Ribuan Titik Panas Terdeteksi, BMKG Waspadai Ancaman Karhutla Saat Awal Puncak Kemarau 2026

Tina Mamangkey • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 20:26 WIB
Ilustrasi - BMKG Peringatkan Dampak El Nino Kuat, Kekeringan dan Karhutla Bayangi Indonesia hingga 2027. (freepik/jcomp)
Ilustrasi - BMKG Peringatkan Dampak El Nino Kuat, Kekeringan dan Karhutla Bayangi Indonesia hingga 2027. (freepik/jcomp)

 

RADARPAPUA - Indonesia menghadapi ancaman kemarau panjang yang berpotensi memicu kekeringan ekstrem serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino dengan kategori kuat masih akan berlangsung hingga awal kuartal pertama tahun 2027.

Kondisi tersebut diprediksi semakin menantang dengan adanya peluang aktifnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada periode September hingga Desember 2026.

Kombinasi kedua fenomena iklim tersebut berpotensi memperkuat dampak musim kemarau, terutama terhadap ketersediaan air dan potensi karhutla di sejumlah wilayah.

Menghadapi ancaman tersebut, BMKG mulai memperkuat langkah mitigasi dengan meningkatkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai daerah prioritas. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi dampak kekeringan sekaligus menekan risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan.

"BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia," ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya.

Puncak Kemarau Diprediksi Terjadi Agustus hingga September 2026

Berdasarkan data BMKG hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen dari total luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Sementara itu, sebanyak 77 ZOM atau 11,8 persen wilayah masih berada dalam periode musim hujan, sedangkan 113 ZOM atau 33,7 persen lainnya masuk kategori wilayah dengan tipe satu musim.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 dengan cakupan sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia. Setelah itu, September diprediksi menjadi periode puncak kemarau berikutnya dengan cakupan sekitar 25,41 persen wilayah.

Sebagian besar daerah diperkirakan mengalami kondisi kemarau yang lebih kering dibandingkan keadaan normal. Data BMKG mencatat sebanyak 437 ZOM atau 48,77 persen luas daratan mengalami musim kemarau dengan durasi lebih panjang dari biasanya.

Sejumlah wilayah juga telah mengalami periode Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi yang cukup panjang. Catatan HTH terlama terjadi di PRH Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang tercatat tidak mengalami hujan selama 80 hari berturut-turut.

BMKG memperkirakan hujan dengan kategori tinggi mulai kembali muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.

Ribuan Titik Panas Terpantau di Wilayah Rawan Karhutla

Kondisi kering akibat kemarau panjang turut meningkatkan potensi munculnya titik panas atau hotspot di sejumlah daerah rawan kebakaran hutan dan lahan.

Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi sebanyak 5.019 titik panas yang tersebar di wilayah Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.

Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan menjelang periode puncak kemarau pada Agustus hingga September. Beberapa wilayah yang menjadi perhatian utama antara lain Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, serta Papua Selatan.

Di Kalimantan Barat, pantauan satelit BMKG juga mulai menunjukkan adanya sebaran partikulat asap akibat aktivitas karhutla.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, berdasarkan pemantauan indeks iklim, nilai bulanan Nino 3.4 pada akhir Juni 2026 mencapai 1,56. Angka tersebut menunjukkan bahwa intensitas El Nino telah melewati ambang kategori kuat, yaitu lebih dari 1,5.

Selain itu, suhu permukaan laut di Samudra Hindia tercatat sebesar -0,387 yang menunjukkan adanya peluang berkembangnya fenomena IOD Positif.

"Namun, perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau. Meskipun El Niño terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia," jelas Ardhasena.

OMC Diperkuat untuk Cegah Dampak Kekeringan dan Karhutla

Sebagai langkah antisipasi, BMKG terus melakukan penyemaian awan melalui Operasi Modifikasi Cuaca untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang membutuhkan.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyebut pelaksanaan OMC saat ini berlangsung di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah dengan dukungan dari Kementerian Kehutanan serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Selain itu, posko OMC juga dibuka di Pekanbaru untuk mendukung pengendalian risiko karhutla di Riau serta di Bandung untuk membantu mengatasi potensi kekeringan di Jawa Barat.

"Penyemaian awan melalui OMC merupakan upaya komplementer untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan parah terjadi. Namun, ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan OMC, pemadaman titik api secara langsung di darat menjadi tumpuan utama," kata Seto.

Sepanjang 2026, BMKG telah melaksanakan 17 kali OMC untuk mitigasi karhutla di sejumlah wilayah rawan, seperti Aceh, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Selatan.

Selain mencegah dampak karhutla, operasi modifikasi cuaca juga diarahkan untuk menjaga ketersediaan air dengan membantu pengisian cadangan air di sejumlah waduk dan danau strategis.

Beberapa kawasan yang menjadi perhatian antara lain Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, DAS Brantas, serta DAS Mamasa.

Dampak Kemarau Menyentuh Pertanian hingga Kesehatan

BMKG mengimbau sektor pertanian untuk melakukan penyesuaian menghadapi keterbatasan pasokan air selama musim kemarau. Petani disarankan mengatur kembali jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.

Selain itu, pengelola sumber daya air dan sektor energi diminta memperhitungkan ketersediaan air baku serta menyesuaikan pola produksi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Dari sektor kesehatan, berkurangnya curah hujan dan memburuknya kualitas udara akibat asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi peningkatan penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, serta risiko heat-stroke akibat paparan suhu panas yang meningkat.

Meski membawa tantangan besar, kondisi kemarau juga memberikan peluang bagi beberapa sektor ekonomi.

Pelaku usaha perikanan dan tambak garam berpotensi mendapatkan keuntungan karena cuaca kering dapat mendukung peningkatan produksi garam, sementara fenomena upwelling berpotensi membantu meningkatkan hasil tangkapan ikan. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
musim kemarau 2026 karhutla puncak kemarau BMKG el nino