingan melawan Indonesia digelar dua leg: Di Jakarta dan Tel Aviv. Namun, permintaan itu ditolak FIFA. PSSI juga menginginkan pertandingan digelar di tempat netral. Namun, permintaan tersebut juga ditolak FIFA. Induk organisasi sepak bola dunia itu akhirnya memutuskan Israel menang WO. Dengan demikian, Israel berhak melaju ke babak ketiga. Dan, pada babak ketiga, Israel bertemu Sudan. Namun, Sudan memilih untuk mengikuti langkah Indonesia. Israel pun akhirnya melaju ke babak selanjutnya.

Namun, FIFA enggan melihat Israel melangkah ke putaran final Piala Dunia 1958 tanpa menendang bola sekali pun. Akhirnya, FIFA memutuskan Israel bertemu dengan Wales yang berada di posisi kesembilan klasemen kualifikasi Piala Dunia 1958 zona Eropa. Israel dan Wales akhirnya bertemu dalam dua leg. Leg pertama dimainkan pada 15 Januari 1958 di Ramat Gan. Saat itu, Israel yang bertindak sebagai tuan rumah kalah oleh Wales 0-2. Lalu, pada leg kedua di Cardiff, 5 Februari 1958, Wales menang 2-0. Wales akhirnya berhak tampil di putaran final Piala Dunia 1958 di Swedia.

Saat ini Indonesia kembali mengalami deja vu atas lolosnya Israel ke putaran final Piala Dunia U-20 2023. Namun, PSSI tetap akan mengakomodasi kehadiran Israel di Indonesia. Meski, federasi sepak bola Indonesia itu tahu gejolak bakal terjadi. Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi menegaskan, semua negara berhak bermain di Piala Dunia U-20. ”Soal Israel, sudah ada tanda tangan agreement pemerintah tahun lalu. Jadi, siapa pun yang lolos bisa datang ke Indonesia. Termasuk Israel. Mereka akan tetap kami akomodasi,” ujarnya.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menuturkan, lolosnya Israel ke Indonesia harus diterima dan difasilitasi dengan baik. ”Ini olahraga ya. Ada yang mengatur. Pertandingan sepak bola diatur oleh FIFA. Sehingga setiap negara yang mau menjadi tuan rumah diminta pengertiannya,’’ katanya saat diwawancarai di gedung Kemenpora kemarin.

Zainudin menuturkan, untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, sejak awal disyaratkan memiliki jaminan pemerintah. Untuk memastikan siapa saja negara yang lolos dan berhak tampil di negara tuan rumah. Selain itu, pihaknya akan mematuhi peraturan FIFA. Sebab, yang menentukan setiap negara boleh bermain atau tidak itu adalah FIFA. ”Kita sebagai tuan rumah harus ikuti apa yang digariskan oleh FIFA.

Apalagi, Indonesia sudah mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah. Salah satu konsekuensinya adalah kesiapan untuk menampung negara mana saja yang lolos. Oleh sebab itu, menurut dia, masalah tersebut sudah sangat jelas. ”FIFA dan PSSI pasti sama. Kami menjadikan pertandingan ini adalah bagian dari olahraga yang tidak tercampur oleh hal lain,’’ paparnya.

Lantas, apakah ada imbauan untuk bermain di Bali agar lebih kondusif? Untuk itu, Zainudin memercayakan sepenuhnya kepada pihak keamanan. ”Saya kira namanya main di Indonesia ya di mana saja. Dari 2019 sudah bahas itu. Kementerian Luar Negeri menyampaikan karena ketentuan FIFA tidak bisa tolak,’’ ujarnya.

Menurut dia, jika nanti Israel tidak bisa bermain, hal itu akan merusak kepercayaan dunia kepada Indonesia. Dalam hal ini, National Olympic Committee dan lembaga internasional lainnya. ”Bukan hanya itu (kans bidding Olimpiade), hal-hal lain yang berkaitan dengan menjadi tuan rumah dan ada negara lain menjadi peserta bakal menjadi pertimbangan,’’ katanya. (fiq/raf/c6/cak/jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lain

/