Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Hadapi Potensi Kekeringan Kementan Pastikan Petani Tetap Bisa Berproduksi Optimal

Prisilia Rumengan • Senin, 30 Maret 2026 | 08:59 WIB

(credit: pertanian.go.id)
(credit: pertanian.go.id)

RADARPAPUA - Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau 2026 yang diprediksi berlangsung lebih panjang, yakni mulai April hingga Oktober. Upaya ini difokuskan pada pengamanan ketersediaan air serta dukungan benih guna menjaga produksi padi tetap stabil.

Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Barat memiliki luas baku lahan sawah mencapai sekitar 900.772 hektare. Posisi strategis ini membuat daerah tersebut menjadi perhatian utama dalam menjaga stabilitas produksi padi nasional, terutama di tengah ancaman perubahan iklim.

Berdasarkan prediksi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan panjang, khususnya di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah pusat bersama daerah langsung menyusun langkah strategis. Fokus utama diarahkan pada penguatan jaringan irigasi pertanian, optimalisasi sistem irigasi perpompaan, serta penyaluran bantuan pompa air kepada petani. Selain itu, optimalisasi lahan non-rawa juga menjadi bagian dari strategi untuk memastikan lahan tetap produktif.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, dalam rapat koordinasi yang digelar di Kabupaten Garut dan Bandung pada 25 Maret 2026, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi musim kemarau. Rapat tersebut turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk tim pengelolaan lahan dan air.

Dalam keterangannya, pihak dinas menyebut bahwa penguatan fungsi jaringan irigasi menjadi prioritas utama untuk memastikan distribusi air ke lahan pertanian tetap berjalan optimal. “Koordinasi ini penting agar seluruh infrastruktur irigasi bisa berfungsi maksimal saat musim kemarau berlangsung,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa ketersediaan air menjadi faktor kunci dalam menjaga produktivitas pertanian.

“Air adalah faktor utama. Karena itu, penguatan irigasi, pompanisasi, dan dukungan benih harus berjalan bersama agar petani tetap bisa berproduksi optimal,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Selain penguatan infrastruktur, pemerintah juga menyalurkan bantuan benih padi sebagai langkah menjaga produktivitas di tengah tekanan iklim. Dukungan ini diharapkan mampu membantu petani tetap menanam dan memanen meski kondisi cuaca tidak menentu.

Melalui langkah terkoordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, diharapkan ketersediaan air tetap terjaga sehingga produksi padi di Jawa Barat tidak hanya stabil, tetapi juga berpotensi meningkat. Upaya ini menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ancaman musim kemarau panjang.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#kementerian pertanian #Petani #Andi Amran Sulaiman #kekeringan